Luis Milla Out!

Indonesia mengalami kekalahan 1-3 dari Myanmar di Stadion Pakansari, Cibinong. Laga uji tanding ini jadi pertandingan pertama Luis Milla bersaa tim nasional dan dirinya gagal memberi kesan yang baik.

Ezra Walian yang proses naturalisasinya berlangsung super cepat juga gagal memberikan sentuhan terbaiknya. Dia baru dua hari bergabung dengan tim nasional dan belum begitu mengenal karakter rekan-rekan setimnya.

Selain kalah, pelatih bernama lengkap Luis Milla Aspas juga masih belum bisa menunjukkan permainan ala Spanyol dan Barcelona yang digaungkan sejak sebelum dirinya menginjak lantai bandara Soekarno-Hatta.

Sungguh sebuah laga yang mengecewakan. Walaupun kita sudah biasa kalah dan kecewa tapi kekalahan dari Myanmar tampaknya kembali mengecewakan serta perlahan mengikis optimisme akan perbaikan prestasi timnas Garuda selepas kedatangan Milla.

Apalagi setelah kita juga menyadari bahwa Luis Milla ini kita gaji mahal. Kabarnya dia menerima 600 juta rupiah per bulan atau sekitar 7,2 miliar rupiah per tahun.

Gajinya tiga kali lipat yang diterima oleh pelatih impor sebelumnya, Alfred Riedl. Nilai sebesar itu juga lebih tinggi daripada yang diterima oleh Presiden Joko Widodo atau Gubernur Bank Indonesia. Di Indonesia, hanya gaji Michael Essien di Persib Bandung yang rasanya lebih besar dari yang diterima oleh Milla.

Lalu, kita mereka-reka, apakah kita pantas menggaji pelatih asing dengan uang yang begitu besar?

Bagaimana jika uang itu kita gunakan saja untuk membangun kompleks latihan baru?

Belum lagi ada yang kembali mengingatkan bahwa rekam jejak Luis Milla tak sementereng yang diberitakan di awal kedatangannya. Dia bisa membawa Spanyol juara Eropa di level kelompok umur, sebagai pemain dia adalah satu dari sedikit pemain yang pernah juara La Liga bersama Barcelona dan Real Madrid.

Namun, di dua pekerjaan terakhirnya sebagai pelatih di tim kelas dua, CD Lugo dan Real Zaragoza, dia dipecat oleh sang pemilik klub. Tentu karena prestasinya tak sesuai yang diharapkan.

Apakah kita akan lekas memecatnya atau setidaknya dia tidak akan merampungkan dua tahun kontraknya?

BACA JUGA:  Berdoa untuk Paris

Rasanya berlebihan jika tagar #LuisMillaOut mulai dikampanyekan. Saya pribadi juga tidak sungguh-sungguh ketika memberi judul tulisan ini “Luis Milla Out!”.

Saya justru sedang menyusun pembelaan atas pelatih kelahiran Teruel, 12 Maret 1966. Milla hanyalah seseorang yang ditempatkan di posisi paling panas di sepakbola negeri ini, diberi beban yang amat besar di tengah mepetnya waktu.

Ada 16 pelatih asing yang pernah melatih di Indonesia, Anda tahu siapa dari mereka yang bisa menghasilkan gelar juara atau setidaknya punya prestasi mengkilap?

Hanya ada dua nama. Pertama, Tony Pogacnick, yang sudah melatih di era Presiden Soekarno. Dia berhasil membawa Indonesia ke semifinal Piala Asia, bahkan sampai dua kali.

Dia pula yang memimpin tim Indonesia di Olimpiade Melbourne 1966, laga imbang 0-0 dengan Uni Soviet terus direproduksi ceritanya hingga kini. Dia juga menjuarai turnamen-turnamen level regional.

Nama kedua adalah Anatoly Polosin. Medali emas SEA Games terakhir kita di tahun 1991 adalah berkat jasanya. Medali ini pula yang kini dibebankan kepada Milla untuk kembali diraih.

