Setan Merah Menanam, Setan Merah Menuai

Kekalahan Manchester United dari Manchester City (6/11) dan Watford (20/11) menambah beban di pundak Ole Gunnar Solskjaer.

Sang pelatih dituding sebagai kambing hitam perihal kemerosotan klub berjuluk Setan Merah ini.

Memiliki skuad yang mumpuni dan dukungan manajemen gagal dijawab Ole dengan baik.

Kesabaran pihak manajemen tandas. Memecat Ole menjadi pilihan terakhir yang mesti mereka lakukan demi menyelamatkan klub.

Mendepak pelatih bisa jadi cara paling mudah bagi United untuk memulai siklus baru. Harapannya, performa mereka tentu lebih baik dibanding sebelumnya.

Akan tetapi, ada satu pertanyaan yang muncul. Apakah keterpurukan Setan Merah belakangan ini memang salah Ole?

Pasalnya, mayoritas fans United kerap mengarahkan telunjuk kepada Ole sebagai aktor utama degradasi performa tim.

Jeleknya struktur permainan sampai detail-detail taktik yang gagal ia sampaikan kepada pemain menjadi pekerjaan rumah yang tak kunjung terselesaikan.

Kesalahan-kesalahan elementer yang bikin fans Setan Merah naik darah tetapi fans rival tergelak selalu ditemukan pada setiap pertandingan.

Padahal Ole hanyalah satu kepingan kecil dari blunder yang dilakukan manajemen klub sejak beberapa tahun silam. Merekalah faktor utama lahirnya disfungsi di tubuh United.

Mari kita bernostalgia sejenak.

Pada tahun 2016, klub yang bermarkas di Stadion Old Trafford ini memecahkan rekor transfer unutuk memulangkan produk akademinya, Paul Pogba.

United menebusnya dengan mahar 89 juta Poundsterling dari Juventus. Harga tersebut hampir tiga kali lipat banderol yang dikeluarkan Chelsea untuk memboyong N’Golo Kante (32 juta Poundsterling) dari Leicester City.

Selama lima musim tersebut, Pogba masih angin-anginan permainannya. Hal tersebut dibumbui kelakuan agennya, Mino Raiola yang acap membuat kesal para fans.

Sebaliknya, Kante selalu memegang peran penting di lini tengah Chelsea, utamanya dalam fase transisi positif ke negatif.

Keberadaan Kante juga bikin Singa Biru dari London Barat sukses menggamit sejumlah titel, masing-masing sebiji Premier League, Piala FA, Liga Champions, Liga Europa, dan Piala Super Eropa.

Pogba bukannya tak berprestasi, tetapi setelah trofi Piala Liga dan Liga Europa pada musim pertamanya kembali ke Manchester, belum ada lagi gelar yang sanggup ia sumbangkan.

Bergeser ke tahun 2019, United seperti jatuh ke lubang yang sama dengan mengucurkan dana masif untuk merekrut pemain baru.

Kali ini, subyeknya adalah Harry Maguire yang ditebus dengan nominal 80 juta Poundsterling dari Leicester City.

BACA JUGA:  Aroma Amerika di Venezia

Harga itu membuat Maguire menjadi bek dengan banderol termahal sepanjang sejarah sepakbola! Sontak, publik dibuat kaget. Mereka pun langsung memasang standar tinggi kepadanya.

Di luar aktivitas transfer yang bikin geleng-geleng kepala, manajemen United juga menyusun struktur gaji secara serampangan.

Bisa-bisanya mereka menggaji seorang Anthony Martial, pemain yang mengilap di satu laga lalu tenggelam di belasan laga, dengan nominal 250 ribu Poundsterling per Minggu.

Sebagai perbandingan, Sadio Mane yang kerap tampil ciamik bagi Liverpool saja cuma dibayar 100 ribu Poundsterling per pekan.

Musim ini, Martial sering bolak-balik meja perawatan dan baru mengemas satu gol. Mane? Jumlah golnya bagi The Reds di seluruh ajang sudah nyaris menyentuh dua digit.

Ketidakmampuan manajemen klub dalam menentukan valuasi pemain adalah realita yang bikin United mundur belasan langkah.

Sistem rekrutmen yang tidak tepat dan struktur penggajian yang serampangan membuat pemain kelas dua bertingkah layaknya pemain bintang. Mereka sulit diatur.

Semuanya berimbas kepada ekspektasi tinggi yang tak tercapai, penghamburan uang secara berlebihan, konsistensi yang tak kunjung didapat, hingga trofi yang masih enggan merapat.

