Jalan Sunyi Mario Balotelli

Menjelang hajatan besar Euro 2016 yang akan mentas pada 10 Juni mendatang, pelatih timnas Italia, Antonio Conte merilis daftar 30 pemain sebagai kerangka tim. Dari jumlah tersebut, kini sudah dipadatkan menjadi 23 pemain utama yang berlaga dan 7 pemain sisanya berstatus tunggu.

Kehebohan pun muncul terkait pemilihan ke-30 nama (yang kemudian menjadi 23) yang dipercaya Conte sebagai bagian dari skuat Gli Azzurri. Alih-alih mendapat sanjungan, cibiran terhadap sang Allenatore justu yang bertebaran, banyak di antaranya dapat kita temui di media sosial.

Bila menilik dari komposisi pemain, Conte hanya memanggil empat pemain yang berasal dari klub di luar tanah Italia. Selain itu, mayoritas pemain yang dipanggil merupakan skuat Juventus yang notabene adalah mantan anak asuhnya.

Beberapa pemain juga dianggap tak layak masuk timnas Italia dengan alasan jam terbang dan performa seperti Sirigu (kiper), Andrea Barzagli (bek), Daniele Rugani (bek), Emanuele Giaccherini (tengah), dan Eder (depan).

Sedangkan pemain yang bermain bagus dan berkontribusi baik pada tim sepanjang musim seperti Gianluigi Donnarumma (kiper), Alessio Romagnoli (bek), Sebastian Giovinco (depan), Andrea Pirlo (tengah), dan Andrea Belotti (depan) justru disingkirkan.

Uniknya, dari sekian banyak perdebatan yang terjadi, sedikit sekali orang yang membicarakan ketidakhadiran nama Mario Balotelli dalam rilisan yang dikemukakan di atas.

Pemain yang dahulu paling diharapkan kebintangannya ini justru jauh panggang dari api. Hal ini menjadi sebuah kewajaran, sebab selama dua musim terakhir, Super Mario—julukan Balotelli—mengalami kemunduran dalam karier sepak bolanya, terutama dari segi kualitas bermain.

Selama masa peminjaman di AC Milan, pemain berusia 25 tahun ini gagal tampil impresif. Sebagai pemain yang berposisi sebagai penyerang, ia tak mampu mencetak banyak gol.

Tercatat Balo hanya mencetak 3 gol di 23 laga kompetitif (Serie A & Coppa Italia). Gol terakhir yang dicetaknya adalah ketika melawan tim kasta dua Italia, yakni klub Alessandria di leg kedua semifinal Coppa Italia pada bulan Mei lalu.

Setelahnya namanya tak pernah lagi tercantum di papan skor. Hal ini seperti de javu ketika ia memperkuat Liverpool. Selama tampil di depan publik Anfield, pemain yang dikenal dengan selebrasi memamerkan kaus “Why Always Me?” ini hanya mencetak 4 gol selama semusim.

Sejatinya tidak dipanggilnya Balo sebenarnya memang sudah bukan hal yang asing. Pasca-Conte mengambil alih jabatan sebagai pelatih timnas Italia dua tahun lalu, tepatnya sejak Juli 2014 lalu, nama Balo tak pernah lagi tercantum dalam daftar nama yang dipanggil timnas.

Kiprah terakhir pemain yang dibeli Liverpool dari AC Milan seharga 16 juta poundsterling ini bersama timnas pada ajang Piala Dunia 2014, dan setelah itu, dia dilupakan. Conte lebih memilih pemain yang namanya kurang dikenal seperti Eder, Manolo Gabbiadini, Simone Zaza, dan Graziano Pellè sebagai penyerang.

BACA JUGA:  Tangan Dingin Roberto Mancini

Hal ini justru berbeda bila dibandingkan era pelatih sebelumnya, yakni Cesare Prandelli. Balo selalu masuk dalam skuat timnas bahkan menjadi pilihan utama. Prandelli bahkan memuji mantan kekasih Raffaella Fico itu sebagai satu dari lima pemain terbaik di dunia.

“Dia punya potensi menjadi salah satu dari lima pemain terbaik di dunia namun untuk mencapai itu dia perlu banyak kontinyuitas yang sementara ini dia miliki,” puji Prandelli seperti yang dilansir Antaranews.

Bila selama ini Balo dikenal sebagai pemain yang punya segudang kontroversi baik di dalam maupun di luar lapangan. Mulai dari membakar rumahnya sendiri, bolos latihan hingga berkelahi dengan pelatih.

Namun ketika comeback ke AC Milan di awal musim, sikapnya perlahan mulai berubah menjadi lebih dewasa. Ia tak lagi menjadi media darling seperti saat di Inggris.

Hubungan dengan rekan setim juga manajemen klub menjadi lebih baik. Hal ini dibuktikan dengan sikap pemain berdarah Ghana ini selalu datang pertama dan pulang terakhir saat sesi latihan. Bahkan ia yang membuka gerbang Milanello (pusat pelatihan Milan).

