Tren Bisnis Sepakbola Indonesia Berubah, PSSI Tidak

Setiap tahun, setiap musim, bahkan sebelum pandemi Covid-19 datang, sepakbola Indonesia berada pada tahap menunda putus asa.

Tampak gemerlap di permukaan, tetapi sulit menghilangkan aura pesimistis lantaran begitu banyak sebab.

Lalu, belakangan ini muncul fenomena pebisnis dan selebriti yang menerabas masuk ke hutan belantara pengelolaan klub sepakbola Indonesia.

Apakah hal itu cukup menghadirkan optimisme? Bisa jadi. Setidaknya lebih baik ketimbang dicengkeram politisi.

Semoga saja ini bukan tren ala ikan louhan, batu akik, dan gelombang cinta. Atau tren tanaman hias berharga ratusan juta yang begitu cepat melejit dan tiba-tiba hilang begitu saja.

Apakah ini pembuka tulisan yang pesimistis? Tidak juga. Anggap saja skeptis.

Pengelolaan klub sepakbola di Indonesia memang terus berkembang sejak tidak lagi menyusu kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Bahkan, beberapa tahun belakangan, meski masih pseudo-profesional, terjadi perkembangan yang positif dengan masuknya para pebisnis ke industri sepakbola.

Klub mantan perserikatan seperti Persebaya, Persib, dan Persija dikelola oleh sosok-sosok profesional. Pengelolaannya pun semakin kekinian. Bali United dan Borneo FC juga menjadi pionir dari klub generasi baru.

Kemudian, ada Bhayangkara FC yang sekarang berbasis di Solo. Klub ini unik.

Penonton sedikit, saya pun ragu penjualan merchandise mereka laku keras, dan pendapatan dari hak siar, ya, sama saja.

Akan tetapi, mereka punya kekuatan dana untuk mengumpulkan para pemain berlabel bintang dengan harga mahal. Mungkin, masih mungkin, nih, pendapatan dari sponsornya memang luar biasa.

Nah, tren di Liga 1 itu kini mengucur ke bawah, tepatnya menuju Liga 2. Bahkan, bisa dibilang paling heboh pada musim ini.

Memang masih ada, sih, klub semodel Kalteng Putra yang bikin publik pesimistis. Namun ada angin segar baru dari beberapa klub.

Kalau musim sebelumnya ada Sulut United, kini ada beberapa klub ”baru” yang siap mengguncang kemapanan nama lawas seperti PSIM, PSMS, dan Sriwijaya FC. Alhasil, Liga 2 menjadi lebih menarik dinantikan persaingannya.

Putra Sinar Giri yang sebelumnya berkandang di Gresik hijrah ke Pati dan menggunakan nama Putra Safin Group (PSG). Mereka dibekingi oleh Wakil Bupati Pati.

Lalu ada Dewa United yang bermarkas di Tangerang dan sebelumnya berwujud Martapura FC.

Tak ketinggalan, dua klub yang akhir-akhir ini konsisten mendatangkan kehebohan yakni Persis dan Cilegon United.

Nadi Persis kembali berdenyut kencang usai trio Kaesang Pangarep, Kevin Nugroho, dan Erick Thohir masuk sebagai pemilik baru.

Bagi saya, perekrutan ini lebih mentereng dibanding Persib yang menggamit Carlton Cole atau gosip Kalteng Putra mau membajak Diego Forlan.

BACA JUGA:  Murka Shin Tae-yong

Tanpa tedeng aling-aling, Kaesang pun membidik kesempatan promosi ke Liga 1 di tahun pertamanya mengomandoi tim.

Sementara Cilegon United kini sudah dimiliki aktor kenamaan Indonesia, Raffi Ahmad, yang mengakuisisi klub tersebut bersama rekannya, Rudy Salim.

Dalam rilis resminya beberapa waktu lalu, nama klub berubah menjadi RANS Cilegon FC. Pun dengan logonya.

Konon, kesebelasan yang satu ini digelontor dana 300 miliar Rupiah hanya untuk membangun akademi sepakbolanya.

Entah berapa banyak dana yang akan dikeluarkan buat mengarungi kompetisi Liga 2 (andai digelar di tahun 2021).

Entah siapa yang membisiki Kaesang dan Kevin atau Raffi dan Rudy soal prospek bisnis sepakbola tanah air.

Harapan saya, mereka kuat serta tidak mudah patah hati dengan iklim negatif yang masih tersisa dari para ”cukong” lawas. Apalagi mereka masuk di kala pandemi Covid-19 belum reda.

Saya antusias dengan hadirnya muka-muka baru di sepakbola tanah air. Mereka menyuntikkan harapan bahwa bisnis sepakbola yant belum meyakinkan untuk beroleh keuntungan besar atau setidaknya masih bakar duit tetaplah berpotensi.

Kehadiran mereka memperbanyak orang-orang profesional yang menantang kemapanan.

Memang, masih banyak keraguan akan bisnis sepakbola. Jangankan di negeri +62, di level dunia pun bukan sesuatu yang bisa langsung menghadirkan keuntungan finansial besar.

Itulah mengapa sebuah firma manajemen keuangan, Deloitte, membuat daftar peringkat klub terkaya di dunia dengan nama Football Money League berbasis pendapatan kotor.

