Dari Asia Tenggara, Jangan Lekas Pulang ke Indonesia

Modernisasi sepakbola sebagai cabang olahraga terpopuler di dunia tidak dapat dihindarkan. Sepakbola kini bukan lagi sekadar pertandingan olahraga, melainkan ada tambahan unsur hiburan serta bisnis yang menjadi satu kesatuan.

Klub-klub sepakbola terus berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik. Tidak hanya terbaik dalam hal teknik di atas lapangan, tetapi daya tarik di luar lapangan juga menjadi prioritas.

Mendatangkan pemain-pemain dengan berbagai kemampuan dapat dijadikan amunisi untuk meningkatkan nilai klub, baik di atas lapangan maupun di luar lapangan. Terbukanya pintu internasional antarnegara memberi celah bagi klub sepakbola untuk mendatangkan pemain asing dari berbagai negara.

Kebanyakan imigran sepakbola yang dihadirkan berasal dari negara yang memiliki kualitas pemain yang baik seperti Argentina ataupun Brasil. Tak sedikit pula pemain yang berasal dari negara kecil memberanikan diri mengadu nasib ke negara yang memiliki kualitas sepakbola yang lebih baik dari negara asalnya.

Bagi klub, pemain asing diharapkan menjadi andalan dalam perburuan gelar juara. Selain itu, pemain asing juga diharapkan mau membagi ilmu sehingga kualitas tim secara kolektif meningkat.

Sementara bagi sang pemain sendiri, bermain di luar negeri umunya beralaskan harapan untuk meningkatkan kemampuan dan pengalaman serta kans mengais rezeki yang lebih layak.

Di Indonesia sendiri, federasi dan operator kompetisi memberi keleluasaan klub untuk menggunakan empat pemain asing yang satu di antaranya harus berasal dari benua Asia.

Kuota ini biasanya dimaksimalkan klub-klub yang ada untuk menggaet pemain asing incarannya. Jumlah itu sendiri belum termasuk pemain asing yang kemudian mendapat status Warga Negara Indonesia usai dinaturalisasi.

Kenyataan itu bikin sepakbola Indonesia kini kebanjiran pemain asing. Nahasnya, itu berbanding terbalik dengan pemain Indonesia yang bermain di kompetisi negara lain yang jumlahnya masih minim.

Keadaan defisit pada neraca ekspor dan impor pemain ini secara tidak langsung menandakan masih rendahnya kualitas kompetisi sepakbola di Indonesia.

Kurniawan Dwi Yulianto tercatat sebagai pemain sepakbola profesional pertama yang memberanikan diri merantau ke luar negeri.

Kurus, sapaan akrabnya, menimba ilmu di Italia dalam program PSSI Primavera. Ia lantas mendapat tawaran dari Sampdoria. Sayangnya, ia tak mampu menembus skuad utama dan akhirnya dipinjamkan ke klub Swiss, FC Luzern.

BACA JUGA:  Suporter Sepakbola Menyongsong Era Media Baru

Bareng klub ini pula, Kurniawan mencicipi atmosfer sepakbola Eropa dan bermain sebanyak 10 kali sampai akhirnya memilih mudik ke Indonesia.

Kurnia Sandy dan Bima Sakti juga mendapat kesempatan bergabung dengan klub Benua Biru sebagai jebolan PSSI Primavera, tetapi keduanya tak pernah beraksi di kompetisi resmi hingga akhirnya pulang ke tanah air.

Era 2000-an menjadi penanda mulai banyak pesepakbola nasional yang merantau. Bambang Pamungkas dan Elie Aiboy pernah menjadi andalan klub asal Malaysia, Selangor FA.

Fantastisnya, mereka sukses menyabet Treble Winners di Negeri Jiran usai memenangkan Liga Perdana (setara Liga Primer Malaysia saat ini atau divisi dua), Piala FA Malaysia, dan Piala Malaysia. Bambang bahkan melesat sebagai top skorer Liga Perdana musim 2005.

Bambang sendiri, sebelum bermain untuk Selangor, pernah juga membela tim kasta kelima di persepakbolaan Belanda, EHC Hoensbroek (dulu EHC Norad).

Selain Bambang dan Elie, nama Rochy Putiray juga sempat melambung kala mengadu nasib di Hong Kong. Ia pertama kali merumput bareng klub Instant Dict medio 2001.