Kedua pelatih itu punya waktu yang cukup lama jika dibandingkan pelatih lainnya. Lebih dari tiga tahun mereka melatih Indonesia. Dengan waktu yang relatif lama, Pogacnick punya kesempatan untuk berkeliling Indonesia menyaksikan talenta lokal dan bisa menganalisis apa kemampuan terbaik kita.

Oleh karenanya, Pogacnick bisa mengeksplorasi bahwa kemampuan terbaik pemain Indonesia adalah kecepatan lari-lari jarak pendek dengan membawa bola. Hingga kini kita punya pemain dengan atribusi seperti ini, sebuh saja Febri Haryadi.

Apa yang dilakukan oleh Pogacnick ini serupa dengan pelatih lokal yang jadi kebanggaan kita: Indra Sjafri. Anda pasti sudah khatam cerita tentang blusukan yang dilakukan oleh Indra Sjafri bersama tim kepelatihannya.

Apakah anda juga masih ingat, suatu kali Indra berbicara tentang pepepa? Akronim dari pendek-pendek panjang, ketika dia bercerita tentang apa yang dia instruksikan kepada para pemainnya alih-alih sebutan tiki-taka yang kerap ditulis oleh media.

Sementara Polosin menerapkan skema khas Eropa Timur yang kokoh dengan fisik kuat dan kedisiplinan tinggi. Keduanya berkorelasi, tim Anda tak akan bisa disiplin selama 90 menit, jika kemampuan fisik pemain hanya sanggup sampai menit 70 saja.

BACA JUGA:  Pesepak Bola Indonesia Tidak Takut

Polosin memilih untuk membenahi fisik para pemain, kenapa? Karena tahu bahwa secara teknik kita akan kalah dengan Thailand. Juga bahwa fisik para pemain kita lemah, terbiasa bermain di liga yang intensitas permainannya terlalu rendah. Padahal untuk bermain di level internasional, selain teknik, lawan juga punya kekuatan fisik mumpuni.

Ada dua hal yang bisa kita petik dari cerita lama tersebut. Kita yang sudah terbiasa mendapatkan sesuatu secara instan ini perlu untuk lebih menghargai proses.

Milla diminta untuk membangun kultur bermain sepakbola dengan menjadikan Spanyol sebagai rujukan, tapi dia hanya diberi waktu dua tahun saja. Itupun dibebani target juara di setiap turnamen dan kualifikasi yang akan diikuti.

Barcelona saja butuh waktu lama ketika Johan Cruyff mulai membangun La Masia pada dekade 1980-an. Mulai dari dirinya menjadi pelatih dengan Josep Guardiola sebagai sentral permainan.

Lalu, mencapai puncaknya di era Pep Guardiola ketika sang pelatih bekerjasama dengan Xavi Hernandez sebagai pemandu orkes di tengah lapangan.

Perlu anda tahu pula bahwa baru pada tahun 2009, alumni La Masia pertama menerima penghargaan Ballon d’Or atau pemain terbaik sejagad atas nama Lionel Messi. Butuh waktu lebih dari dua dekade hingga akhirnya ada pengakuan pemain terbaik untuk alumnus La Masia.

Sementara kita hanya akan memberi waktu Luis Milla dua tahun agar kita bisa punya kemampuan bermain sepakbola layaknya Barcelona?

Jika memang Luis Milla tak mampu melakukan transfer ilmu sepenuhnya, bagaimana jika Milla mulai beradaptasi dengan sepakbola Indonesia?

Dia membawa ilmu dari Spanyol yang kemudian diadaptasikan dengan kultur sepakbola kita. Rasanya itu lebih bijak dan mungkin akan menuai hasil yang sesuai harapan.

Dua pelatih asing sudah melakukan hal itu. Indra Sjafri juga sudah kembali ada di jajaran pelatih tim nasional, Indra dan timnya bisa jadi rekan diskusi bagi Milla agar waktunya dua tahun di Indonesia tak sia-sia.

Komentar
Akrab dengan dunia penulisan, penelitian, serta kajian populer. Pribadi yang tertarik untuk belajar berbagai hal baru ini juga menikmati segala seluk beluk sepak bola baik di tingkat lokal maupun internasional.