Blaise Nkufo: Legenda Kabupaten Kecil di Belanda

Banyak klub Eropa mengenang pemain legendanya dengan membuatkan patung sang pemain dan diabadikan di sekitar stadion. Hal itu dilakukan sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi pemain selama memperkuat klub.

Di Inggris contohnya, patung Dennis Bergkamp dan Thierry Henry berdiri di area Emirates Stadium. Sementara itu, patung Holy Trinity, yang terdiri dari Sir Bobby Charlton, George Best, dan Denis Law, di sekitar Old Trafford.

Tapi tak semua patung legenda klub berakhir manis. Tengok saja nasib patung Gabriel Batistuta yang dirobohkan pendukung Fiorentina sendiri selepas hijrah ke AS Roma.

Fenomena patung legenda klub ditemui pula di area stadion De Grolsch Veste. Kandang FC Twente yang terletak di Kabupaten Enschede, tempat penulis tinggal sementara. Kabupaten kecil ini terletak di sisi Belanda paling timur, berbatasan dengan Jerman.

Ada dua patung perunggu berdiri megah di salah satu sisi luar stadion. Satu patung mengangkat piala adalah Sander Boschker, seorang kiper lokal dengan lebih dari 500 penampilan.

Patung lain berpose selebrasi gol adalah Blaise Nkufo, pemain kelahiran Afrika berpaspor Swiss. Penyerang kulit hitam eks FC Twente yang mampu mengantar klub meraih Eredivisie musim 2009/2010.

Lahir dengan nama Isetsima Nkufo tanggal 25 Mei 1975 di Kinshaha, Zaire atau sekarang dikenal dengan Republik Demokratik Kongo. Krisis politik yang terjadi pada waktu itu membuat kondisi negara tidak menentu.

Pada usia tujuh tahun, Nkufo pindah ke Swiss bersama keluarganya dan menjadi warga negara di sana. Di tanah harapan baru inilah nama Blaise disematkan. Tidak mudah memulai hidup baru sebagai seorang imigran kulit hitam di Eropa.

Berbagai tindakan diskriminasi dan rasis sering diterima dari orang-orang sekelilingnya. Bagi mereka tentu sangat aneh ada anak kulit hitam berpaspor Swiss. Sampai akhirnya sepakbola menjadi pilihan Nkufo menghabiskan hari-harinya.

Karir sepakbola masa mudanya banyak dihabiskan memperkuat tim-tim lokal Swiss pada rentang tahun 1993 sampai 2001. Hanya setahun ia pernah mencoba peruntungan di Qatar bersama Al-Arabi tahun 1996/1997.

BACA JUGA:  Apa yang Terjadi dengan PT LIB?

Pada bursa musim dingin 2001 ia pindah ke Mainz 05, klub kasta kedua Jerman dengan mahar 380 ribu euro. Nkufo mencatatkan 42 pertandingan dan mencetak 20 gol dalam satu setengah musim di sana.

Pencapaian ini menarik minat klub Bundesliga, Hannover 96, untuk memboyongnya dengan tebusan 1,4 juta euro. Sayangnya Bundesliga tak begitu bersahabat. Semusim dilaluinya dengam kesempatan bermain yang minim tanpa sebiji gol pun.

Jalan menjadi seorang legenda diperolehnya ketika klub asal Hannover itu meminjamkan Nkufo ke FC Twente musim 2003/2004. Musim perdana di Eredivisie dilalui dengan gemilang, menorehkan 14 gol dari 28 penampilan.

Manajemen FC Twente kepincut dan mempermanenkan sang pemain dengan nilai transfer 600 ribu euro. Sebagai idola baru Nkufo benar-benar membuktikan dirinya sebagai penyerang andal. Enam musim berikutnya, ia selalu mengelontorkan dua digit gol di ajang Eredivisie.

Nkufo juga selalu bersaing di daftar pencetak gol terbanyak, bersanding dengan nama-nama besar seperti Mateja Kezman, Dirk Kuyt, Klaas-Jan Huntelaar, dan Luis Suárez.