Entah “jalan sunyi” yang kini dilakukan Balo ini antara karena ia memang telah menjadi dewasa atau perihal klausul anti skandal yang disepakati selama bermain di AC Milan, dimana segala tingkah laku, baik di dunia nyata maupun di dunia maya diamati baik-baik oleh pihak klub.

Menurut Sinisa Mihajlovic, mantan pelatih AC Milan ini menyebutkan bahwa sebenarnya pemain yang menyisihkan sebagian gajinya untuk kegiatan amal ini kesulitan tampil baik di Milan adalah faktor cedera hernia (turun berok) pada awal musim. Menurutnya cedera tersebut membuat mental Balo sedikit terganggu.

“Kondisi fisik Balotelli sangat bagus. Namun secara psikologis tidak demikian. Mentalitas Balotelli harus diperbaiki. Hal itu selalu menjadi masalahnya hingga saat ini,” ujar Sinisa Mihajlovic dikutip dari Metronews.

Meski dipuji sikap dan penampilannya membaik saat di AC Milan, namun pada akhirnya Silvio Berlusconi, bos klub AC Milan ini lebih memilih untuk tidak melanjutkan peminjaman Balo dan secara otomatis akan kembali ke klub lamanya, Liverpool.

Di Liverpool sendiri, status pemain yang menghabiskan karier di junior di Lumezzane ini bakal terombang ambing. Pasalnya semua orang tau, dirinya sudah tidak lagi dibutuhkan di sana sejak era kepemimpinan Brendan Rodgers berakhir. Bahkan Jurgen Klopp, pelatih Liverpool saat ini tak memasukan namanya dalam rencana tim di musim depan.

BACA JUGA:  Jalan Maignan Menuju Milan

Solusi terbaik pastilah dengan melego Balo ke klub lain, karena bila tetap bertahan—entah karena tidak laku atau permintaan gaji besar yang tidak disanggupi klub lain—tentunya hanya akan memenuhi kuota bench Liverpool. Dan bangku cadangan pun ia harus bersiap untuk bersaing dengan Benteke atau pemain lain yang didatangkan Liverpool di bursa transfer.

Berjudi dengan Balotelli

Meski dianggap gagal menampilkan penampilan terbaik dalam dua musim dan sebagai imbasnya adalah gagal masuk skuat Italia untuk ajang Piala Eropa 2016, namun pesona pria berzodiak Leo tersebut masih mampu memikat beberapa klub untuk meminangnya.

Crotone, klub yang baru promosi ke Serie A menyatakan minat besarnya untuk mendatangkan pemain yang sempat masuk dalam 100 orang paling berpengaruh di dunia pada 2013 lalu ini ke markas mereka.

Tak hanya itu, mereka bahkan berniat memberikan ban kapten kepadanya. Namun Crotone harus terkendala lantaran gaji Balo yang sebesar 110 ribu poundsterling per pekan tak mampu disanggupi oleh Crotone.

Selain Crotone, Sampdoria yang juga menyatakan minat serupa. Klub yang berbasis di Genova ini sering dicitrakan sebagai klub yang mampu menyelamatkan karier pemain yang sebelumnya dinyatakan flop.

Nama Antonio Cassano merupakan bukti sahih kedahysatan tim ini mengembalikan performa pemain yang sebelumnya turun. Namun Il Samp hanya ingin mendatangkan Balo dengan catatan Liverpool bersedia melepasnya dengan status bebas transfer.

Namun sepertinya manajemen The Reds—julukan bagi Liverpool—lebih condong untuk melego Balo ke Fiorentina sebagai bagian dari tukar guling dengan Josip Ilicic, pemain yang sepanjang musim mampu mencetak 15 gol bagi La Viola ini merupakan pemain yang diidamkan oleh Jurgen Klopp untuk menjadi juru dobrak Liverpool musim depan.

Namun siapa pun klub yang akan menampung pemain yang identik dengan nomor 45 ini harus siap berjudi. Meski sikapnya membaik, belum ada jaminan kemampuannya juga membaik.

Dua musim bukan waktu yang sebentar menilik performa angin-anginan pemain yang sempat dianggap mampu menyamai level Ronaldo dan Messi oleh legenda AC Milan Gianni Rivera.

Pada akhirnya semuanya dikembalikan oleh Balo sendiri, apakah ia akan tetap menyusuri jalan sunyi, jalan yang jarang dilalui orang, jalan yang hanya dimilikinya sendiri.

Sejatinya Balo sedang menginjak usia emas dalam jenjang karier pesepak bola baru. Dia kini berusia 25 tahun dan masih memiliki kesempatan untuk mengembangkan karier. Dunia masih menanti keajaiban yang pernah dia ciptakan kembali terulang.

 

Komentar
Penjaga gawang @id_fm yang jadi idaman setiap calon mertua. Bisa dihubungi melalui akun Twitter @handyfernandy.