Laga Pembantaian di Liga 2

Liga 2 akan kick off Rabu, 19 April 2017, dengan pertandingan perdana antara PSS Sleman melawan PSCS Cilacap di Stadion Maguwoharjo, Sleman. Liga 2 bisa dikatakan tak lagi jadi anak tiri, kasta kedua ini mulai digarap dengan serius oleh federasi dan operator.

Mulai dari laga yang rencananya akan ada 6 pertandingan disiarkan secara langsung. Sebelum-sebelumnya jarang ada pertandingan kasta kedua yang disiarkan televisi nasional. Tayangan langsung ini bagus secara promosi dan brand klub Liga 2 agar dikenal publik secara lebih luas.

Lalu, akan ada subsidi bagi setiap klub meski tidak sebesar klub Liga 1. Untuk setiap klub, di awal akan memperoleh subsidi 500 juta rupiah dan akan bertambah 400 juta rupiah jika berhasil lolos ke 16 besar.

Tidak seperti Liga 1 yang tidak ada prize money juara, di Liga 2 justru ada hadiah sebesar 1 miliar rupiah untuk juara, lalu 750 juta rupiah untuk peringkat kedua dan 400 juta untuk peringkat ketiga. Selain itu juga ada gelar pemain terbaik dan top skor yang masing-masing akan diguyur bonus 100 juta rupiah.

Regulasi untuk pemainnya maksimal berusia 25 tahun dengan boleh lima pemain di atas batas umur tersebut.

Kebijakan tersebut kemudian berimbas pada banyak hal. Jika sebelumnya laga tidak ditayangkan secara nasional sehingga banyak bermunculan televisi digital, seperti Elja TV, PSIM TV, Sambernyawa TV, dan lain sebagainya, mereka ini bisa saja tidak boleh lagi menayangkan karena hak siarnya sudah dimiliki oleh Viva Group.

Lalu, untuk pemain, seperti yang sudah saya tulis, berdampak pada meningkatnya nilai kontrak para pemain muda. Kini, harga pemain muda di bawah 23 tahun harganya semakin mahal, jika Anda tidak percaya tanyakanlah pada para pengurus klub, baik di Liga 1 maupun di Liga 2.

Jujur saja, tak banyak pemain muda berkualitas mumpuni untuk tampil di level senior. Sementara regulasi mewajibkan pemain muda untuk diberi kesempatan. Ketika supply lebih kecil dari demand, seperti hukum pasar, maka pemain muda yang berkualitas ini jadi semakin mahal.

BACA JUGA:  Menengok Pembinaan Pemain Muda Melalui Bina Putra Jaya Cup

Sudah begitu, aturan promosi dan degradasi makin memperberat langkah manajemen untuk membangun skuat yang mampu bersaing. Persaingan di Liga 2 akan semakin ketat.

Akan ada 3 klub yang promosi ke Liga 1, ini tentu jadi peluang besar, karena sebelumnya santer diberitakan hanya ada 2 tiket promosi. Dengan demikian, persaingan akan semakin ketat karena banyak klub yang akan punya target untuk promosi.

Lebih berat lagi adalah aturan degradasi. Federasi ingin tahun 2018 mendatang, Liga 3 yang jadi liga semi-pro mulai bergulir.

Tahun 2018 mendatang, direncanakan Liga 1 tetap diikuti 18 peserta, sementara Liga 2 hanya 24 kontestan, jauh dibanding sekarang yang mencapai 60 klub. Untuk Liga 3 akan ada 36 klub. Sementara Liga 4 alias Liga Nusantara belum ada keputusan.

Jika slot Liga 2 nanti 3 nya diisi dari klub yang terdegradasi dari Liga 1, maka akan digenapi 13 kontestan Liga 2, 3 klub promosi Liga Nusantara, dan 5 klub terbaik posisi 3 dan 4 dari Liga 2 yang terbagi ke dalam 8 grup.

Agar setidaknya bisa aman bertahan di Liga 2 maka masing-masing klub mesti menarget bisa berada di peringkat ke-2. Karena jika berada di peringkat 3 saja belum 100% aman. Sungguh pertarungan yang sengit.

Setiap laga akan jadi pertandingan hidup mati. Inilah cara kejam dari federasi untuk mencapai liga yang ideal di tahun 2018 mendatang. Banyak pembantaian yang akan terjadi di Liga 2 dan pengawasan terhadap kinerja wasit perlu semakin diperketat, karena bukan tidak mungkin akan banyak main mata demi mengamankan diri.

BACA JUGA:  Apa yang Salah dengan Sepak Bola Kita?

Jika PSSI konsisten, rasanya apa yang akan terjadi di 2018 itu ideal. Hanya saja, jika boleh usul, federasi dan operator lekas bikin liga untuk kelompok umur yang berjenjang biar di 2018 juga tidak perlu ada pembatasan umur, apalagi sampai ada kompensasi 5 pergantian pemain.

Karena kita sedang membangun kompetisi senior, bukan sedang bikin liga antar-SSB yang perlu pembatasan usia. Jadi, mari kita sama-sama pikirkan keduanya seideal mungkin dan tidak mencampurkan antarkeduanya.

NB: Angka-angka di atas merupakan rilis media, setelah kami menelaah lebih lanjut dan membuat hitungan sendiri, kami menemukan angka yang berbeda. Untuk Liga 3 2018, ada 39 klub. Liga 2 sejatinya diikuti 61 klub tapi Persiwa Wamena mengundurkan diri, jadi tersisa 60 klub. Akan ada 16 klub yang aman (peringkat 1-2) dengan 3 di antaranya promosi ke Liga 1, berarti tinggal 13 klub. Ada 3 klub degradasi dari Liga 1, jadi ada 16 klub. Peringkat 3-4 dari 8 grup akan bertanding untuk memperoleh 5 tempat bertahan di Liga 2, berarti akan ada 21 klub. Tiga klub kontestan Liga 2 akan diisi dari jatah promosi Liga Nusantara. Untuk Liga 3 berarti diisi dari degradasi Liga 2, yakni 39 klub. Angka tersebut berbeda dari yang disebut PSSI, yakni 36 klub. Angka 39 itu hasil dari 60 dikurangi 16 klub Liga 2 yang bertahan (3 promosi) dan 5 klub yang meraih tiket peringkat 3-4 terbaik. Coba deh kalian hitung, yang benar yang mana 😀

Komentar
Akrab dengan dunia penulisan, penelitian, serta kajian populer. Pribadi yang tertarik untuk belajar berbagai hal baru ini juga menikmati segala seluk beluk sepak bola baik di tingkat lokal maupun internasional.