Kemenangan Sevilla dan Hegemoni Spanyol di Eropa

Sejak gol tunggal Fernando Torres ke gawang Jens Lehmann pada final Euro 2008, terhitung sudah delapan tahun Piala Henry Delauney tidak beranjak dari negara di barat daya Eropa ini. Hegemoni Spanyol terus ada dan seakan-akan diwariskan dari generasi ke generasi untuk dijadikan sebuah legacy yang susah dibendung.

Pada tiap rentang waktunya, tim-tim dari Spanyol pun telah menancapkan dominasinya di kompetisi antarklub di Benua Biru. Pada masa rezim pelatih jenius, Pep Guardiola, Barcelona dan permainan agung ala Catalan berhasil mendikte tim-tim di Eropa sebelum Jupp Heynckes datang dan merusak hegemoni tersebut di Liga Champions.

Tapi itu hanya sementara karena sejak 2014, nyatanya, Liga Champions hampir tidak pernah beranjak dari negara di Semenanjung Iberia tersebut. Dan musim ini pun, piala tersebut dipastikan tetap di Spanyol.

Di kompetisi kasta kedua, Liga Europa, dominasi Spanyol jauh lebih superior. Sejak 2010, dua tim Spanyol, Atletico Madrid dan Sevilla menjuarai lima kali kompetisi ini.

Atleti menjuarainya pada 2010 dan 2012, sedangkan Sevilla merajai kompetisi ini tiga kali beruntun sejak 2014, 2015 dan yang terbaru berkat kemenangan gemilang 1-3 dari Liverpool (19/5), menggenapkannya menjadi hattrick gelar bagi skuat besutan Unai Emery ini.

Hanya pada 2011 (Porto) dan 2013 (Chelsea) momen dimana tim Spanyol gagal merengkuh gelar di kompetisi ini.

Catatan ini menunjukkan bahwa dalam sewindu terakhir, kompetisi di benua Eropa mutlak dikuasai dan dimonopoli sepenuhnya oleh tim-tim dari Spanyol. Kemunduran taktikal yang dialami tim-tim dari Inggris, polemik perihal menurunnya pamor Liga Italia di mata dunia hingga dibarengi dengan munculnya pelatih muda hebat dari klub-klub di Spanyol yang mendominasi Eropa kemudian.

Guardiola mekar pada 2007 usai naik jabatan dari pelatih Barcelona B dan sejarah mencatatnya sebagai yang terbaik kala Barcelona merajalela di Eropa saat itu. Saat treble musim 2014/2015 lalu, Los Cules pun dinahkodai pelatih muda Spanyol, Luis Enrique.

Di Atletico kemudian muncul nama El Cholo, Diego Simeone yang memenangi Liga Europa bersama Los Rojiblancos pada tahun 2012 lalu sukses masuk final Liga Champions Eropa dua kali dalam tiga tahun terakhir. Dan jangan lupakan catatan ajaib Unai Emery bersama Sevilla yang begitu sensasional musim ini.

BACA JUGA:  Laga Pembantaian di Liga 2

Praktis, hanya liga Jerman yang mampu menjadi pesaing terbaik bagi liga Spanyol dalam beberapa musim belakangan. Terbantu dengan kegemilangan Borussia Dortmund di bawah asuhan Jurgen Klopp saat itu dan tentu saja, treble Bayern Munchen bersama Heynckes.

Tapi musim ini, sekali lagi, mengulang capaian dua musim terakhir, tim-tim dari pesisir pantai Mediterania kembali menjadi hegemon bagi kompetisi Eropa. Sevilla begitu digdaya di Liga Europa, sementara dua poros tim terkuat Spanyol yang diwakili Madrid dan Catalan saling berbagi jatah untuk menjuarai Liga Champions.

Catatan yang surealis, sekaligus menunjukkan bahwa kualitas sepak bola di Spanyol masih yang terbaik, setidaknya, di Eropa.

Hasil kelam di Piala Dunia 2014 memang mengecewakan, memberi sinyal bahaya yang penting bahwa kemunduran mulai menyapa bagi sepak bola Spanyol. Nyatanya, sejak kemenangan bersejarah tim nasional Jerman di benua Amerika itu, sepak bola Spanyol justru makin bergeliat dengan menempatkan wakilnya berturut-turut sebagai juara di kompetisi Eropa.

