Memori Winning Eleven, dari Castolo hingga Roberto Carlos

Sebagai penggila sepakbola, tentu banyak dari kita yang juga menggemari gim konsol dari permainan sebelas lawan sebelas ini. Masa kecil saya sendiri diwarnai momen menyisihkan uang jajan, sesekali mengendap-endap di siang hari agar tak ketahuan Ibu guna pergi ke tempat penyewaan PlayStation 1 (PS 1) dan main gim sepakbola Winning Eleven.

Bolos? Maaf saja, saya masih tergolong murid yang lurus. Kalaupun akhirnya bolos, semuanya tak lebih dari kekhilafan belaka yang diinisiasi kawan-kawan sekelas.

Salah satu fitur yang amat kondang dari gim bikinan produsen asal Jepang, Konami, tersebut adalah Master League. Di fitur ini, kita akan berkompetisi seraya membangun tim kita sendiri dari nol. Awalnya, tim yang kita tangani akan dipenuhi pemain-pemain fiksional seperti Castolo, Espimas, Huygens, Ivarov, hingga Ximelez. Buat penggemar Master League di Winning Eleven, nama-nama itu pasti dipuja layaknya legenda.

Menyerang dari sisi kanan, bola dilambungkan oleh Espimas. Huygens menyambutnya dengan sundulan keras, tapi masih bisa dihalau penjaga gawang lawan. Namun Castolo berhasil mencocor bola muntah dan mencetak gol yang diiringi pekik komentator.

“Shuuuutttooooo!”

Gol. Penonton berdiri, sebetulnya nggak jelas juga, sih, mereka itu duduk atau berdiri. Yang pasti, bila dilihat dari televisi ukuran 14 inci, mereka seperti berjingkrak-jingkrak kegirangan. Bahkan ada yang mengibas-ngibaskan bendera raksasa.

Castolo berlari ke pojok seraya mengepalkan kedua tangan ke atas. Dari belakang, Celnili, Espimas, Huygens, Minanda, Stromer, dan Ximelez mengerubungi dan memeluk rekannya itu.

Kemenangan tersebut berbuah poin sempurna. Tak sekadar itu karena posisi di klasemen pun ikut terkatrol. Lebih menyenangkan lagi, pundi-pundi uang kita bertambah sehingga dapat membeli pemain yang diidam-idamkan demi memperkuat armada perang.

Ketika bermain Winning Eleven dahulu, saya suka sekali menggunakan pola 4-4-2 diamond. Ivarov mengisi pos penjaga gawang dan dilindungi oleh kuartet Valeny, Stromer, Dulic, dan Eddington. Sementara Celnili, Espimas, Minanda, dan Ximelez jadi motor di sektor tengah. Terakhir, duo Castolo dan Huygens saya plot sebagai pendulang gol utama.

Baca Juga:  Nostalgia Winning Eleven dan Menjadi Penggemar Liverpool

Pada masa itu, melihat Celnili menggunakan sepatu berwarna putih bikin dirinya tampak spesial karena warna sepatu tersebut terasa sakral. Saya pun mendapuk Celnili sebagai kapten. Wakilnya adalah Minanda atau Stromer.

Stromer sendiri saya jadikan sebagai pilar di belakang karena posturnya yang menjulang, punya sundulan keras meski tak terlalu cepat. Perawakannya mirip bek asal Belanda, Jaap Stam.

Sedangkan Minanda merupakan playmaker andalan di area tengah. Saya selalu membayangkan bahwa ia adalah titisan Gaizka Mendieta, aktor kunci di lini tengah Valencia.

Espimas juga tak boleh dilupakan sebab ia memiliki kekuatan tembakan yang ciamik, 18. Saya selalu mengandalkannya buat mengeksekusi sepakan bebas dari jarak jauh.

