Ritme Samba Milik Gabriel “Gabigol” Barbosa

Brasil terbuat dari sepak bola, pesta, dan kegembiraan. Carnaval do Brazil menjadi ruang sosial penuh warna, memuat segala pesta, dan kegembiraan yang molek di rona Brasil.

Karnaval setahun sekali di Brasil ini terasa magis. Jahanamnya kehidupan di favela bisa terlupakan sejenak ketika hentakan ritmis perkusi dan pengeras suara mulai mendayu.

Orang-orang turun ke jalan-jalan. Mulai dari Rio de Janeiro, Bahia, Sao Paulo, sampai Pernambuco. Keterlibatan menitis secara masif, kostum berwarna-warni tercetak meriah. Carnaval do Brasil merupakan manifesto kebudayaan, sekaligus oli industri pariwisata negara yang berbatasan dengan Pegunungan Andes dan Samudera Atlantik ini.

Dan, di tengah-tengah hingar-bingar pesta besar tersebut, tarian samba menjadi salt and pepper, membuat Carnival do Brazil menjadi gurih dan berwarna.

***

Selain pengekspor kopi terbesar di dunia, Brasil juga tak perlu Anda ragukan sebagai pencetak bintang lapangan hijau. Mulai dari zaman Zico dan Juninho Pernambucano, Ronaldo Luis Nazario dan Ronaldinho Gaucho, hingga Neymar Jr. dan Douglas Costa. Brasil tak pernah jenuh menelurkan pemain-pemain magis.

Mulai dari pemain dengan label prodigy (ajaib, red.) macam Robinho hingga Kaka yang matang dan semakin bersinar saat diboyong AC Milan ke Italia. Dan saat ini, di ajang Copa America Centenario, nama Gabriel “Gabigol” Barbosa menjadi “pemain selanjutnya” yang mungkin akan segera Brasil “ekspor” ke liga-liga Eropa.

Gabigol mentas di Estadio Vila Belmiro tempat sama yang melahirkan kaki-kaki tajam milik Pele, Robinho, Elano, dan Neymar. Bahkan, oleh media lokal, Gabigol dinobatkan sebagai “The Next Neymar”.

Gaya bermainnya mulai dibanding-bandingkan dengan megabintang Barcelona tersebut. Sungguh suatu sematan yang berat dan tidak menyenangkan, bukan? Mana ada laki-laki yang suka dibanding-bandingkan? Bukan begitu, mblo?

Tapi kalau pembaca memerhatikan Gabigol, caranya mengontrol bola menunjukkan gestur yang boleh dibilang memang mirip Neymar. Caranya menghentikan bola dengan ujung sepatu, menaruh bola di kaki bagian luar, lalu melenting mempecundangi lawan, semua terasa ada Neymar di dalam rentetan gerakan tersebut.

Terlepas dari perbandingan tersebut, Gabigol sejatinya tak seperti Neymar versi Santos. Keduanya sama-sama gesit, ritmis, dan gembira. Namun, perbedaan tetap terasa.

Neymar versi Santos adalah pemain muda yang mencintai siraman lampu sorot. Ia menikmati panggung yang tersedia, bermain untuk bersenang-senang, meluapkan ciri Carnival do Brazil, dan tentu saja memamerkan lekuk sintal tarian Samba ketika membuat lawan merasakan gerakan ankle-breaker ala Neymar.

BACA JUGA:  Welber Jardim: Bintang Muda Sao Paulo di Timnas Indonesia U-17

Dari sisi postur, Gabigol yang mempunyai tinggi 170 cm lebih pendek 4 cm dibandingkan Neymar. Saat masih berseragam Santos, Neymar lebih terlihat kurus, sedangkan Gabigol lebih berisi.

Fisik yang kokoh membuat Gabigol mampu memanfaatkan berat tubuhnya dengan baik. Low centre of gravity dirinya membuat Gabigol bisa berakselerasi dengan keseimbangan yang terjaga.

Neymar versi Santos adalah pemain yang kaya trik untuk menipu lawan. Ia kurus, dan meletakkan segala trik di atas kemampuan akselerasi yang mumpuni.

Sementara itu, Gabigol lebih nyaman dengan pendekatan fisik. Ia tetap gesit, punya stok trik yang melimpah. Namun, Gabigol akan siap menggunakan badannya yang kokoh berisi untuk melindungi bola dari terjangan lawan.

Gabigol tak akan banyak berkelit untuk menghindari bek lawan. Ia bukan Neymar yang gemulai memetaskan Zidane’s Roulette atau step over ala Ronaldinho. Gabigol akan menerobos dari tengah-tengah, di antara dua pemain lawan yang menghadang. Ia akan memaksa, terasa keras, namun tetap berwarna seperti tarian Samba.

