Mark Schwarzer dan Perihal Sunyinya Menjadi Kiper Cadangan

Saya akan jujur sejak awal mula tulisan ini: menjadi penjaga gawang cadangan adalah perihal memiliki kesabaran yang ekstra dan kerelaan menjadi bahan olok-olok. Tanpa menafikan peran pemain lain, namun narasi pekerjaan seorang kiper cadangan sangat berat.

Tanya saja Pepe Reina saat kedatangan Simon Mignolet, Neto, Rubinho saat ia harus bersaing dengan Gianluigi Buffon, ataupun Mark Schwarzer yang menjadi olok-olok kini saat Leicester City juara liga dan hidup di bawah bayang Kasper Schmeichel.

Schwarzer menang gelar Inggris secara back-to-back tanpa harus bermain. Suatu fakta surealis yang diklaim oleh DailyMail. Dan semua orang kehabisan akal mengenai dirinya yang kemudian menerima kemujuran ini tanpa perlu terlalu banyak berkeringat.

Apakah kemudian orang-orang akan membayangkan Schwarzer akan berpesta pora secara berlebihan sebagaimana olok-olok kepada Pepe Reina dulu saat Spanyol menjadi kuasa di Eropa dan Dunia? Ya saya rasa. Namun, untuk menghakimi itu semua jelas tak adil. Saya akan menawarkan paradigma lain.

Schwarzer adalah seorang kiper yang selalu diusir saat ia menjadi pilihan utama. Mulai dari Middlesborough hingga kini bisa sampai di Leicester.

Mungkin ia mirip dengan kisah Jay Gatsby dalam The Great Gatsby, seorang yang pernah menjadi utama lalu dienyahkan, dan lama-lama rela menjadi yang kedua. Saat ia baik, semau orang akan berpesta, namun ia akan berakhir dengan status bebas transfer meski telah bersusah payah dan dibuang dalam ruang sunyi.

Pada 2008, ia dibuang oleh Middlesborough setelah bersama klub ini sejak 2001 karena Gareth Southgate – manajer Middlesborough saat itu – memiliki visi untuk mendatangkan kiper yang lebih muda daripadanya. Padahal, Schwarzer baru saja ditawari kontrak baru, dan mengetahui ini semua, ia memilih pindah demi kebaikannya.

BACA JUGA:  Dusan Vlahovic, Mesin Gol yang Dirindukan Fiorentina

Di Fulham – masa di mana saya tahu dan mengikuti sepak terjang kiper ini – nasibnya tak jauh berubah. Ia seorang utama, hingga kedatangan Stekelenburg pada tahun 2013.

Mereka kemudian lupa perihal Schwarzer adalah seorang pemain kunci dan pernah meraih penghargaan Pemain Terbaik Fulham pada musim 2008/2009, saat Fulham menuju final Europa League pada 2010 – dan hanya Atletico yang menghentikan kemujuran itu – serta sempat diisukan akan ke Emirates Stadium sebelum akhir masa jendela transfer musim panas 2009/2010 sebelum akhirnya ditahan Mark Hughes.

Ia kemudian datang ke Chelsea pada tahun 2013. Rasanya ia tahu, pada tahun itu ia akan bernasib sama.

Tahun 2013, ia kehilangan tempat oleh Petr Cech dan tahun berikutnya kehilangan tempat oleh Petr Cech di bangku cadangan. Namun, pada masanya di Chelsea pula ia mendapatkan mimpinya untuk debut di Liga Champions. Ia menjadi kiper tertua yang melakoni debut. Usianya ketika mengawal gawang Chelsea dalam kemenangan 1-0 atas Steaua Bucuresti (11/12 2013) itu sudah 41 tahun.

Lalu, setahun kemudian, ia dibuang ke Leicester dengan status bebas transfer. Dan memenangkan back-to-back Premier League.

Layaknya apa yang ayahnya Nick Carraway ajarkan dalam memandang dunia termasuk sahabatnya Jay Gatsby, saya akan menawarkan pandangan positif tentang Schwarzer yang mungkin tenggelam dalam olok-olok tak bermain namun memenangi liga. Ia adalah seorang profesional dan selalu berusaha berpikir positif.

Mark Hughes, saat masanya di Fulham, memujinya sebagai seorang yang profesional. Selengkapnya anda bisa lihat kutipan dari Goal ini pada tahun 2010:

He’s a good professional and I didn’t think there would be any difference in his daily work or approach to games. It was never a worry for me and he’s getting on with his job.

BACA JUGA:  Bagus Kahfi dan Impian Bermain di Eropa (Bagian Pertama)

Jose Mourinho pula memuji dirinya sebagai seorang profesional. Seorang yang luar biasa di luar lapangan, dan profesional saat bekerja. Begitu pula Nigel Pearson, manajer Leicester sebelum Claudio Ranieri. Hal ini sendiri saya rasa karena dirinya sendiri, sejauh apa yang dikatakan media, tak pernah mengatakan hal buruk mengenai rival kipernya di timnya sendiri.

Di Chelsea, sebagaimana yang dilansir oleh Ibtimes, memuji rivalitasnya dengan Cech dan Courtouis. Mengatakannya sebagai rivalitas sehat yang baik.

Ataupun percaya bahwa Kasper Schmeichel adalah kiper yang hebat dan dewasa. Dan bayangkan, memiliki seorang positif – seorang yang rela memuji rekan setimnya meski itu berarti kehilangan tempat di tim utama – di ruang ganti. Mendapatkan puja-puji seperti Arbeloa, saya rasa pantas ia dapatkan di ujung kariernya.

Kini ia berusia 43 tahun dan mendapatkan caci-maki seperti Jay Gatsby di akhir usianya pada tahun yang ia katakan akan menjadi tahun terakhirnya menjadi seorang kiper. Tak ada yang mengingat perihnya menjadi medioker dan  dibuang secara gratis meski telah menjadi pilar utama.

Dan izinkan saya marah seperti Nick Carraway, yang mengutuk semua orang yang menghujat Jay Gatsby karena kerelaannya menjadi yang kedua dan kebutaan orang lain tak lagi melihat segala kebaikannya: Schwarzer pantas mendapatkan medali itu. Itu adalah buah kesabaran dan kerja kerasnya selama ini. Titik.

Komentar