Jalan Berliku Si Kurus

Nama Kurniawan Dwi Yulianto tak pernah bisa dilepaskan dari sejarah sepak bola Indonesia. Dia telah memberi beragam warna bagi persepakbolaan negeri ini sejak namanya mencuat medio 1990-an.

Dia tidak seperti Bambang Pamungkas yang dibicarakan mengenai loyalitasnya, sikap beraninya ketika terjadi konflik di persepakbolaan, kemampuan dirinya membentuk personal brand sehingga jadi bintang iklan berbagai produk, juga berbagai rekor yang dia catatkan untuk klub dan tim nasional. Kurniawan tak selalu berbicara mengenai hal yang baik-baik saja.

Pemuda asal Magelang itu sebenar-benarnya memberi warna, yang mencerahkan maupun jadi potret buram sepak bola Indonesia.

Berbeda dengan Bambang Pamungkas yang setia dengan Persija Jakarta dan hanya sempat semusim membela Pelita Bandung Raya –selain membela dua klub luar negeri EHC Norad dan Selangor FA—Kurniawan telah bermain untuk setidaknya enam belas klub mulai dari FC Luzern hingga Persipon Pontianak.

Catatan 31 golnya untuk timnas juga masih kalah dari juniornya di Diklat Salatiga itu yang mencetak 34 gol. Meski Bepe –sapaan akrab Bambang Pamungkas—jujur menyatakan mengidolakan Kurniawan Dwi Yulianto, pencapaiannya lebih baik dari sang senior ditilik dari catatan statistiknya untuk timnas Garuda.

Namun, ketika berbicara tentang lika-liku dalam dunia sepak bola, Si Kurus –panggilan Kurniawan Dwi Yulianto—jelas pantas lebih jemawa. Dia punya berbagai hal untuk diceritakan dan tidak lurus-lurus saja.

Kurniawan ketika di Diklat Salatiga. Sumber: Arief Firhanusa (Kompasiana).
Kurniawan ketika di Diklat Salatiga. Sumber: Arief Firhanusa (Kompasiana).

Pria kelahiran 13 Juli 1976 ini memulai karirnya di Diklat Salatiga. Dia kemudian hijrah ke Diklat Ragunan. Namanya kemudian mulai dikenal setelah masuk sebagai salah satu pemain muda yang dikirim ke Italia dalam program timnas Primavera. Pengiriman satu tim yang berisi pemain muda berbakat tersebut dibiayai oleh seorang pengusaha gila bola yang hingga kini masih memiliki pengaruh kuat bagi persepakbolaan nasional, Nirwan Bakrie.

Tim ini dititipkan ke Sampdoria dan berlaga di Serie C2. Potensi Kurniawan mulai terlihat dan pada tahun kedua dia masuk tim Primavera Sampdoria. Dirinya pun sempat masuk dalam skuat yang menjalani tur lawatan ke Asia pada tahun 1994. Salah satu kota yang dikunjungi adalah Jakarta.

Bermain di Senayan –kini Gelora Bung Karno—Kurniawan tampil sebagai pemain inti bermain bersama pemain bintang seperti Roberto Mancini dan Attilo Lombardo. Kurniawan mencetak satu gol saat itu. Sejak itulah dia mulai dicintai oleh publik Indonesia yang punya ekspektasi tinggi untuk memiliki pesepak bola yang bisa bersaing di Eropa.

BACA JUGA:  Semangat Pantang Menyerah dari Memori Piala Tiger 2002

Sayangnya ketika dia rindu kampung halaman dan berniat pulang, publik menghujatnya tak tahu terima kasih. Dia juga sempat ditolak masuk tim nasional. Pada periode buruk inilah, bersama Danurwindo, Kurniawan mencoba mencari klub lain di Eropa hingga akhirnya diterima FC Luzern, Swiss.

Punya klub belum tentu semuanya menjadi lebih mudah. Faktor tak mudahnya adaptasi dan sempat beberapa kali dibekap cedera, Kurniawan gagal memperoleh tempat di tim utama. Dia hanya sebagai penghangat bangku cadangan.

Hingga akhirnya kesempatan itu datang. Tanggal 9 April 1995, FC Luzern menghadapi klub kuat, FC Basel. Tak disangka Kurniawan diberi kesempatan menjadi pemain inti oleh Jean-Paul Brigger yang ketika itu menjadi pelatih kepala. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Kurniawan tampil baik dan mencetak satu gol pada menit 23. Dia bermain selama 87 menit dalam pertandingan yang akhirnya dimenangi Luzern dengan skor tipis 2-1.