Soal posisi pun, Neymar dan Gabigol sangat berbeda. Neymar akrab dengan sisi lapangan. Ia banyak bermain sebagai penyerang kiri. Kapten Brasil di Piala Dunia 2014 tersebut jamak terlihat menggiring bola dari sisi lapangan lalu menusuk ke tengah. Bola ia bawa dengan gemulai, gesit, dan memancing pelanggaran dari lawan. Pada beberapa kesempatan, Neymar juga bermain di belakang striker.

Gabigol? Ia lebih seperti striker, seorang pemain nomor 9. Kaki dominannya adalah kaki kiri. Tapi jangan terkecoh, kaki kanannya pun hidup. Gabigol kerap menerima bola sembari membelakangi gawang.

Ia akan berputar dan melepaskan sepakan keras. Kelebihan lainnya adalah kemampuan untuk bermain melebar.

Meski melebar pun, Gabigol tak terasa seperti penyerang sayap. Ia mungkin justru lebih terasa seperti Paulo Dybala, yang melebar, menyediakan diri menarik bek lawan, menusuk masuk, atau melepas tembakan diagonal.

Melihat perbedaan tersebut, sebaiknya jangan bandingkan Gabigol dengan Neymar karena sebenar-benarnya keduanya berbeda. Gabigol punya ritmenya sendiri, ritme Samba yang terasa dari caranya bermain.

Ritme Samba Neymar adalah Samba yang seksi, penuh warna dan kostum yang megah, pun terasa menggoda. Harum memabukkan seperti anggur sebuah pesta dengan tabuhan perkusi yang manja.

BACA JUGA:  Ronaldinho dan Lionel Messi: Sebuah Ikatan Kejeniusan Sepak Bola

Ritme Samba Neymar adalah Samba dengan gaya Bahia yang sensual. Bahia style merupakan Samba dengan ritme yang kaya karena campuran banyak jenis musik turunan dari Samba, termasuk Samba-Reggae dan Samba-Funk.

Gerak pinggul yang aduhai, langkah cepat-lambat yang artistik, dan getaran dada yang membius. Ketiganya dipadukan dengan modernitas yang ditawarkan Samba-Reggae dan Samba-Funk. Maka tercipta gerakan-gerakan indah, sekaligus seksi.

Neymar versi Santos adalah Bahia style, gerakan-gerakannya kaya, perpaduan tempo yang berwarna. Membuat jantung penonton berdegub memburu menantikan gerakan yang akan ditarikan Neymar dengan alunan beat yang santai.

Gabigol menari dengan ritme Samba-nya sendiri. Ia bercirikan cepat, lugas, dan penuh gairah. Kaya warna dan corak adalah syarat mutlak sebuah karnaval di Brasil. Dan, karnaval terbesar yang pernah ada disebut Rio Carnaval, sebuah karnaval yang digelar di Rio de Janeiro.

Maka, ritme Samba milik Gabigol adalah Rio de Janeiro Style. Gaya ini didominasi hentakan ritmis asik dari perkusi dan alat musik lainnya. Rio style adalah Samba dengan ritme lebih teratur.

Mula-mula para pemain perkusi dan alat musim memulai dengan ritme agak pelan. Seiring hentakan dan ketika tensi meningkat, ritme menjadi lebih rancak.

Makin lama makin cepat, Rio style lekat dengan gerakan kaki yang cepat. Beberapa orang menyebutnya Fast Samba, begitu sesuai dengan nuansa festival yang penuh gairah.

Gaya Gabigol lekat dengan kekuatan sekaligus kelincahan dalam satu balutan. Anggun, ia melewati lawan, diwarnai corak kekuatan fisik yang melandasi ototnya. Penari Rio Style harus mempunyai kaki yang kuat untuk bertahan di tengah hujan tabuhan perkusi yang rancak.

***

Melihat perbedaan tersebut, Gabigol jelas menari dengan ritmenya sendiri. Ia mungkin akan sebesar Neymar, atau bahkan lebih. Ia mungkin gagal dan mendapatkan cap “The Next Robinho”.

Yang pasti, nama Gabriel Barbosa adalah wonderkid selanjutnya dari Brasil. Ia penyerang yang mungkin bisa memuaskan dahaga Seleccao akan striker tajam seperti Ronaldo de Lima atau Adriano.

Akan menjadi siapa Gabigol kelak, ritme Samba miliknya tidak akan hilang.

 

Komentar
Koki @arsenalskitchen.