Walau begitu, Nkufo belum pernah sekalipun memuncaki pencetak goal terbanyak liga, hanya sekali menjadi runner up di bawah Klaas-Jan Huntelaar. Bahkan di musim 2009/2010 capaian 12 golnya jauh di bawah penyerang baru FC Twente, Bryan Ruíz dengan 24 gol.

Namun, bersama tandem barunya di lini depan ini Nkufo mampu mempersembahkan gelar Eredivisie pertama bagi FC Twente. Tentu saja dengan disokong pemain-pemain lain, seperti Marko Arnautović, Cheick Tioté, dan sang kiper legedaris Sander Boschker.

FC Twente Juara Eredivisie 2009/2010 (sumber: fctwente.nl)

Sayangnya akhir musim itu pula Nkufo memutuskan untuk pindah, setelah membela negaranya di ajang Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Kepindahannya bukan ke klub rival ataupun klub Eropa lain, melainkan menuju Seattle Sounders FC yang berlaga di kompetisi Major League Soccer dengan status bebas transfer.

Kecintaan besar akan FC Twente membuatnya tak pernah tergoda pindah klub selama tujuh tahun masa pengabdian. Hanya alasan keluarga saja membuatnya pindah ke Seattle. Setelah sebelumnya istri dan kedua anaknya lebih dulu tinggal di Vancouver, Kanada.

BACA JUGA:  Paradoks Pesepak Bola dalam Diri Daniel Agger

Adaptasinya di kompetisi MLS berjalan normal, musim pertama dilalui dengan torehan 5 gol dari 11 pertandingan. Namun, pada awal musim kedua, semuanya berubah, Nkufo gagal mencetak gol di sejumlah pertandingan pramusim.

Bahkan, ia terlihat tidak serius ketika menjalani latihan klub. Cercaan banyak diterimanya akibat penampilannya di lapangan. Salah satu media di sana menyebut penampilan Nkufo persis seperti yang dibuat FC Twente untuknya, sebuah patung.

Berbagai dinamika ini membuatnya mengambil keputusan besar, mengakhiri kontrak dengan Seattle Sounders FC sekaligus menyatakan gantung sepatu sebagai seorang pesepakbola profesional.

Kini pemain dengan total 34 caps bersama tim nasional Swiss tersebut tinggal di Vancouver bersama keluarganya. Mengelola akademi sepakbola di sana dan di Kamerun, negara asal istrinya.

Kepada salah satu majalah sepakbola Belanda, Elfvoetbal, Nkufo menceritakan kisahnya ketika memutuskan berkarir di Amerika Serikat. Baginya semua itu dilakukan demi masa depan keluarga kecil yang dicintainya.

Pengalaman masa lalu yang pahit membuatnya ingin memberikan yang terbaik bagi keluarga. Walaupun kepindahannya dari FC Twente disesali Nkufo sebagai keputusan karir yang salah.

Ia menyesal meninggalkan tim yang sedang berada di pucak performa. Nkufo berkata bahwa seharusnya melanjutkan kontrak di sana selama beberapa musim lagi, bermain di Liga Champions, dan mengakhiri karir di klub yang dia cintai.

Situasi klub dan lingkungan Enschede yang bersahabat memang menjadikannya betah berlama-lama tinggal di sana. Kedekatannya dengan suporter, klub, dan kota itu membuatnya dibuatkan patung menjelang kepergiannya ke Amerika Serikat.

Patung seorang legenda kelahiran Zaire, berpaspor Swiss, namun berhati Tukker ala Enschede. Kisah-kisah kesetiaan Nkufo membela FC Twente selama 261 pertandingan dan kehebatannya membobol gawang musuh sebanyak 128 kali akan senantiasa diceritakan bersanding dengan patungnya. Lekker.

Komentar
Bapak rumah tangga yang bermukim sementara di Enschede, Belanda. Bisa diajak ngobrol untuk mengisi waktu luang di akun Twitter @AdityoNugroho30.