Blitzkrieg Jerman dan Benteng Romawi Italia

Prancis adalah negeri istimewa. Apalagi bagi Adolf Hitler yang sempat mendapatkan kemenangan gemilang selama Perang Dunia II masih berlangsung di Eropa.

Ada dendam sendiri bagi seorang Hitler untuk negeri Prancis. Sebab 22 tahun sebelum Hitler menyerbu negeri ini, Kerajaan Jerman harus mengalami kekalahan Perang Dunia I melalui Perjanjian Versailles—disebut Hitler sebagai “November Criminal” pada Mein Kampf—di Prancis.

Bertahun-tahun kemudian, Hitler menjadikan dirinya sebagai kanselir negerinya melalui Partai Nazi, mengubah Kerajaan Jerman jadi negara fasis, kemudian menyerang Prancis untuk jadi penanda bahwa Nazi telah menguasai Eropa. Sekaligus jadi ajang balas dendam Hitler atas kekalahan Jerman di Perang Dunia I.

Bersekutu dengan Benito Mussolini dari Italia, Hitler melindas Prancis serta daratan Eropa lainnya dengan panser, pesawat, dan kapal tempur yang saling bekerja sama satu sama lain (sebuah hal baru dalam taktik perang pada era itu).

Inilah prinsip-prinsip serangan kilat ala “blitzkrieg” Jerman yang fenomenal. Mengombinasikan kekuatan seluruh armada militer (darat, udara, laut) dalam satu serangan cepat nan mematikan.

Pola ini juga yang terjadi dengan sepak bola Jerman lebih dari setengah abad kemudian. Di negeri yang sama, di Prancis 1998 dalam ajang terbesar sejagat Piala Dunia, Jerman luluh lantak 0-3 oleh Kroasia (negeri yang baru tujuh tahun merdeka saat itu) pada babak perempat final.

Belum juga sempat menangisi kekalahan ini, Jerman kembali harus menanggung malu saat menjadi juru kunci Grup A pada Piala Eropa 2000 di Belanda-Belgia.

Dua kekalahan yang menjadikan sepak bola Jerman mengubah diri. Dua kekalahan di Prancis dan Belanda-Belgia ini hampir setara dengan Perjanjian Versailles. Sebuah pernyataan kekalahan yang tidak layak karena pada Perang Dunia I, armada militer Kerajaan Jerman sama sekali tidak lumpuh.

Namun seperti halnya Hitler yang harus “berterima kasih” terhadap kekalahan Kerajaan Jerman pada Perang Dunia I di Prancis saat itu, federasi sepak bola Jerman juga harus berterima kasih atas kekalahan di tempat yang sama. Sebab kekalahan 0-3 oleh Kroasia adalah sebuah kejadian yang jadi titik balik, selain hasil Piala Eropa dua tahun kemudian tentu saja.

BACA JUGA:  Vicente del Bosque, Real Madrid, dan The Montreal Screwjob

Untuk itulah sepak bola Jerman kemudian berevolusi sejak permulaan milenium ketiga. Federasi, klub, suporter, manajemen klub, dan pemain bahu-membahu dalam satu visi untuk mengangkat sepak bola Jerman dari puing-puing kekalahan.

Ketika banyak negara-negara di Eropa yang bergeliat mendorong sepak bola ke arah industri secara banal, Jerman memilih menggunakan cara-cara yang lebih masuk akal. Prinsip mereka jelas dan sederhana, federasi dan liga dikonsentrasikan “hanya” untuk membangun timnas berprestasi. Tak kurang, tak lebih.

Piala Dunia di Brasil dua tahun silam adalah hasil pertama dari prinsip ini. Ditopang dengan kompetisi yang sehat dan pasokan pemain muda yang berlimpah ruah, “blitzkrieg” era baru siap kembali menguasai Prancis Juni ini.

