Menanti Persaingan Alexandre Pato dengan Radamel Falcao di Chelsea

Bursa transfer musim dingin kali ini dapat dikatakan tidak begitu menarik. Pasalnya belum muncul nominal fantastis seperti yang pernah dilakukan Chelsea kala menebus mahar Fernando Torres senilai 50 juta Poundsterling. Sejumlah klub-klub besar tampak berhati-hati dalam merekrut pemain di bulan Januari.

Kendati belum ada mega-transfer yang melibatkan banyak gelontoran dana, beberapa klub terutama Chelsea setidaknya mampu mendaratkan nama beken seperti Alexandre Pato. Meskipun hanya berstatus pemain pinjaman, agaknya hal itu tidak menyurutkan ekspektasi publik, terkhusus fan Chelsea terhadap dirinya.

Alexandre Pato mulai dilirik dunia ketika partai semifinal Piala Dunia antarklub yang mempertemukan Internacional dengan Al-Ahly di Mesir 2006 silam. Pato yang saat itu masih berusia 17 tahun 102 hari mencetak gol yang memenangkan Internacional sekaligus merebut tiket ke final.

Bagi orang Brasil, tampil di laga final adalah hal yang lumrah. Benar saja, pasca-laga itu bukan kemenangan Internacional yang disorot media, melainkan si bebek Pato yang tampil memukau. Media lalu meramal karier Pato akan bernasib seperti Pele, karena si bebek berhasil memecahkan rekor pencetak gol termuda di turnamen Piala Dunia antarklub yang sebelumnya dipegang sang legenda.

Nama “Pato” sebenarnya adalah nama kota di Brasil tempat ia mengenal sepak bola, yakni Pato Branco yang dalam bahasa Portugis artinya “Bebek Putih”. Nama aslinya adalah Alexandre Rodrigues da Silva, lahir pada 2 September 1989.

Karier sepak bolanya mengalami pasang surut dan bersama klub AC Milan, Pato mengalami periode keemasan. Sebanyak 55 gol telah ia torehkan selama enam musim berkostum merah-hitam Kota Milan sebelum badai cedera mengakhiri masa baktinya pada musim 2012/2013.

Naluri bebek dalam diri Pato mendominasi jalan hidupnya, setidaknya menyangkut urusan sepak bola. Saat remaja, klub profesional Brasil pertama yang kepincut dengan talenta Pato adalah Gremio, namun sang ayah adalah manajer tim pemain muda Internacional, maka tak heran bila Pato lebih memilih Internacional daripada Gremio. Ternyata tidak hanya bebek yang selalu mengikuti ke mana induknya pergi, bukan?

Adapun selama di Milan, Pato menemukan kandang yang nyaman. Jika badai cedera tidak menghantam pergelangan kaki dan pahanya, besar kemungkinan si bebek masih kerasan bertahan di San Siro. Akhirnya rasa frustasi Pato diselamatkan oleh uluran kontrak Corinthias yang memboyong si bebek kembali ke kampung halaman.

BACA JUGA:  Hakim Ziyech: Penyihir Berhati Emas dan Rajin Beribadah

Si bebek yang telah divonis buruk rupa, kembali bersolek di tanah kelahirannya. Kini si bebek tampil dengan kepercayaan diri yang tinggi. Pato seolah menuntut balas terhadap sepak bola Eropa yang sempat membisukan kariernya. Selayaknya bebek, suara cemprengnya siap membuat pekak telinga klub-klub Eropa. Bahkan lebih dari itu, lewat sontekan khas si bebek yang tajam, Pato siap menyosor gawang lawan tanpa ampun.

Akhirnya Pato memutuskan berlabuh di London, sekaligus menambah panjang daftar pemain Selecao yang pernah memperkuat The Blues. Chelsea terkenal ramah dengan pemain berdarah Brasil, mungkin itu salah satu alasan mengapa si bebek hijrah ke London. Dalam jumpa pers singkat di bandara, Pato dengan riangnya mengatakan “Chelsea adalah rumah (kandang) baru saya!”

Menarik jika memprediksi akan diperlakukan seperti apa si bebek di dalam kandang. Musim ini, Chelsea memiliki tiga penyerang. Di antara tiga penyerang itu, Radamel Falcao adalah penyerang yang paling jarang diturunkan.

