Sepak Bola Para Dokter

Selama saya menjalani pendidikan Ko Asistensi di Rumah Sakit Umum Pendidikan Sardjito di Yogyakarta, ada dua departemen yang mewajibkan sepak bola sebagai ekstrakurikulernya. Departemen Anestesiologi dan Ilmu Penyakit Dalam (IPD).

Semua residen (red: dokter umum yang sedang kuliah spesialis) wajib hadir di kegiatan itu. Para residen perempuan biasanya membantu menyiapkan konsumsi, sementara yang laki-laki bermain sepak bola. Selang beberapa kali ikut bermain dengan mereka, saya kemudian tahu ada kegiatan nasional dua tahunan para residen Ilmu Penyakit Dalam bernama Kongres Perhimpunan Penyakit Dalam Indonesia (KOPAPDI).

KOPAPDI sebenarnya adalah kegiatan ilmiah, namun disertai juga dengan berbagai perlombaan olahraga seperti bulutangkis, tenis, tenis meja, dan tentu yang paling populer sepak bola. Tim yang ikut bertanding berasal dari rumah sakit yang memiliki program pendidikan IPD dari Medan, Palembang, Jakarta, Yogyakarta, Makassar, dan lain-lain.

Dalam turnamen ini tidak diperkenankan mengontrak pemain luar, sehingga murni hanya mengandalkan residen ataupun staff dosen yang mengajar. Dalam tim KOPAPDI UGM, selain residen ada beberapa dosen saya yang aktif bermain, salah satunya adalah Prof. dr. Nyoman Kertia Sp. PD (KR.)

Cerita di atas sedikit menggambarkan bahwa sepak bola adalah permainan yang populer di kalangan dokter. Banyak dokter yang masih aktif menyalurkan hobinya bermain sepak bola. Sejarah mencatat, ada juga dokter-dokter yang mengesampingkan gelar akademiknya yang ditempuh bertahun-tahun dan susah payah itu, untuk menekuni sepak bola secara profesional.

1. Leigh Richmond Roose

Roose lahir di kota Holt, Wales pada 27 November 1877. Ia adalah seorang pesepak bola yang tidak biasa pada zamannya.

Saat di Britania Raya sepak bola lazim dimainkan oleh kelas pekerja, Roose yang seorang kelas menengah menonjol sebagai seorang kiper. Bermain untuk tim-tim yang sekarang namanya kita kenal di Liga Primer Inggris seperti Stoke City, Everton, Sunderland, dan Aston Villa pada rentang 1901-1912.

Leigh Richmond Roose (Wikipedia)
Leigh Richmond Roose (Wikipedia)

Pada tahun 1895, Roose mengambil kuliah bidang sains di Universitas Aberystwyth, Wales. Selesai kuliah, Roose pindah ke London untuk melanjutkan studi kedokterannya di Rumah Sakit King’s College.

Di London inilah Roose mendapati bahwa sepak bola bukanlah satu-satunya tujuan utama. Hati Roose mendua, bermain sepak bola dan menyempatkan kuliah akhirnya harus ia lakoni. Kuliah di kedokteran, bermain untuk klub yang lumayan top, berparas lumayan dengan badan tinggi, gagah dan atletis, ya kita tahu kalimat ini mengarah ke mana.

Tidak sulit bagi Roose untuk menggaet perempuan-perempuan cantik. Salah satu yang kepincut dengan Roose adalah penyanyi terkenal Inggris yang bergigi agak sedikit mancung, Marrie Lloyd. Hubungan pesepak bola Inggris dengan selebriti, rupa-rupanya jauh sudah ada sebelum era David Beckham dan Victoria.

Pecahnya Perang Dunia I pada tahun 1914 membuat karier Roose terhenti. Menggunakan bekal ilmunya, ia masuk ke dalam Royal Army Medical Corps untuk mengobati tentara yang terluka akibat perang.

