Memuja Greysia/Apriyani, Mencerca Politisi

Sejarah baru tercipta bagi dunia bulutangkis Indonesia saat pasangan ganda putri, Greysia Polii/Apriyani Rahayu melenggang ke final Olimpiade Tokyo 2020. Greysia/Apriyani akan berduel dengan pasangan asal Cina, Chen Qingchen/Jia Yifan, guna memperebutkan medali emas.

Selama ini, ganda putri bukanlah sektor unggulan dari Indonesia. Sebaliknya, Cina begitu dominan di sektor ini dengan pasangan-pasangan tangguhnya.

Hal ini terbukti dengan adanya empat pasangan Negeri Tirai Bambu yang merengkuh medali emas di sektor ganda putri sejak bulutangkis dipertandingkan di Olimpiade.

Mulai dari ganda legendaris Ge Fei/Gu Jun sampai duo yang ditakuti banyak lawan, Tian Qing/Zhao Yunlei.

Maka wajar apabila ekspektasi terhadap Greysia/Apriyani tak begitu tinggi. Apalagi sang pelatih, Eng Hian, juga tak mau anak didiknya terbebani.

Namun dasar sudah rezeki, permainan Greysia/Apriyani di partai final sungguh mengagumkan. Set pertama sukses mereka menangkan lewat skor 21-19 meski sempat terjadi adegan kejar-mengejar poin.

Saya yang saat itu menonton laga final via streaming bersama keluarga demi kesehatan telinga, dibuat dag dig dug sekaligus gembira.

Tegang karena partai yang saya saksikan adalah penentuan, gembira sebab Greysia/Apriyani sanggup mengungguli lawannya.

Saya juga ingat betul di sepanjang set pertama Greysia seringkali tersenyum. Sedangkan Apriyani begitu rajin berteriak dengan volume keras yang memekakkan telinga.

Sebuah perang psikologis terhadap pasangan Chen/Jia sekaligus cara keduanya melepas ketegangan.

Apa yang diterapkan Apriyani benar-benar bikin sebal Chen/Jia sampai-sampai mengikuti cara tersebut dan berteriak lantang kala mereka sukses menambah pundi-pundi angka.

Permainan taktis pasangan Indonesia di set kedua kian menjadi-jadi meski Greysia tak lagi banyak tersenyum sementara Apriyani terus berteriak.

Akibatnya, pasangan Chen/Jia mati kutu kendati sudah berusaha semaksimal mungkin untuk meladeni.

Ada sebuah atraksi fenomenal yang dipamerkan Apriyani pada set kedua. Manakala Greysia terpaksa harus meninggalkan lapangan guna mengganti raket, sang tandem sanggup meladeni permainan Chen/Jia agar tak kehilangan poin.

Sekembalinya Greysia ke lapangan, reli terus berlanjut. Namun di titik inilah mentalitas ganda putri Cina sangat terganggu karena justru mereka yang menghadiahkan poin secara cuma-cuma lantaran gagal menyeberangkan shuttlecock dan bikin skor 19-10 untuk keunggulan Indonesia.

BACA JUGA:  Persepsi Publik terhadap Fanatisme Suporter Indonesia

Walau sempat menipiskan jarak, peluang Chen/Jia membalikkan keadaan ditutup rapat-rapat oleh Greysia/Apriyani.

Anak asuh Eng Hian lantas menutup set kedua dengan keunggulan 21-15 sekaligus memenangkan pertandingan.

Medali emas Olimpiade dari cabang bulutangkis sektor ganda putri pun sah dibawa pulang ke pangkuan Ibu Pertiwi untuk pertama kalinya sepanjang sejarah!

Keberhasilan Greysia/Apriyani juga membuat Indonesia menyamai rekor Cina sebagai negara yang berhasil memenangkan medali emas Olimpiade dari cabang bulutangkis di semua sektor yang ada.

Greysia/Apriyani terlihat begitu senang dan terharu, pun dengan Eng Hian. Sementara masyarakat Indonesia menyambutnya dengan penuh suka cita.

Di tengah kompleksitas yang dialami masyarakat Indonesia selama pandemi 1,5 tahun terakhir, prestasi Greysia/Apriyani menjadi pelipur lara yang sangat berarti. Sejenak, masyarakat Indonesia bisa melupakan segala kekalutan di dalam hidupnya.

Politisi Cari Panggung

Prestasi yang didapat Gresyia/Apriyani memang sangat membanggakan. Tradisi medali emas Indonesia di Olimpiade berhasil mereka wujudkan. Wajar bila nama keduanya dielu-elukan publik dan dianggap sebagai pahlawan.

Namun bukan Indonesia namanya kalau momen-momen spesial dari cabang olahraga seperti ini tak dimanfaatkan para politisi untuk cari panggung.

Sesaat setelah Greysia/Apriyani memastikan kemenangan, bertebaran poster-poster ucapan selamat dari mereka di sejumlah platform media sosial.

Sebenarnya sah-sah saja kalau mereka memanfaatkan momen ini buat mengucapkan selamat dan berterima kasih kepada ganda putri Indonesia tersebut karena telah mengharumkan nama bangsa.

Nahasnya, hal tersebut malah banyak dicerca khalayak karena selalu terselip wajah mereka dalam poster-poster tersebut. Bahkan banyak dari poster tersebut yang lebih menonjolkan rupa para politisi tersebut.

BACA JUGA:  Blessing in Disguise: Berkah dari Bencana Luke Shaw

Asal tahu saja, publik merasa itu menggelikan sekali. Kalaupun ada yang memuji, paling banter adalah para pendengung dan pendukung fanatik mereka.

Peraih medali emas Olimpiade Tokyo 2020 adalah Greysia/Apriani wahai bapak dan ibu, bukan kalian. Jadi untuk apa menambahkan wajah bapak dan ibu dalam poster-poster ucapan selamat serta terima kasih itu?

Padahal tanpa harus memasukkan wajah kalian, poster-poster itu akan lebih elegan.

Di sisi lain, itu juga membuktikan bahwa kalian sebagai orang-orang yang katanya punya intelektualitas tinggi bisa mengapresiasi pencapaian orang lain dengan pantas. Bukannya mendompleng ketenaran dan keberhasilan orang lain agar makin dikenal.

Jika kalian ingin dikenal, maka lakukan kewajiban kalian dengan sebaik-baiknya. Toh, kalian yang selama ini ingin menjadi wakil rakyat.

Jangan lupa pula untuk meminta maaf bila melakukan kesalahan dan gagal melayani rakyat dengan paripurna.

Maka wajar kalau poster-poster itu pada akhirnya mendapat cercaan dan kritikan masyarakat.

Semoga saja itu bisa menjadi bahan pelajaran yang baik kecuali kalian tetap ingin jadi kaum bebal dan banal alih-alih intelek. Jangan bikin malu, ah.

Kembali ke Greysia/Apriyani, terima kasih untuk perjuangan fantastis kalian. Selamanya kalian akan dikenang masyarakat Indonesia sebagai pahlawan.

Komentar