Ini tentu menjawab kritik dan keraguan publik tentang kapabilitas sepak bola di Spanyol. Ada desas-desus usai pembantaian 1-5 Belanda atas Spanyol di Piala Dunia lalu, bahwa tiki-taka telah mati.

Sayangnya, publik tidak paham bahwa sepak bola Spanyol tidak hanya permainan umpan pendek dari kaki ke kaki dan dimainkan dengan cara membentuk permutasi posisi dalam poros segitiga. Sepak bola Spanyol lebih dari hanya sekadar bualan tentang tiki-taka.

Spanyol dan Euro 2016

Delapan tahun sudah status juara Eropa diemban oleh La Furia Roja. Luis Aragones melakukannya di 2008 sebelum Vicente del Bosque menunjukkan kekuatannya kala menggilas tim kuat Italia di final Euro 2012 dengan skor telak 4-0.

Dua kemenangan dalam rentang delapan tahun terakhir memang menunjukkan gejala bahwa Spanyol adalah kiblat sepak bola modern. Pemain mereka lincah, taktis, dan cerdas.

Otot-otot kuat ala Sergio Ramos dan Gerard Pique dipadu dengan manis oleh kemampuan brilian Sergio Busquets, Andres Iniesta, hingga David Silva. Pada musim ini, banyak pemain muda bersinar dan mencuat hingga masuk ke skuat bayangan Spanyol untuk Euro 2016.

BACA JUGA:  Perseru dan Ironi Badak Lampung FC

Sebutlah Saul Niguez dan Koke dari Atletico Madrid serta Lucas Vasquez milik Real Madrid. Itu pun masih ditambah pemain muda yang semakin matang semisal Thiago Alcantara, Isco Alarcon hingga kiper belia Sevilla, Sergio Rico.

Skuat muda dan regenerasi era Xavi Hernandez dan Iniesta bisa berjalan lancar dengan mekarnya banyak pemain muda yang belum dipanggil untuk Euro nanti, semisal Sergi Roberto di Barcelona hingga Denis Suarez dari Villareal.

Untuk urusan juru gedor, nama David Villa dan Fernando Torres perlahan terlupakan dengan mekarnya Alvaro Morata bersama Juventus dan menonjolnya sosok Aritz Aduriz dari Athletic Bilbao. Bahkan, nama penyerang bengal Diego Costa pun masih belum masuk hitungan.

Sepak bola di Spanyol masih cerah. Hasil di Piala Dunia Brasil 2014 memang menjadi catatan sejarah kelam, namun juga menjadi periode transisi yang baik.

Xabi Alonso dan David Villa sudah tidak ada. Xavi pensiun dan Iniesta semakin uzur. Torres pun ditinggalkan oleh del Bosque. Tapi bukan berarti skuat Spanyol akan miskin pengalaman.

Ada sosok senior di dalam diri Iniesta dan poros bek tengah, Ramos-Pique. Sang kapten, Iker Casillas pun akan menjadi mentor yang baik bagi David De Gea dan Sergio Rico.

Di depan, singa tua dari Basque, Aritz Aduriz bisa menjadi guru yang sepadan bagi Morata. Nama-nama itu dihasilkan dari kegemilangan para pemain Spanyol yang bermain di segala penjuru liga di Eropa, juga dibantu dengan dominasi kuat para tim-tim La Liga di kompetisi kasta tertinggi Eropa.

Mulai dari Barcelona, Atletico Madrid hingga Real Madrid semuanya menyumbangkan pemain ke timnas berkat penampilan gemilang mereka masing-masing di liga dan di Liga Champions.

Beberapa pemain di luar poros Madrid-Catalan pun mampu menembus timnas seperti Nolito yang gemilang bersama Celta Vigo, Bruno Soriano yang matang bersama Villareal hingga bek Mikel San Jose dan Aduriz milik Athletic Bilbao.

Kesimpulan pentingnya hanya satu, tahun ini, kompetisi di Eropa masih milik wakil dari Spanyol.

 

Komentar
Penulis bisa dihubungi di akun @isidorusrio_ untuk berbincang perihal banyak hal, khususnya sepak bola.