Kante XI: Diawali Schemichel, Diakhiri Mbappe

Selamat ulang tahun, Kante!

Dua puluh sembilan tahun lalu, tepatnya 29 Maret 1991, seorang bayi laki-laki lahir di Paris dari orang tua yang merupakan imigran asal Mali. Dua setengah dekade setelahnya, bayi yang diberi nama N’Golo Kante itu menjelma menjadi pemain sepak bola yang disegani.

Kante memperoleh tiga gelar dalam tiga tahun berturut-turut. Dua gelar Premier League bersama Leicester City pada 2016 dan Chelsea pada 2017, serta trofi Piala Dunia pada 2018 dengan tim nasional Prancis.

Tentu ia ditemani oleh para pesepak bola yang tak kalah apik di tim-tim tersebut. Oleh karena itu, kami berusaha merangkum line up terbaik yang diisi oleh Kante dan pemain-pemain yang pernah mengenakan seragam yang sama dengannya.

 

Kasper Schmeichel sebagai Penjaga Gawang

Schmeichel benar-benar tidak diperhitungkan di awal musim 2015/2016, sama seperti timnya, Leicester City. Ia bahkan tidak dapat menjaga gawangnya untuk tetap tidak kemasukan pada sembilan laga pertama di musim itu.

Namun, performanya meningkat tajam setelah nirbobol melawan Crystal Palace. Hingga akhir musim, Schmeichel mencatatkan 12 kali cleansheet bagi The Fox. Sekaligus merengkuh gelar juara Premier League sama seperti ayahnya, Peter Schmeichel.

 

Pengawal Lini Belakang

Benjamin Pavard

Sebelum dipanggil Timnas Prancis untuk ajang Piala Dunia 2018, Pavard sudah menjadi tumpuan VFB Stuttgart di posisi fullback kanan. Pavard memang debutan di Timnas Prancis kala itu. Namun, ia menjelma menjadi andalan.

Ia berhasil menggalang pertahanan di area yang cukup besar di sisi kanan akibat Kylian Mbappe kerap naik meninggalkan posnya. Satu lagi yang sulit dilupakan adalah lesatan Pavard ke gawang Argentina yang menjadi gol terbaik sepanjang turnamen.

Raphael Varane

Varane datang ke Rusia sebagai juara Liga Champions bersama Real Madrid. Tak heran bahwa pelatih Timnas Prancis, Didier Deschamps, mengandalkannya sebagai salah satu palang pintu di depan Hugo Lloris.

Duel udara menjadi salah satu kekuatannya dalam bertahan. Selain itu, kemampuan kakinya juga hidup saat membawa bola. Memiliki akurasi umpan yang cukup apik, Varane sangat berguna tatkala timnya dalam fase membangun serangan.

BACA JUGA:  Menimbang Peluang Timnas Indonesia Lolos Fase Grup Piala AFF U-19

Wes Morgan

Morgan adalah orang yang memimpin kejutan demi kejutan Leicester City pada musim 2015/2016. Ia menjaga pertahanan bersama Robert Huth dengan konsentrasi yang luar biasa. Tak pelak, bek asal Jamaika itu masuk dalam Premier League PFA Team of the Year musim tersebut.

Akan tetapi, satu hal yang dominan dari Morgan adalah kepemimpinannya. Ia merupakan tipe kapten yang jarang berbicara. Namun, andai ia mengeluarkan kata-kata, seluruh tim akan menuruti omongannya. Bagi Claudio Ranieri, Morgan merupakan kapten yang sempurna.

Marcos Alonso

Musim 2016/2017 merupakan musim pertama Alonso di Premier League setelah didatangkan dari Fiorentina. Meski begitu, ia langsung dapat mencuri perhatian. Tak hanya mahir dalam bertahan, jebolan akademi Real Madrid itu juga berbahaya bagi pertahanan lawan.

Pada musim perdananya tersebut, ia berhasil membukukan 6 gol dan 3 asis selama satu musim dalam berbagai ajang. Catatan Alonso semakin mentereng dengan raihan trofi Premier League bersama Chelsea di akhir musim.