Masalah perekrutan ini dinilai sebagai kesalahan United dalam menyadari dinamika sepakbola masa kini.

Di saat klub-klub lain menggunakan pendekatan modern, mereka masih terjebak dengan gaya-gaya kuno yang out of date.

Ketika para pesaing di Premier League sudah memiliki Direktur Olahraga sebagai kunci sistem perekrutan, Setan Merah masih mengandalkan Ed Woodward, sang Chief Executive Officer (CEO) sebagai pengambil keputusan.

Padahal Woodward dianggap kurang memiliki pengetahuan mumpuni tentang perekrutan pesepakbola.

Keawaman Woodward ini pula yang kemudian mendorong tiga pelatih pasca-era Sir Alex Ferguson angkat kaki dari Old Trafford.

“Di Manchester United, di sisi lain, (Ed) Woodward diangkat sebagai CEO, seseorang yang sama sekali tidak mengerti sepakbola dan sebelumnya adalah bankir investasi”, ungkap Louis van Gaal dalam sebuah wawancara.

Apa yang dikatakan Van Gaal sesuai dengan kenyataan. Menurutnya, ketika klub sebesar United mencari pemain maka buruannya haruslah pemain kelas satu.

Sialnya, amunisi yang sering didapat para pelatih selepas era Ferguson adalah pemain kelas empat atau kelas lima. Sungguh ironi bagi klub sebesar United.

Van Gaal seakan ingin memberitahu bahwa manajer manapun akan pusing tujuh keliling untuk memenuhi ambisi manajemen tanpa adanya dukungan penuh yang proporsional.

BACA JUGA:  Menunggu Hasil Investasi Masif Everton

Pada akhirnya, Van Gaal dipecat meski telah membawa United menjadi kampiun Piala FA. Sang Meneer lalu digantikan oleh The Special One, Jose Mourinho.

Nahasnya, Mourinho juga mengalami hal serupa. Entah kacamata apa yang dipakai Woodward dengan tidak menuruti permintaan Mourinho akan seorang bek tangguh.

Rentetan hasil buruk kemudian menerpa dan pria berpaspor Portugal itu pun dipecat.

Setelah Mourinho didepak, Ole datang sebagai juru selamat. Penunjukannya terasa seperti madu, manis sekali. Terlebih ia eks pemain Setan Merah di era Ferguson.

Waktu berjalan, manajemen United masih begitu-begitu saja. Berselang tiga tahun kemudian, efeknya pun kelihatan dengan stagnansi penampilan Pogba dan kawan-kawan.

Komentar Jamie Carragher rasanya sudah mencakup keseluruhan masalah di tubuh United saat ini.

“Manchester United seharusnya memiliki yang terbaik di kelas. Anda tidak dapat memiliki tiga atau empat orang belajar di tempat kerja.”

Pernyataan Carragher tersebut relevan dengan kenyataan, bahwa kepelatihan Setan Merah saat ini dipegang oleh orang-orang yang belum berpengalaman.

Ole yang dikatakan gagal di Cardiff City ditemani oleh Kieran McKenna dan Michael Carrick yang belum pernah melatih di tim sebesar United. Rekam jejak mereka menggambarkan komentar Carragher tersebut.

Ketika Woodward menginsyafi kesalahannya dengan menunjuk John Murtough sebagai Direktur Olahraga dan Darren Fletcher sebagai Direktur Teknik, semuanya seolah terlambat.

Kanker yang disemai Woodward sudah kadung menyebar dan tumbuh subur di Old Trafford. Gelontoran uang yang dikeluarkan, pelatih datang silih berganti, tetapi gelar prestisius tak jua mampir.

Ole menjadi pelatih kesekian yang mesti dilengserkan dari jabatannya karena dinilai gagal membawa perubahan ke tubuh klub.

Secara keuangan, Setan Merah memang masih yang terbaik di dunia. Namun hanya sebatas itu.

Ya, mereka hanyalah mesin uang bagi sang pemilik, keluarga Glazer. Bukan lagi klub pemburu trofi sehingga digilai banyak suporter.

Kanker ini dipupuk oleh manajemen hingga akhirnya mereka sendiri yang menderita penyakitnya.

Seperti kata pepatah, apa yang kau tanam, itulah yang kau tuai. Setan Merah, kini sedang menuai apa yang mereka tanam sejak beberapa tahun silam.

Komentar
Penikmat sepakbola paruh waktu yang suka membaca, diskusi, dan main game Football Manager. Bisa disapa via akun Twitter @elarqami_ahmad