Hikmah di Balik Euro 2016

Euro 2016 sudah melewati fase grup. Ada yang bertahan, ada juga yang terhempas. Ada penjudi yang menang banyak, ada yang bangkrut. Ada pemain yang layak disanjung, ada yang layak dicibir. Dan tentu saja, dari semua yang baik dan yang buruk itu terdapat hikmah yang laik diambil. Kullu syaiin dzu hikmatin.

Untuk itulah, di bulan Ramadan yang penuh rahmat ini, saya sengaja menyarikan beberapa hikmah dari gelaran Euro 2016 yang sudah sepatutnya jamaah Fandom ketahui, yaitu:

Pertama, usia boleh tua, tapi daya juang tak boleh surut.

Sebagai tim dengan rata-rata usia pemain (juga suporternya di Indonesia) tertua sepanjang sejarah Euro, 30+, Italia toh berhasil menunjukkan permainan yang memukau.

Tak loyo dan ringkih macam sekumpulan orang tua yang menanti uang pensiunan. Tapi malah macam om-om pujaan mamah muda yang kinyis-kinyis, tangguh dan matang!

Tak tanggung-tanggung, tim besutan Antonio Conte ini mampu menang di dua laga fase grup. Belgia jadi korban pertamanya, dua gol tanpa balas. Bagi yang menonton pertandingan itu, tentu tahu bagaimana Eden Hazard dkk seperti sekumpulan bocah yang belajar main bola pada bapaknya.

Lalu Swedia yang kalah 1-0. Dan kita menyaksikan bagaimana Zlatan Ibrahimovic tak mampu mengimbangi daya jelajah Parollo, yang akhirnya mencetak rekor sebagai pemain dengan daya jelajah paling tinggi dalam satu pertandingan, 12,570 km.

Sedangkan Italia sendiri jadi tim dengan daya jelajah tertinggi, 337 km selama 270 menit, atau setara 49,5 jam pertandingan sepak bola normal. Sebuah perjuangan yang jauh melampaui tim-tim lain dengan komposisi anak-anak muda kinyis-kinyis.

Soal kekalahan Italia melawan Irlandia Utara, saya hanya percaya karena tak ada satu pemain SS Lazio pun yang diturunkan di pertandingan itu.

BACA JUGA:  Menyoal Gemellaggio dan Para Pelakunya di Serie A

Lalu kedua, jangan menjadi sombong.

Hikmah yang kedua ini tak lain hanya bisa kita ambil dari satu nama: CR7! (Saya memang lebih suka menyingkat namanya).

Sebelum gelaran Euro 2016, CR7 sempat sesumbar kepada majalah Undici, “Where would I rate myself amongst the top players of the last twenty years? Thinking positively, then I believe with what I’ve achieved, I’m the best of the lot.

Kira-kira artinya, “Di mana gue bakal berada di antara para pemain bola selama 20 tahun terakhir? Yowes jelas, secata prestasi yang gue dapet, gue paling keren dari semuanya!

Astaghfirullah. Si CR7 ini semacam tak pernah diajari cara merendah untuk meninggi saja. Sombong kok gak elegan blas. Kan bisa saja ngomong, “aku mah apa atuh, cuma juara Liga Champion tiga kali di dua klub berbeda.”

Faktanya, jauh api dari panggang. Jangankan layak disebut sebagai pemain terbaik dua dekade terakhir, di Euro 2016 pemain satu ini hanya sukses menjadi lelucon bagi para penonton bola sejagad.

Dari 38 tembakan, hanya 12 yang mengarah ke gawang dan hanya 2 gol tercipta. Selebihnya meleset dan satu tendangan penalti gagal. Ia pun menjadi pemain Portugal pertama yang gagal menendang penalti di turnamen major.

Kalau dibandingkan dengan rekan setimnya, Bale, atau Morata yang pernah berseragam Madrid juga, ya jauh. Kedua pemain itu selama fase grup saja masing-masing sudah mengantongi 3 gol dari 12 tembakan (Bale) dan 7 tembakan (Morata).

Di sini sih saya cuma inget sebuah maqolah Arab, “la tahtaqir man dunaka, likulli syaiin maziyatun.” Yang artinya, jangan meremehkan orang yang lebih rendah darimu, karena setiap seorang punya kelebihannya masing-masing. Dan saya semakin percaya Tuhan selalu punya cara menarik untuk menendang bokong orang-orang sombong.

BACA JUGA:  4 Dokumenter Sepakbola yang Wajib Kamu Tonton

Dan terakhir, bagaimanapun membawa hikmahnya Euro 2016, lebih bermanfaat kalau menghabiskan waktu untuk beribadah di bulan Ramadan. Bila itu dilakukan, Insya Allah judi bola lancar. Namanya juga bulan penuh berkah!

 

Komentar
Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional UIN Syarif Hidayatullah