Hengkangnya Declan Rice Adalah Keniscayaan

Selama beberapa musim ke belakang, Declan Rice memperlihatkan aksi yang cukup mengagumkan sebagai gelandang belia. Potensi tersebut bahkan membuat Republik Irlandia dan Inggris saling jegal agar Rice mau membela salah satu dari keduanya di level internasional.

Tak cukup sampai di situ karena sejumlah klub papan atas juga sangat meminati jasa penggawa West Ham United ini. Salah satu yang dikabarkan getol ingin menggamit Rice adalah tim di masa juniornya, Chelsea. Sudah bukan rahasia lagi kalau The Blues disebut-sebut siap menggelontorkan dana masif untuk mengamankan jasanya.

Media-media lokal seperti Football London, The Sun, dan Daily Star bahkan sering mengabarkan jika Rice akan meninggalkan sisi timur kota London, area di mana West Ham berada, dalam waktu dekat. Kendati enggan menjual salah satu aset terbaiknya yang terikat kontrak sampai musim panas 2023, tetapi The Hammers disinyalir telah memasang banderol sang pemain yang tak kurang dari 80 juta Poundsterling.

Sejatinya, lelaki berpostur 185 sentimeter ini adalah pemain akademi Chelsea. Ia belajar di sana sedari tahun 2006 sampai 2014. Tatkala dilepas pihak akademi pada usia 14 tahun, Rice lalu bergabung dengan klub junior West Ham. Pilihannya ini sendiri terbukti tepat karena bareng The Hammers, kemampuannya sebagai pesepakbola muda terus mengalami peningkatan.

Tak perlu kaget saat mengetahui bahwa sang pemain mendapat debut profesionalnya pada usia 18 tahun. Tepatnya dalam laga terakhir West Ham di Liga Primer Inggris 2016/2017. Namun tak butuh waktu lama baginya sebab per musim 2017/2018, dirinya langsung diplot sebagai penggawa inti dari klub yang sekarang bermukim di Stadion London (sebelumnya menghuni Stadion Upton Park) tersebut.

BACA JUGA:  One Mane Team: Mengungkap Apa yang Salah dengan Liverpool di 2017

Menengok perkembangan Rice selama berbaju West Ham, rasanya wajar bila ia diminati tim-tim lain yang lebih mapan. Berposisi natural sebagai gelandang bertahan, Rice dikenal cekatan dalam meredam progresi lawan sebab ia pandai membaca arah permainan.

Alih-alih melancarkan tekel kasar yang berujung pelanggaran, Rice menunjukkan kecerdasannya dalam menutup ruang dengan menekan pemain yang membawa bola ke sisi tepi. Selain menyempitkan ruang, tekanan yang ia lakukan juga membuat lawannya tak memiliki banyak opsi umpan sehingga kemungkinan untuknya merebut penguasaan bola jadi semakin besar.

Selain itu, Rice juga tak ragu memanfaatkan keunggulan fisiknya buat mengganggu pergerakan pemain lawan sekaligus memenangi duel-duel udara (baik first ball maupun second ball) guna melakukan progresi maupun transisi. Wajar kalau presensinya di sektor tengah jadi jaminan tersendiri.

Lebih jauh, ia juga andal dalam urusan mendistribusikan bola dan mengatur tempo. Rice tahu kapan harus cepat-cepat mengirim bola ke depan, kapan harus menahannya terlebih dahulu seraya memindai cara serta bentuk lawan ketika bertahan.

Kemampuan ini dilengkapinya dengan akurasi umpan yang presisi sehingga Rice dapat memanfaatkan celah-celah kecil di lini pertahanan musuh buat memanjakan gelandang serang, winger maupun striker West Ham. Walau tak sering mengukir asis, tetapi dirinya bisa menjadi inisiator pemecah kebuntuan tim.

Rapor demikian jelas selaras dengan keinginan Chelsea memperkuat armada di sektor tengahnya. Praktis, selain Jorginho dan N’Golo Kante, tak ada lagi gelandang The Blues yang atribut defensifnya menonjol. Perekrutan Rice yang merupakan karib gelandang Chelsea lainnya, Mason Mount, diharapkan bisa menambal kekurangan tersebut.

Bahkan dalam kondisi darurat, Rice bisa ditarik lebih ke belakang untuk mengisi pos bek tengah. Di posisi tersebut, ia bisa bertandem dengan Cesar Azpilicueta, Andreas Christensen, Antonio Rudiger, Thiago Silva, ataupun Kurt Zouma. Sebuah keserbabisaan yang menjadi nilai plus dari figur kelahiran 14 Januari 1999 ini.

BACA JUGA:  Mengangkut Sepakbola dengan Mobil Formula 1

Momen perkembangan Rice sebagai pesepakbola eksepsional masih begitu panjang. Satu-satunya hal yang mesti dirinya lakukan adalah memaksimalkan waktunya dengan baik. Terus menempa kemampuan, mereduksi kelemahan dan meningkatkan kelebihan jadi syarat eksistensi Rice pada masa yang akan datang.

Bila sanggup melakukan itu semua secara konsisten, maka telinga kita takkan kaget saat mengetahui bahwa pemain bernomor punggung 41 ini merupakan sosok berkaliber bintang. Entah di Chelsea atau klub sepakbola mapan lainnya, Rice bisa mengeluarkan segenap potensinya. Namun satu yang pasti, West Ham bukanlah tempat ideal untuk mengejar seluruh impiannya tentang sepakbola.

Komentar
Penggemar sepakbola nasional maupun internasional yang dapat disapa via akun Twitter @yud1ka