Pemain asal Kolombia berjuluk El Tigre alias Si Harimau ditepikan karena cedera. Kehadiran si bebek tentu tidak akan disukai oleh si harimau karena akan semakin memperkecil peluangnya untuk bermain. Bersaing dengan Loic Remy dan Diego Costa saja sudah membuat Falcao menjadi nomor tiga, pastilah tambah pedih luka si harimau jika harus menyandang status penyerang nomor empat.

Untungnya posisi dan peran si bebek bersifat fleksibel. Pato dapat diplot sebagai penyerang sayap jika memang Guus Hiddink menghendaki demikian. Bahkan di beberapa pertandingan terakhir, Pato terlihat berperan sebagai pemain bernomor 10 yang bergerak di belakang penyerang. Fakta-fakta tersebut cukup melegakan bagi si harimau, namun bukan jaminan bagi masa depannya.

Baik Pato maupun Falcao datang ke Cobham dengan status pinjaman. Bukan tidak mungkin klub akan memberikan status permanen jika mereka tampil mengesankan.

Dengan usia yang tak lagi muda, posisi Falcao jelas tersudut. Terkaman si harimau tak lagi setajam kala masih di Porto dan Atletico Madrid akibat cedera. Si harimau harus kembali berburu dan medium perburuan yang ada saat ini adalah tempat utama di Chelsea. Mengingat Diego Costa sudah kembali ke performa terbaik, pertempuran si bebek dengan si harimau dalam merebut hati Guus Hiddink dijamin akan seru.

BACA JUGA:  Kebencian Absolut Rooney kepada Liverpool

Jika menilik perkembangan karier Falcao, maka periode ini mungkin yang tersuram. Seperti dalam novel Eka Kurniawan yang kebetulan judulnya sama dengan julukan Radamel Falcao, Man Tiger (Lelaki Harimau).

Alkisah, Margio pria yang memelihara harimau dalam tubuhnya, mendapati kenyataan bahwa sang ibu nyaris gila dirundung akumulasi kesedihan sejak ia masih remaja. Satu-satunya tempat kebahagiaan bagi ibunda adalah ketika bersama Anwar Sadat, lelaki hidung belang yang juga masih tetangga Margio.

Dalam hal ini, rasa cinta Margio yang begitu besar kepada ibunda sama besarnya dengan kasih Falcao kepada permainan sepak bola yang telah ia mainkan sejak kanak-kanak. Satu-satunya cara menyalurkan gairahnya adalah dengan bermain sepak bola, tetapi hasrat itu terkikis semenjak cedera ACL menghampiri.

Margio sadar agar ibunya bahagia lahir batin maka ia harus bersama dengan Anwar Sadat. Konflik pun muncul ketika Margio datang ke rumah Anwar Sadat untuk menyuruhnya agar mengawini ibunda, namun ditolak mentah-mentah.

Sontak harimau yang sekian lama bersarang dalam tubuh Margio, berontak keluar bersamaan dengan rasa kesalnya. Leher Anwar Sadat dikoyak, beberapa urat lehernya putus oleh gigitan kuat Margio. Mulut Margio berlumuran darah dan sela-sela gigi buasnya tersimpan daging manusia, yang tak lain adalah tetangganya sendiri, Anwar Sadat.

Falcao sedang berontak. Bagaimanapun cedera ACL yang membungkam kariernya sedikit demi sedikit telah dilawan. Kini tiba saatnya mempersilakan harimau yang bersarang di tubuh Falcao untuk keluar, bahkan kalau perlu membunuh cedera itu untuk selamanya. Anggap saja cedera ACL itu adalah Anwar Sadat yang telah menyia-nyiakan kekasih hatinya, sepak bola.

Sebelum harimau Falcao melawan si bebek Pato, tampaknya musuh utama yang harus dibunuh terlebih dahulu adalah cedera ACL yang pernah menghantui keduanya. Di atas kertas, pertempuran si bebek dengan si harimau pastilah tidak seimbang

Fakta kali ini lain, si bebek diuntungkan karena lawannya adalah harimau pesakitan. Bahkan si harimau sedang sibuk melawan Anwar Sadat yang menggerogoti performa terbaiknya di lapangan.

Jika musim depan Falcao tidak lagi di Chelsea, maka bolehlah ia berkilah “bukan Falcao yang kalah, tapi harimau di dalam tubuhnya.” Persis dengan apa yang diucapkan Margio kepada Mayor Sadrah terkait pembunuhan keji terhadap Anwar Sadat.

 

Komentar
Sarjana Hukum lulusan Universitas Indonesia dan pelaku industri olahraga sepak bola. Bisa dihubungi melalui akun Twitter @agungbowo26.