Nasib Roose berakhir tragis saat terjadi penyerangan di dusun Gueudecourt, Prancis bagian utara. Ia terbunuh dan mayatnya tak pernah ditemukan. Meski demikian, namanya tertera dalam Thiepval Memorial, sebuah monumen yang dibangun untuk mengenang kematian 72.000 tentara Inggris dan Afrika Selatan yang mati dan jasadnya tak pernah ditemukan.

BACA JUGA:  Beda Hakan Calhanoglu

2. Socrates Brasileiro

Rasanya tak perlu menjelaskan banyak hal tentang nama ini. Berbeda dengan Leigh Roose yang memang tak terlalu terkenal, nama Socrates sungguh familiar.

Tentu berkat permainan gemilangnya bersama Brasil pada Piala Dunia 1982. Bersama dengan Zico, Falcao, dan Eder, mereka berempat mengoskestrasi sebuah sepak bola indah yang sayangnya gagal menjadi juara setalah dikalahkan oleh Italia dengan skor 3-2 pada fase kedua grup.

Meski demikian ia tak pernah menyesal, sebab juara baginya bukanlah yang utama. Hal ini tertuang dalam buku yang ia tulis sendiri berjudul Football Philosophy, Socrates berkata “Beauty comes first, Victory is secondary. What matters is joy”.

Apa yang Socrates tuliskan adalah benar adanya. Dalam setiap permainan, hampir dipastikan penonton akan terhibur, entah melalui liuk gerakannya saat membawa bola, umpan menggunakan tumit yang sering menipu lawan ataupun rainbow flick yang merupakan gerakan favoritnya.

Socrates mengenakan kaos tim bertulis Democracia. (BBC)
Socrates mengenakan kaos tim bertulis Democracia. (BBC)

Hal lain yang melegenda dari Socrates adalah ikat kepala bertuliskan Democracia yang melingkar di kepalanya saat bermain untuk Corinthians. Butuh nyali besar untuk melakukan hal ini, tentu bukan nyali seperti yang dipertontonkan Gennaro Gattuso, Roy Keane, atau Dominggus Fakdawer.

Lebih dari itu, nyali yang dimaksud bukan nyali untuk kelahi di lapangan. Melainkan nyali melawan Humberto Castello Branco, seorang diktator militer. Selain nyali, melawan diktator juga butuh lingkar otak besar.

Sebagai anak dari seorang sosialis dan penggemar filsuf Yunani klasik, Socrates tumbuh besar dengan buku-buku kiri dan filosofi yang ada di perpustakaan pribadi ayahnya. Tak heran Socrates cerdas dan bisa kuliah kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Ribeirao Preto. Sebuah fakultas kedokteran yang konon merupakan salah satu dari tiga Fakultas Kedokteran terbaik di Brasil.

3. Carlos Bilardo dan Raul Madero

Carlos Bilardo adalah dokter lulusan Universitas Buenos Aires, Argentina. Tempat kuliah yang sama dengan Ernest “Che” Guevara dan César Milstein, peraih nobel bidang kedokteran tahun 1984.

Balardo bermain untuk tim San Lorenzo dan Estudiantes sampai tahun 1971, tahun di mana ia menyelesaikan pendidikan kedokterannya. Pada waktu itulah ia memutuskan berhenti sebagai pemain bola, bukan untuk berkonsentrasi penuh pada profesinya sebagai seorang dokter, melainkan memutuskan untuk menjadi pelatih Estudiantes pada umur 32 tahun.

Sebuah pilihan yang aneh.  Meski ia masih sempat meluangkan waktu praktik dokter di departemen ginekologi sebuah rumah sakit di Buenos Aires sekitar 5-6 tahun. Setelah itu, ia total fokus pada sepak bola.