Absurditas Italia

Sekutu Jerman dari Eropa Selatan, Italia, adalah negeri yang ikut nebeng ketenaran kekuatan militer Jerman pada Perang Dunia II. Inilah negeri culas yang hampir tidak punya andil dalam pertempuran-pertempuran penting di daratan Eropa.

Benito Mussolini—orang yang sempat jadi inspirasi Hitler—punya impian absurd; mendirikan kembali Kerajaan Romawi era modern.

Membangun afiliasi dengan Jerman dengan Hitler-nya adalah langkah jitu Mussolini, ini mengangkat pamor Italia di mata para sekutu. Sekalipun sebenarnya di negeri sendiri banyak kaum oposisi yang tidak menyukai Mussolini dan keterlibatan Italia dalam perang.

Di sisi lain, bagi Jerman, Italia yang awalnya tampak menjanjikan malah jadi beban dalam ambisi Hitler menguasai Eropa—bahkan jadi salah satu sebab kekalahan Jerman di Perang Dunia II. Jerman dan Italia adalah sekutu, tapi alih-alih saling menguntungkan, persekutuan ini lebih banyak merugikan Jerman.

Hal yang sama terjadi kala keduanya bertemu di lapangan hijau. Jerman punya rekor yang sangat buruk jika bertemu Italia di turnamen mayor.

BACA JUGA:  Pro-Kontra Sepak Bola di Olimpiade

Mereka bertemu delapan kali di ajang Piala Dunia maupun Piala Eropa, dan sama sekali Jerman belum mampu mengalahkan Italia. Kemenangan-kemenangan Jerman selalu terjadi pada laga-laga persahabatan, termasuk kemenangan 4-1, pada 3 Maret lalu (kemenangan pertama Jerman setelah 21 tahun).

Dengan pengelolaan kompetisi yang buruk—berkebalikan dengan Jerman—Italia dan Serie A adalah representasi absurd bahwa timnas yang kuat ternyata juga bisa muncul dari dinamika kompetisi dan politik yang tidak sehat. Empat gelar juara dunia Italia lahir dari absurditas demikian.

Dua gelar juara dunia pertama (1934 dan 1938) lahir dari ancaman Mussolini, dua gelar dunia terakhir (1982 dan 2006) didapatkan “karena” kasus totonero dan calciopolli—kasus judi serta pengaturan skor yang melanda beberapa klub elite Italia.

Suka atau tidak, harus diakui, Italia dan Jerman adalah dua kekuatan utama Eropa dalam sejarah sepak bola. Kedua negara ini mengantongi empat gelar juara dunia. Sekalipun di pentas Piala Eropa, Italia hanya sekali menjuarainya pada 1968, jauh di bawah Jerman dan Spanyol yang jadi tersukses dengan tiga gelar.

Uniknya, empat dari delapan pertemuan di turnamen mayor, Italia selalu menang dan melaju ke final atau juara jika bertemu Jerman (sisanya imbang). Semifinal Piala Dunia 1970 yang dianugerahi FIFA sebagai “Game of Century”, Final Piala Dunia 1982, semifinal Piala Dunia 2006, dan semifinal Piala Eropa 2012 dengan dua gol fantastis dari Mario Balotelli.

Dominasi Jerman bisa saja akan terus berlanjut di Prancis. Masalahnya lawan“blitzkrieg” kali ini merupakan “Benteng Kekaisaran Romawi” bernama catenaccio.

Bisakah Joachim Loew lebih baik dari Hitler kali ini? Atau malah Antonio Conte yang mengulangi “kelakuan” Mussolini untuk kembali merugikan Jerman?

 

Komentar
Lahir di Jogja tapi besar dan belajar cinta sepak bola dari Pelita Solo dan Persijatim Solo FC. Tukang modifikasi dan renovasi kalimat di Indie Book Corner (IBC). Masih bermimpi jadi atlet kayang pertama yang berlaga di UFC World Champion. Biasa nggambleh di @dafidab