Tahun berikutnya sampai 2004, Rochy membela Kitchee SC dan sempat jadi andalan tim. Kala memperkuat tim ini, Rochy pernah terlibat dalam partai uji coba melawan AC Milan dan sukses menggetarkan jala I Rossoneri dua kali. Sampai akhirnya, ia mengakhiri karier bersama South China pada pertengahan 2000-an.

Selepas era tersebut, Indonesia sebetulnya masih punya beberapa nama pemain yang diekspor ke luar negeri. Namun prestasi yang mereka torehkan, belum ada yang sefenomenal seniornya. Malah mayoritas dari mereka cuma mengikuti trial.

Kini, di tengah ketidakjelasan kompetisi dan makin menurunnya kualitas, beberapa pemain memilih hijrah ke klub-klub luar negeri.

Nathanael Siringoringo, Ryuji Utomo dan Saddil Ramdani beraksi di Malaysia dengan membela Kelantan FA (Liga Primer Malaysia), Penang FA dan Sabah FA (Liga Super Malaysia). Sementara Todd Ferre dan Yanto Basna berjibaku di Thailand untuk memperkuat Lampang FC (Thai League 2), dan PT Prachuap (Thai League 1).

Ada juga yang bermain di Asia serta Australia seperti Asnawi Mangkualam yang membela tim Korea Selatan, Ansan Greeners, di K-League 2 dan Syahrian Abimanyu yang berseragam Newcastle Jets di kompetisi sepakbola Australia, A-League.

BACA JUGA:  Sepakbola Jalanan di Antara Perebutan Ruang Kota

Sementara nama-nama lainnya ada yang meningkatkan kemampuan di Eropa seperti Bagus Kahfi di Belanda bareng FC Utrecht U-18, Brylian Aldama di Kroasia bersama HNK Rijeka U-19, Egy Maulana Vikri di Polandia bareng Lechia Gdansk, Miftah Anwar Sani di Bosnia-Herzegovina bareng Sloboda Tuzla, sampai Witan Sulaiman yang merumput di Serbia bersama klub Radnik Surdulica.

Adalah hal yang positif melihat beberapa pemain, lebih-lebih dengan label tim nasional, yang bermain di luar negeri. Saya sendiri ingin menyoroti mereka yang beraksi di Asia Tenggara.

Hal pertama yang terbayang dari pemain Indonesia yang merumput di sana adalah postur yang tak berbeda jauh dengan pemain-pemain lokal. Hal ini dirasa takkan menyulitkan pemain Indonesia buat bersaing memperebutkan posisi utama.

Selain itu, dengan bermain di negara tetangga yang atmosfer serta kedisiplinannya lebih kuat, mereka dapat fokus meningkatkan kemampuannya sebagai pesepakbola. Mereka tak lagi bergumul dengan kasus penundaan laga akibat perubahan jadwal atau tak adanya izin dari aparat Kepolisian.

Lebih dari itu, bermain di luar negeri meski masih di level Asia Tenggara, bisa dijadikan momen untuk membuktikan bahwa pemain Indonesia tak cuma jago kandang.

Sebagaimana beberapa diskusi yang berlangsung di media sosial, pemain Indonesia dianggap malas untuk keluar dari zona nyaman. Ketika kebutuhan pokok seperti rumah, kendaraan dan pangan telah tercukupi, maka bermain di luar Indonesia bukanlah kewajiban.

Para pemain yang kini merumput di kawasan Asia Tenggara, kudu memaksimalkan kesempatan yang mereka dapatkan saat ini dengan sebaik-baiknya. Dengan terus meningkatkan kemampuan, peluang untuk membela tim-tim yang lebih besar lagi di kawasan Asia, Australia atau bahkan Eropa bisa saja terbuka.

Jangan sampai performa apik yang mereka suguhkan di Asia Tenggara digunakan sebagai alat untuk pulang ke Indonesia dalam beberapa tahun ke depan. Usaha mati-matian buat meningkatkan kemampuan rupanya cuma dipamerkan untuk menurunkan kemampuan secara drastis.

Sebaliknya, para pemain yang masih beraksi di liga lokal sepatunya terpacu untuk meningkatkan kemampuan sehingga layak membela klub-klub luar negeri, paling tidak di kawasan Asia Tenggara.

Komentar
Tersasar menjadi PNS, tetapi tetap memperhatikan sepakbola nasional usai gagal menjadi pemain profesional. Suka sejarah dan hobi melakoni awaydays. Mari bertegur sapa di Twitter via akun @bang_pan71.