Gianluigi Buffon: Superman Paruh Baya yang Masih Layak Dicintai

“Namun saya menyadari, satu-satunya klub di mana saya bisa menerima kenyataan untuk sekadar jadi pilihan kedua hanyalah Juventus. Saya menunggu dan akan membuktikan bahwa keputusan saya tepat“, ujar Gianluigi Buffon dalam sebuah wawancara seperti yang dikutip dari footballitalia.

Bagi seorang wanita seperti saya yang menggilai Buffon sedari ia masih membela Parma sampai akhirnya melegenda di Juventus, kalimat yang diucapkannya itu sungguh manis sekali. Lebih manis daripada rayuan gombal para lelaki.

Bagi saya, dirinya adalah kiper terbaik dunia sepanjang sejarah. Namun kerelaannya untuk jadi yang kedua asal dapat pulang ke rumah merupakan hal yang istimewa. Tak peduli bahwa dalam kehidupan nyata, Buffon adalah pria yang menduakan wanitanya.

Di usianya yang sudah tak lagi muda, 41 tahun, penyelamatan-penyelamatan yang sebetulnya biasa dia lakukan jadi terasa luar biasa. Kita seperti diberitahu jika kemampuannya sebagai penjaga gawang hebat belum luntur sedikit pun.

Terbaru, ada cukup banyak video penyelamatan heroik Buffon saat ia mengawal jala La Vecchia Signora pada laga melawan Bologna akhir pekan lalu (20/10).

Memanfaatkan kemelut di lini pertahanan Juventus, penyerang I Rossoblu asal Paraguay, Federico Santander, melakukan tendangan salto guna mencetak gol penyama kedudukan. Namun dengan sigap, Buffon melompat layaknya Superman (yang kebetulan adalah julukannya) dan menepis bola agar gawangnya aman. Sebuah aksi yang membuat kekaguman saya kepada Buffon semakin menebal.

Ketika membaca artikel-artikel mengenai Buffon dan Juventus, seringkali saya menemukan kata-kata yang menegaskan usia lelaki kelahiran Carrara tersebut. Ada rasa kesal yang melonjak di dada dan ingin sekali saya memprotesnya dengan berkata, “Jangan bawa-bawa umur terus!”

BACA JUGA:  Dukungan (Support) dalam sepakbola

Secara pribadi, pertandingan yang sulit saya lupakan dari lelaki gaek ini adalah final Liga Champions 2016/2017 saat Juventus berjumpa Real Madrid.

Bagaimana bisa lupa karena di laga itu, La Vecchia Signora kebobolan banyak gol, dan kalah. Apalagi duel di Stadion Millennium tersebut santer diberitakan sebagai partai terakhir Buffon dengan seragam Juventus.

Buffon terlihat sangat kecewa lantaran kekalahan itu sampai menitikkan air mata. Saya patah hati melihat Buffon menampakkan sesuatu yang selama ini jarang terlihat. Mood saya pun tidak enak selama satu pekan sehingga pekerjaan sedikit terganggu. Rasanya persis ditinggal pacar tanpa penjelasan pas lagi sayang-sayangnya.

Pada kenyataannya, Buffon memang tak berjodoh dengan trofi Si Kuping Besar. Saat memperkuat Paris Saint-Germain (PSG) musim 2018/2019, penampilannya di fase 16 besar teramat jeblok sehingga Les Parisiens dibekuk Manchester United dengan skor agregat 1-3.

Akibatnya, banyak yang beropini jika kutukan Buffon adalah nyata sebab Juventus dan PSG merasakan hal itu secara riil manakala berjibaku di Liga Champions. Praktis, satu-satunya gelar Eropa yang bisa dikecup Buffon, setidaknya hingga detik ini, hanyalah Piala UEFA 1998/1999 saat berbaju Parma.

Banyak orang yang menduga jika saya adalah penggemar berat Juventus. Namun terus terang saja, ketika Buffon memilih bergabung dengan PSG, saya galau. Alasannya sederhana, bagaimana saya bisa mencintai La Vecchia Signora ketika sosok yang amat saya kagumi dan cintai tak lagi ada di sana?

Perlahan-lahan, saya tak lagi mengikuti perkembangan Juventus dan Serie A secara intens meski almarhum Papa telah ‘memaksa’ saya untuk mencintai kompetisi ini sedari kecil. Saya mengalihkan dan memfokuskan perhatian hanya kepada Persib Bandung. Toh, lebih dekat juga untuk bisa datang langsung ke stadion.

BACA JUGA:  Apa Sebaiknya Juventus Membuat Liga Sendiri Saja?

Akan tetapi, saat Buffon memutuskan kembali ke kota Turin per musim 2019/2020, ada euforia tersendiri yang bergemuruh di dada. Bagi saya, ia harus balik ke pelukan saya La Vecchia Signora, tak peduli jadi yang kedua atau bahkan tidak pernah bermain sekali pun. Juventus adalah rumah untuknya.

Pada akhirnya, Buffon tetaplah Buffon. Saat diberi kepercayaan oleh Maurizio Sarri sebagai starter, ia membuktikan bahwa kemampuannya masih ada di level teratas, bahkan lebih baik ketimbang para kiper muda.

Bagaimanapun, lelaki paruh baya yang belum juga berjodoh dengan trofi Liga Champions ini masih sangat layak untuk dicintai dan dinantikan aksinya di setiap pertandingan.

Walau mungkin ucapan Buffon yang merasa bahwa Juventus adalah rumahnya tak setara dengan romantisnya kata-kata Alessandro Del Piero yang mempopulerkan ungkapan “A true gentleman never leaves his lady”, (dahulu sering saya bisikkan kepada pacar, tapi sayangnya kini sudah jadi mantan), saya tetap bersikukuh jika apa yang dituturkan Buffon wajib diapresiasi karena itulah bukti cintanya kepada La Vecchia Signora.

Komentar
Wanita pembaca segala rupa tulisan yang suka berpuisi pada saat patah hati. Pengagum berat Gianluigi Buffon. Dapat disapa di akun Twitter @indierhs