Carlos Bilardo saat mengenakan jas dokter. (Playbuzz)
Carlos Bilardo saat mengenakan jas dokter. (Playbuzz)

Warisan terbesar Bilardo bukan bersama Estudiantes, melainkan dengan tim nasional Argentina. Ia menggantikan sang legenda Cesar Luis Menotti pada tahun 1983. Meski Menotti gagal total di Piala Dunia 1982, ia membawa Argentina juara pada Piala Dunia 1978 dengan mengusung sepak bola indah. Pesepak bola bagi Menotti, adalah penerjemah impian dan perasaan bagi ribuan orang, dan tak ada perasaan yang lebih bahagia daripada melihat tim bermain indah dan ultra-ofensif.

BACA JUGA:  Liukan Riko Simanjuntak yang Dirindukan

Kata Menotti “You can lose a game, but what you cannot lose is the dignity earned by playing good football.” Terdengar seperti filosofi Coach J yang sering ribut di Twitter itu. Menotti yang berambut gondrong, selalu terlihat mengisap rokok di setiap waktu, berhaluan politik kiri, gemar berfilosofi dan mengusung sepak bola indah menjadi definisi dan haluan keren di masanya.

Sementara Bilardo adalah antitesis dari Menotti. Bilardo adalah representasi sepak bola pragmatis yang mengusung motto “Football is about winning and nothing else.” Hal ini membuat ia banyak diragukan oleh warga negaranya sendiri yang sudah kadung jatuh cinta dengan sepak bola ala Menotti.

Persiapan Argentina menuju Piala Dunia 1986 tak berjalan mulus, 15 pertandingan pertamanya hanya berakhir dengan 3 kemenangan, menjadikan ia semakin tak diyakini pendukung Argentina. Diego Maradona bahkan berkata “penduduk Argentina menyaksikan Piala Dunia dengan sebelah mata tertutup”, saking takutnya melihat kegagalan timnya.

Layaknya dokter yang mencoba menyembuhkan penyakit parah yang diderita pasiennya, Bilardo mencoba menghilangkan keraguan penduduk Argentina secara perlahan. Sosok yang juga dipanggil El Narigon (si hidung besar) itu membawa Argentina menjuarai grup A yang diisi Italia, Korea Selatan, dan Bulgaria.

Lalu berturut-turut mengalahkan Uruguay, Inggris, Belgia, dan Jerman Barat dari babak 16 besar sampai final. Hal ini dilakukannya tanpa pernah kalah dan hanya sekali seri melawan Italia di fase grup.

Pada pertandingan final melawan Jerman Barat di Stadion Aztec itulah terlihat seorang penggemar yang membentangkan spanduk bertuliskan ”Perdon, Bilardo, Gracias” yang artinya kurang lebih “Maaf (red: telah meragukanmu), Bilardo, terima kasih.”

Saat ditunjuk menjadi pelatih kepala Argentina pada 1983, ia membawa serta Raul Maredo sebagai dokter tim. Raul Maredo adalah teman setim Bilardo semasa bermain untuk Estudiantes dan rekan sejawat kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Buenos Aeres.

Bedanya, ketika sama-sama lulus Bilardo memutuskan menjadi pelatih dan Maredo melanjutkan studinya di kedokteran olahraga. Duet konco lawas lan kenthel yang akhirnya berhasil membawa Argentina juara Piala Dunia.

Daftar dokter-dokter di atas akan lebih panjang lagi jika profesi dokter gigi diikutsertakan. Mulai dari Jim Craig yang memenangi Piala Eropa 1967 bersama Celtic, Hugo Sanchez, ya Hugo Sanchez legenda Real Madrid dan Meksiko itu, sampai dengan nama lokal bernama Liem Soen Joe atau yang terkenal dengan nama Endang Witarsa.

Cerita di atas, baik dokter yang menjalani sepak bola sebagai hobi dan mereka yang meninggalkan gelar akademiknya untuk bermain sepak bola secara profesional menjadi antitesis bagi kutipan kakek tua esais dari Argentina yang sudah meninggal pada Juni 1986 yang berkata bahwa “Soccer is popular because stupidity is popular”.

 

Komentar