Dia, Thomas Tuchel

Thomas Tuchel
Eks pelatih Chelsea, Thomas Tuchel. (givemesport.com)

“Why Chelsea?” Reporter

“Why not?” Thomas Tuchel

Dia adalah Thomas Tuchel. Pelatih berkebangsaan Jerman yang dipecat dari PSG dan memilih Chelsea untuk menjadi destinasi berikutnya. Tuchel memulai karier kepelatihannya pada tahun 2000. Dia ditunjuk oleh Ralf Rangnick sebagai pelatih tim junior di VfB Stuttgart.

Sebelum berprofesi sebagai pelatih, Tuchel juga merupakan seorang pemain sepakbola. Dia terpaksa pensiun dini pada umur 25 tahun lantaran cedera lutut yang dialaminya. Stuttgarter Kickers menjadi klub profesional pertamanya pada tahun 1992.

Layaknya kisah klasik pelatih termasyur, Tuchel terlahir sebagai pemain sepakbola yang payah. Selama dua tahun, dia hanya bermain sebanyak 8 kali di klub tersebut. Setelah itu, Tuchel melakukan perpindahan degradasi ke SSV Ulm yang berkompetisi di Bundesliga 2.

Saat mengalami cedera lutut yang harus mengakhiri karier pesepakbolanya di sana, beruntung ada Ralf Rangnick yang menjadi pelatihnya. Rangnick sepertinya melihat potensi Tuchel dan memantiknya agar memulai karier sebagai pelatih. Sebelum benar-benar terjun menjadi pelatih, Tuchel juga sempat menimba ilmu di fakultas ekonomi dan bekerja di bar.

Pada tahun 2009, bersamaan dengan ditunjuknya Barack Obama sebagai Presiden Amerika Serikat, meninggalnya Michael Jackson, dan Pemilu di Indonesia, Thomas Tuchel resmi ditunjuk sebagai pelatih baru Mainz 05, klub yang juga sempat dilatih oleh Jurgen Klopp. Namanya sebagai pelatih mulai banyak diperbincangkan saat dipercaya untuk menukangi klub tersebut.

Karier kepelatihannya di Mainz berjalan mulus. Pada musim pertamanya, Tuchel sukses membuat Mainz yang dianggap remeh finis di peringkat kesembilan. Di musim selanjutnya hasil yang diperoleh Tuchel lebih baik lagi, Mainz finis di peringkat kelima dan berhasil lolos ke Europa League.

Pelatih yang lahir di Kumbrach itu terkenal dengan ide-ide segarnya. Di Mainz, dia juga mempekerjakan René Marić dan Martin Rafelt, pendiri blog taktik Spielverlagerung. Mereka ditugaskan oleh Tuchel agar mengkompilasi laporan pengintaian tentang lawan Mainz.

Selain itu, dia juga mengembangkan metode pelatihan yang revolusioner. Misalnya saja untuk menghentikan kebiasaan pemainnya mengandalkan umpan panjang yang melebar, dia memotong sudut lapangan. Tuchel juga melatih para pemainnya dalam bentuk lapangan yang bulat. Tujuan dari metode pelatihannya tersebut agar pemainnya terbiasa serta dapat menemukan solusi dalam situasi permainan yang ketat.

BACA JUGA:  Faiq Bolkiah: Keluarga Kerajaan dan Sensasi Baru Asia Tenggara

Jika Klopp memiliki gegenpressing, Pep Guardiola terkenal dengan tiki-taka, maka Tuchel memilih untuk bermain adaptif. Tuchel tak berafiliasi pada satu istilah strategi apapun yang lekat dengan namanya. Dia lebih suka melakukan eksperimen dengan pendekatannya yang beragam.

Saat berada di Chelsea, Tuchel juga pernah menatar para bek berlatih sembari menggenggam bola tenis. Tujuannya agar mereka tak suka menarik jersey lawan saat pertandingan. Azpilicueta, dkk. juga sempat merasakan dilatih menggunakan bola kecil agar meningkatkan kemampuan mengontrol bola serta akurasi tekel.

Sosok Tuchel yang dipenuhi dengan ide-ide cemerlang dan metode yang revolusioner membuatnya dicap sebagai pelatih yang perfeksionis. Hal itu pula yang menjadi kelemahan dari pria yang terlahir pada 29 Agustus 1973 tersebut. Idenya membuat Tuchel memandang para pemainnya bagaikan sebuah pion yang sesuka hati bisa digerakkannya.

Hubungannya dengan manajemen klub saat melatih Borussia Dortmund bahkan rusak. Dia terpaksa harus meninggalkan Dortmund dan singgah di PSG sebelum berakhir dengan cerita yang sama. CEO Dortmund, Hans-Joachim Watzke, mengatakan “Thomas adalah orang yang keras, kalian bisa lihat sendiri saat dia menjadi pelatih PSG. Tapi dia adalah pelatih yang fantastis.”

Padahal saat masih di PSG, dia menorehkan rekor kemenangan dalam 14 pertandingan pertamanya serta berhasil membawa Les Parisiens melaju ke final Liga Champions. Namun sayang, setelah gagal membawa PSG menjadi juara Liga Champions 2020, hubungan Tuchel dengan awak media semakin tegang. Perselisihan melebar hingga konflik dengan Direktur Olahraga PSG, Leonardo, yang menyebabkan pemecatan Tuchel.

Seperti kata Watzke, sebagai pelatih, Tuchel adalah sosok yang patut untuk dikagumi. Dia belajar dari yang terbaik hingga menjadi salah satu yang terbaik. Klopp dan Pep juga mengakui kehebatan Tuchel dalam melatih sebuah klub. Tetapi kepribadiannya yang keras menuntunnya ke arah yang lain.

BACA JUGA:  Mo Salah Kepingan Puzzle Terpenting Bagi Liverpool

Meski begitu, Chelsea menjadi klub yang berhasil meluluhlantakkan hati serta perasaan Tuchel sebagai pribadi dan pelatih. Dia mencurahkan semua yang dirasakannya melalui akun Twitter yang terakhir aktif pada tahun 2020. Bahkan, hanya ada satu akun yang dia ikuti, Chelsea.

“Ini adalah salah satu pernyataan tersulit yang pernah saya tulis dan ini adalah salah satu yang saya harap tidak perlu saya lakukan selama bertahun-tahun. Saya merasa hancur karena waktu saya di Chelsea telah berakhir.

Ini adalah klub di mana saya merasa seperti di rumah sendiri, baik secara profesional maupun pribadi. Terima kasih banyak untuk semua staf, pemain, dan pendukung karena membuat saya merasa sangat disambut sejak awal.

Kebanggaan dan kegembiraan yang saya rasakan dalam membantu tim memenangkan Liga Champions dan Piala Dunia Antarklub akan tetap bersama saya selamanya. Saya merasa terhormat telah menjadi bagian dari sejarah klub ini dan kenangan selama 19 bulan terakhir akan selalu memiliki tempat khusus di hati saya.” Tulis Tuchel di Twitter.

Mungkin selama berada di Stamford Bridge, Tuchel banyak belajar tentang arti sebuah perasaan dalam sepakbola yang memang sudah seharusnya tercurahkan kepada seluruh pemain, staff, manajemen, hingga para fans. Memang berat merelakan Tuchel pergi, tapi sepertinya ini menjadi jalan yang terbaik. Toh, sudah banyak kenangan indah yang kita lalui bersamanya!

Danke, Deutscher Maestro.

Komentar
Menjadi fans Chelsea karena pengaruh bapak. Dapat disapa via akun Twitter @iiklil.