Kok, bukan berdasarkan keuntungan klub? Alangkah lebih adil apabila dihitung pendapatan dan pengeluaran dari sebuah klub sehingga ujungnya bisa ketahuan mereka meraih untung atau justru merugi.

Masalahnya adalah klub yang untung itu sedikit. Sudah begitu sedikit untungnya. Ini bukan kegusaran baru.

Simon Kuper dan Stefan Szymanski sudah membeberkannya dalam buku mereka yang berjudul Soccernomics. Penghasilan klub elite memang fantastis, tetapi labanya tak segemerlap itu.

Berdasarkan Football Money League untuk musim 2019/2020, Barcelona ada di posisi teratas dengan pendapatan terbesar. Mereka meraup 741,1 juta Euro atau kurang lebih setara Rp 12,5 triliun.

Dari pendapatan sebesar itu berapa keuntungan Barcelona? Tidak ada. Bahkan, berdasarkan publikasi resmi klub, mereka merugi 97 juta Euro (Rp 1,6 triliun). Pandemi Covid-19 bikin mereka dalam kesulitan.

Dalam rilisnya, raksasa Catalan itu menjelaskan bahwa pendapatan mereka sebesar 855 juta Euro (lebih tinggi ketimbang hitungan Deloitte). Namun itu tetap di bawah proyeksi awal musim sebesar 1,047 miliar Euro.

Benar, pandemi Covid-19 memang mengacaukan semua proyeksi dan skenario. Bisnis sepakbola menjadi kocar-kacir.

Namun jauh sebelum itu, Deloitte selalu menghitung menggunakan pendapatan. Bukan laba atau rugi.

BACA JUGA:  Jose Mourinho dan Anomali Pelatih di Chelsea

Mari kita abaikan soal keuntungan finansial besar itu dan kembali mengamati skena pengelolaan sepakbola nasional.

Sebab ada tantangan yang bahkan lebih besar ketimbang pandemi Covid-19 di Indonesia.

Konyolnya, tantangan besar itu justru datang dari federasi sepakbola Indonesia (PSSI) dan PT. Liga Indonesia Baru sebagai operator kompetisi.

Sejak lama, Azrul Ananda yang merupakan presiden Persebaya bicara soal syarat agar kita punya liga yang kuat dan berkelanjutan.

Liganya harus sehat, kemudian klub kontestan juga sehat, dan ujungnya para pemain akan sejahtera. Dia sudah mempraktekkan itu.

Ya, ketika menjadi pengelola liga basket profesional National Basketball League (NBL), Azrul menata operator kompetisinya terlebih dulu.

Kemudian secara perlahan pembenahan terjadi di level klub. Dan ujungnya para pemain bisa nyaman walau gajinya tak sebesar pemain sepakbola.

Dengan semakin banyaknya sosok-sosok profesional yang berkecimpung dalam bisnis sepakbola, potensi untuk menghadirkan kesebelasan yang sehat akan semakin besar.

Namun apakah itu dibarengi dengan liga yang sudah sehat? Ehem, tunggu dulu.

Entah menurut pembaca, tetapi bagi saya, federasi dan operator belum menjadi bagian dari solusi. Ironisnya mereka justru menjadi salah satu akar masalahnya.

Hal ini tampak jelas dengan berbagai keputusan mereka musim lalu ketika pandemi dimulai.

PSSI dan PT. LIB sangat plin-plan dalam mengambil keputusan apakah melanjutkan kompetisi atau menghentikannya.

Pada akhirnya, mereka berkeputusan untuk menghentikan kompetisi. Namun butuh waktu nyaris satu tahun untuk menentukan hal tersebut sehingga membuat seluruh kesebelasan di tanah air hidup dalam ketidakpastian.

Digelarnya Piala Menpora 2021 sebagai turnamen pra-musim usai mendapat izin pihak Kepolisian dalam menggelar hajatan sepakbola sekaligus menggunakan ajang tersebut sebagai sebelum melangsungkan kompetisi Liga 1, Liga 2, dan Liga 3, apakah kepastian dari berlangsungnya liga sudah bisa dijamin?

Nahasnya, baik PSSI dan PT. LIB sendiri belum tahu pasti. Lebih-lebih para klub atau suporter seperti saya. Satu-satunya hal yang kita miliki saat ini hanyalah asa.

Kabarnya, jadwal Liga 1 sudah disiapkan. Rancangannya pun konon sudah tersosialisasikan.

Lantas, apakah izin dari Kepolisian akan turun dengan mudahnya? Status Ketua Umum PSSI saat ini yang merupakan mantan Polisi juga tidak bisa dijadikan garansi.

Padahal, bisnis sulit berjalan dengan baik tanpa kepastian. Bukan hanya kepastian jadwal, melainkan juga regulasi serta bagi hasilnya. Karena itu, saya masih kesulitan untuk optimistis, tetapi juga menolak pesimistis.

Wajar bila saya juga bertahan pada skeptisisme dan menunggu terbukanya segala fakta yang ada dalam tata kelola sepakbola Indonesia.

Komentar
Suporter fanatik PS Kupang dan AC Milan. Penulis buku Pesta, Bola, dan Cerveja. Dapat disapa via akun Twitter @ilhamzada