 

Kuartet Gelandang

Riyad Mahrez

Mahrez sangat dominan di sisi kanan penyerangan Leicester City musim 2015/2016. Pada empat laga awal musim tersebut, ia mampu mencatatkan empat gol. Kemudian, sayap asal Aljazair itu membukukan hattrick saat melawan Swansea City.

Ia dapat melakukan dribble, melepaskan umpan akurat ke kotak penalti, maupun menghajar sendiri si kulit bulat. Mahrez jelas merupakan momok bagi pertahanan lawan. Penampilannya yang amat ciamik dihadiahi pula penghargaan individu berupa PFA Players’ Player of the Year.

N’Golo Kante

Kante merupakan gelandang yang luar biasa. Dibalik senyum yang selalu ditampilkan, ia merupakan pekerja keras. Gelandang bertahan Prancis itu berlari kesana-kemari melakukan cover area yang amat besar demi menjaga pertahanan.

Ia merupakan perebut bola yang ulung. Kemampuan Kante melakukan intersep sangatlah masyhur dan dikombinasikan dengan pergerakan yang gesit. Keberadaannya membuat lini tengah tim yang dibelanya cukup tangguh untuk menahan gempuran serangan lawan.

 

View this post on Instagram

 

MC Pogba ft. DD chantent N’Golo Kanté 😍

A post shared by L’Équipe (@lequipe) on

Paul Pogba

BACA JUGA:  Frank Lampard: Pemberi Harapan Palsu

Tidak bisa disangkal bahwa Pogba merupakan pemain yang brilian. Kelengketannya dalam memegang bola serta visi dan tekniknya dalam melepas umpan memang luar biasa. Tak heran, pada Piala Dunia 2018, Prancis mengandalkannya sebagai motor serangan.

Ia merupakan dalang dibalik kemenangan Prancis di laga perdana dalam ajang tersebut ketika menghadapi Australia. Pogba juga berhasil mencatatkan namanya di papan skor melalui tendangan jarak jauh saat di laga final menghadapi Kroasia.

Eden Hazard

Hazard sangat licin apabila diberi ruang dan waktu. Si kulit bulat seakan-akan lengket di kakinya. Beroperasi di sisi kiri, ia kerap masuk ke dalam. Baik untuk memberi koneksi andai tidak membawa bola, maupun melakukan penetrasi jika sedang melakukan dribble.

Ia juga lihai dalam penyelesaian akhir. Total 16 gol ia bukukan pada musim 2016/2017 bersanding dengan 5 asis yang ia hasilkan. Selain berhasil mengangkat trofi Premier League, Hazard juga masuk dalam PFA Players’ Team of the Year pada musim tersebut.

 

Duet Penyerang Cepat

Jamie Vardy

Jamie Vardy having a party. Begitulah frasa yang menggambarkan kegemilangannya pada musim 2015/2016. Tidak terlalu dikenal sebelumnya, Vardy berhasil menunjukkan bahwa dirinya merupakan penyerang yang mematikan.

Bermodal kecepatan dan penyelesaian akhir yang apik, ia membukukan 24 gol pada musim itu, satu gol dibelakang Harry Kane yang merupakan top skor liga. Perjalanan karirnya yang seperti dongeng itu diakhir dengan raihan trofi Premier League dan termasuk dalam PFA Team of the Year.

Kylian Mbappe

Cepat merupakan kata yang tepat untuk mendeskripsikan Mbappe. Ia adalah sosok yang menakutkan apabila mendapat umpan terobosan ke ruang di belakang backline lawan. Pemain belakang manapun pasti khawatir andai harus adu lari dengannya.

Kecepatannya tersebut berhasil dimanfaatkan dengan baik oleh Deschamps untuk mengeksploitasi lini pertahanan lawan. Belum lagi finishing Mbappe yang juga menawan dengan bukti empat gol ia bukukan dalam Piala Dunia 2018. Ia juga berhasil menggondol penghargaan Best Young Player pada ajang itu.

Susunan Kante XI dengan Formasi 4-4-2
Komentar
Pendukung Persiba Bantul dengan akun twitter @AndhikaGila_ng