Ketika karirnya mulai menemukan jalannya, ada saja yang mengganjal. Satu setengah musim di Luzern, Kurniawan harus keluar setelah aturan pemain non Eropa diberlakukan membuatnya kesulitan mendapat tempat. Kurniawan pun kembali ke Indonesia. Dia bermain untuk Pelita Jaya, klub yang juga dimiliki oleh yang mendanai tim Primavera.

Dia kembali dengan status pemain bintang. Tak banyak pemain Indonesia yang bisa menembus Eropa dan itu yang membuat Kurniawan punya level berbeda dengan pemain Indonesia lainnya. Dia pun disebut sebagai pemain dengan gaji termahal yang bermain di Liga Indonesia.

Selain itu dia kemudian dikenal sebagai pemain yang gemar bergonta-ganti klub. Setelah dari Pelita Jaya dia sempat mencicipi karir bersama PSM Makassar, PSPS Pekanbaru, Persebaya Surabaya, Persija Jakarta, Sarawak FA (Malaysia), PSS Sleman, Persitara, Persisam Samarinda, Persela Lamongan, PSMS Medan, Tangerang Wolves, PPSM Kartika Nusantara, hingga akhirnya memutuskan pensiun setelah membela Persipon Pontianak.

Ada berbagai cerita dalam perjalanan karir Kurniawan. Di timnas, setelah pernah ditolak timnas, dia sempat kembali masuk skuat timnas menjelang SEA Games 1999 yang dilatih oleh Bernard Schum. Sayang ketika itu dia gagal bersaing dengan Bambang Pamungkas, Rochi Putiray, dan Widodo Cahyono Putro sehingga tersisih. Salah satu momen terbaik –yang diingat oleh penulis— pemain bertinggi 173cm ini adalah di Piala Tiger 2004 –saat ini Piala AFF—ketika dia tampil baik sebagai pelapis Ilham Jaya Kesuma dan jadi pahlawan di semifinal saat menghadapi Malaysia.

BACA JUGA:  Beri Aplaus untuk Fred

Seperti yang telah disebutkan, kisah tentang Kurniawan tak melulu hal yang baik-baik saja. Salah satu penyerang yang paling disegani di Indonesia ini pernah terlibat masalah narkoba. Ketika itu Liga Indonesia VI, dia bermain untuk PSM Makassar. Kuncoro, rekan setimnya yang tertangkap basah sakaw dan harus dilarikan ke Rumah Sakit Dr. Soetomo kemudian buka suara bahwa dia tak sendirian. Melainkan bersama dengan Mursyid Efendi, pemain Persebaya. Mursyid kemudian menyebut nama Kurniawan sebagai sang pemilik sabu-sabu yang dikonsumsi bersama-sama.

Kontroversi tersebut terus bergulir hingga menyita perhatian komisi disiplin PSSI dan sang ketua umum saat itu, Agum Gumelar. Meski akhirnya diputuskan tak bersalah, Kurniawan di kemudian hari mengaku sempat kecanduan narkoba. Beruntung dia akhirnya bisa bangkit dan lepas dari belenggu obat haram tersebut.

Sepengetahuan penulis, Kurniawan juga jadi pemain sepak bola awal yang menghiasa media massa tentang hal yang tak terkait dengan lapangan hijau. Perseteruannya dengan Kartika Dewi, istri pertama yang diceraikannya pada tahun 2003 ramai diperbincangkan. Jauh sebelum wajah Irfan Bachdim menghiasi infotainment, Kurniawan melakukannya lebih dulu.

Kini, setelah pensiun, Kurniawan menetap di Kuching, Malaysia. Dia punya restoran bernama Kopi O Corner yang dia kelola bersama istrinya yang seorang warga negara Malaysia. Tapi, Si Kurus tak sepenuhnya lepas dari sepak bola.

Kurniawan tetap berusaha terlibat aktif dalam persepakbolaan nasional. Dia merintis karir sebagai pelatih dengan mengambil lisensi C AFC. Dia kemudian melatih Chelsea Soccer School dan menjadi pemandu bakat untuk acara pencarian pemain muda berbakat yang diadakan oleh salah satu perusahaan sampo terkemuka. Sembari itu, Kurniawan mencoba untuk meningkatkan lisensinya agar bisa terus mengembangkan karir kepelatihannya.

Selamat ulang tahun Kurniawan, semoga kelak bisa memberi warna cerah bagi persepakbolaan negeri ini sebagai pelatih klub maupun tim nasional.

Komentar
Sirajudin Hasbi
Akrab dengan dunia penulisan, penelitian, serta kajian populer. Pribadi yang tertarik untuk belajar berbagai hal baru ini juga menikmati segala seluk beluk sepak bola baik di tingkat lokal maupun internasional.