Namun dari sekian pemain yang ada, kesayangan saya dan mungkin banyak penggila Master League di Winning Eleven adalah Castolo. Penyerang trengginas yang setara Gabriel Batistuta, Ronaldo, dan Andriy Shevchenko. Saat pundi-pundi belum cukup untuk membeli pemain riil, maka dirinyalah yang jadi tumpuan mengoyak jala lawan.

Roberto Carlos sampai Ryan Giggs

Kemampuan skuad Master League yang cenderung biasa-biasa saja membuat kita selalu mengincar pemain dengan kualitas apik guna mendongkrak kapabilitas tim. Lagi pula, siapa yang tak ingin meraih titel juara dengan tim yang dibangun sendiri?

Di fase inilah, sejumlah pemain dengan nama besar menjadi incaran kita. Satu nama yang wajib dibeli dan jadi idola umat Winning Eleven adalah bek kidal asal Brasil, Roberto Carlos. Adakah dari kita yang tak mengidolakannya di Winning Eleven? Walau begitu, Carlos jarang sekali dimainkan penggemar Master League di Winning Eleven sesuai posisi aslinya.

Berbekal kecepatan luar biasa dan tendangan geledek, Carlos dialihfungsikan sebagai penyerang. Keberadaan bekas penggawa Inter Milan dan Real Madrid ini juga melambungkan strategi one-two kala serangan kita sudah mendekati gawang lawan. Lewat jurus ini, 99 persen peluang yang berhasil kita ciptakan selalu membuahkan gol. Apalagi kalau Carlos yang jadi eksekutor dari peluang tersebut. Bisa dipastikan musuh akan tiarap sembari prembik-prembik karena gawang mereka terkoyak.

Baca Juga:  Dua Nama dalam Bursa Sekjen PSSI: Syauqi Soeratno dan Viola Kurniawati

Selain Carlos, nama lain yang jadi favorit untuk dicomot adalah Tijani Babangida, Craig Bellamy, Edgar Davids, Ryan Giggs, Pavel Nedved, Ronaldo, dan Shevchenko. Nama-nama itu memiliki atribut yang persis sekali dengan Carlos, larinya cepat dan memiliki tendangan keras dengan akurasi yang mantap. Aneh rasanya kalau ada penggila Master League di Winning Eleven yang tidak menjadikan nama-nama di atas sebagai prioritas perekrutan.

Saya pun memiliki skuad dan formasi andalan jika tim Master League saya sudah dipenuhi pemain sungguhan. Gianluigi Buffon atau Francesco Toldo merupakan opsi teratas mengisi pos kiper. Celestine Babayaro, Marcos Cafu, Rio Ferdinand, Ian Harte, Paolo Maldini, Alessandro Nesta, Carlos Puyol, dan Javier Zanetti menghuni lini belakang.

Pusat permainan ditempati oleh Emerson, Giggs, Claude Makelele, Nedved, Francesco Totti, Patrick Vieira, dan Zinedine Zidane. Sementara Babangida, Batistuta, Carlos, Ronaldo dan Shevchenko jadi mesin gol di lini depan.

Salah satu syarat bermain Master League yang aman adalah memiliki memory card untuk menyimpan data permainan. Barang ini, bagi mayoritas orang cukup mewah. Saya pun bersiasat, membeli memory card baru akan menguras isi tabungan. Padahal uang jajan saya tak banyak-banyak amat. Maka membeli memory card bekas jadi opsi yang saya laksanakan. Apakah kamu begitu juga?

Di masa itu, bermain Master League di Winning Eleven adalah cara menghilangkan penat yang sangat ampuh. Melihat Castolo meliuk-liuk membawa bola dan Carlos mencetak gol-gol spektakuler dengan sepakan geledeknya adalah candu bagi kita semua.

Komentar
Moddie Alvianto Wicaksono
Staf pengajar Ilmu Komunikasi Universitas Ahmad Dahlan dan Redaktur Penerbit Fandom ID. Bisa dihubungi melalui akun Twitter @moddiealdieano