Sepanjang sejarah sepak bola dunia, baru George Weah, pesepak bola dari Afrika yang mampu meraih gelar pemain terbaik dunia. Kiprah menterengnya di Eropa membuka jalan bagi banyak pesepak bola Afrika setelahnya untuk berkiprah di liga top dunia.
Akibat kebusukan pengelolaan sepak bola Indonesia yang bersinggungan dengan kepentingan politik tertentu, Persebaya diatur sedemikian rupa agar degradasi hingga akhirnya coba dihilangkan. Tapi, sejarah tak akan pernah bisa dihapus. Dan Persebaya tidak mati. Klub itu masih ada dan hanya tinggal menunggu waktu untuk bangkit kembali.
Indonesia U-23 harus kembali menelan kekalahan telak dalam partai perebutan tempat ketiga SEA Games 2015. Tanpa ada sangkut pautnya dengan perkara mental, kekalahan ini disebabkan oleh kegagalan mereka memahami permainan sepak bola secara menyeluruh.
Meksiko, narkotika, dan kartel seakan sudah menjadi tiga serangkai yang tak terpisahkan. Seperti Kolombia, aktivitas persepakbolaan di Meksiko pun pada akhirnya tak mampu dihindarkan dari sentuhan aktivitas kriminal ini.
Prestasi cabang bola basket Indonesia kian membaik dan hal ini tak bisa dilepaskan dari baiknya pembinaan pemain muda yang mereka lakukan. Sebaliknya, sepak bola semakin merana.
Keistimewaan Jogja dewasa ini sudah dikorup maknanya oleh para investor dan stakeholder rakus yang tak lagi mengindahkan adagium Hamemayu Hayuning Bawono. Agar tak kehilangan identitasnya, semua elemen Jogja bisa belajar dari Arsenal.





