Mengapa AS Roma Mendatangkan Banyak Bek?

AS Roma resmi mendapatkan Bruno Peres dari Torino dengan status pinjaman dan klausul pembelian permanen musim depan. Banderol Peres sendiri berada di angka 17 juta euro dari harga awal 25 juta.

Turun cukup signifikan karena Roma, klub yang paling serius memburu Peres, sempat mengendurkan tawaran dan pura-pura tidak meminati. Persis ibu-ibu saat belanja di pasar. Sok pergi padahal menunggu untuk dipanggil dan diberikan harga murah. Khas.

Bruno Peres adalah pemain kedelapan yang diboyong AS Roma musim panas ini. Dari delapan pemain yang datang, lima di antaranya adalah bek (tiga bek tengah dan dua bek sayap). Dua pemain baru berposisi sebagai kiper, Allison Becker dan Wojciech Szczesny, dan nama terakhir adalah Gerson, yang akan mengisi slot di lini tengah.

AS Roma tidak banyak melakukan perubahan di lini depan. Selain karena masih percaya Edin Dzeko bisa bangkit dari keterpurukan, Luciano Spalletti juga memiliki opsi lain, yakni menggunakan striker bayangan (false nine) seperti pertengahan musim lalu.

Justru di lini belakang, ia merasa bahwa banyak lubang yang harus segera ditambal. Spalletti memang meminta secara khusus kepada James Palotta selaku Presiden AS Roma untuk mendatangkan dua bek tengah serta dua bek sayap.

Untuk lini tengah, kembalinya Leandro Paredes dari Empoli serta Kevin Strootman yang makin fit, membuat Spalletti tidak banyak melakukan perubahan. Plus Amadou Diawara yang konon semakin merapat ke Olimpico dan digadang-gadang akan menjadi pelapis Daniele De Rossi.

Tapi sebenarnya, mengapa AS Roma begitu banyak mendatangkan bek? Saya melihatnya ada beberapa alasan. Yang paling jelas terlihat adalah Spalletti ingin mencoba untuk menerapkan strategi tiga bek tengah.

Strategi tiga bek sendiri bukan hal yang baru bagi Spalletti. Saat melawan Juventus musim lalu, Spalletti sudah menggunakan tiga bek. Kekalahan bisa dimaklumi, karena saat itu AS Roma sedang masa transisi dari Rudi Garcia ke Spalletti.

Lalu, mengapa Spalletti yang khas dengan empat bek sejajar mencoba memainkan skema tiga bek? Saya menduga bahwa, Spalletti ingin menyesuaikan taktik yang diinginkan dengan skuat yang ada, dengan perbaikan tentunya.

Spalletti adalah tipikal pelatih Italia yang adaptif. Ia mampu meramu taktik dan menyesuaikannya dengan komposisi pemain yang ada. Masih ingat bagaimana AS Roma disulap Spalletti menjadi tim menakutkan yang mampu mendapatkan gelar Coppa Italia dan Piala Super Italia.

Padahal, pada saat itu, skuat AS Roma bermaterikan pemain-pemain kelas dua. Tapi Spalletti mampu menyulap Il Lupi dengan formasi 4-2-3-1 dan menjadikan Francesco Totti sebagai false nine.

Dan saat ini, Spalletti berusaha untuk menyesuaikan skuat yang ada dengan struktur tiga bek. Di dalam skuat Roma, ada empat bek tengah yang siap tampil. Ketika Antonio Rudiger fit, akan ada lima bek tengah yang menunggu giliran untuk dimainkan. Ditambah Mario Rui, meskipun masih akan menepi sampai akhir tahun.

BACA JUGA:  Usia yang Sebatas Angka bagi Buffon

Spalletti mencoba mengatasi masalah tersebut dengan memainkan Juan Jesus sebagai bek kiri. Sayang, hasilnya tidak maksimal. Oleh sebab itu, Spalletti memilih untuk menambah jumlah bek tengah supaya lebih fleksibel bermain dengan skema tiga bek.

Bicara sejarah, skema tiga bek ini yang memunculkan istilah libero, yang berasal dari istilah Italia, libero da impegni di marcatura yang berarti ‘orang yang bebas’ atau ‘pemain yang tidak diberikan tugas untuk mengawal lawan’.

Skema tiga bek sendiri awalnya dicetuskan Carlos Bilardo saat menukangi Argentina pada tahun 1984. Saat itu, ia mendorong para fullback untuk maju dan sejajar dengan gelandang.

Untuk skema tiga bek sejajar, trio BBC milik Juventus yang menjadi tolak ukur saya. Trio Bonucci-Barzagli-Chiellini memang luar biasa.

Lazimnya, dalam skema tiga bek, para bek memiliki tugasnya masing-masing. Leonardo Bonucci, yang mempunyai kemampuan membaca permainan, serta akurasi umpan cocok berperan sebagai ballplaying defender.

Di kubu AS Roma, Thomas Vermaelen cocok untuk mengemban peran tersebut. Pemain yang dipinjam dari Barcelona ini memang memiliki kemampuan membangun serangan dari bawah.

Alasan itu pula yang membuat Barcelona memboyongnya dari Arsenal beberapa musim yang lalu. Vermaelen akan mengisi pos sebelah kiri dan Kostas Manolas di sektor kanan mengapit Juan Jesus atau Federico Fazio.

Saya mencoba berimajinasi soal peran Manolas ketika skema ini berjalan. Memang ini adalah hal yang baru, meskipun pernah dicoba Spalletti di awal kepemimpinannya. Tapi skema ini terlampau baru bagi Roma yang selama empat musim terakhir istiqomah dalam empat bek.

Manolas akan menjadi “Barzagli-nya Roma”, dengan kemampuan menutup ruang ditambah ketepatan tekel yang baik. Untuk bek terakhir, saya cenderung memilih Juan Jesus dibandingkan Fazio.

Juje, panggilan akrab Juan Jesus, memiliki pengalaman bermain di Serie A dan membuatnya terlihat lebih siap. Fakta bahwa ia sempat bermain lebih melebar saat bersama Internazionale Milano memudahkannya untuk mengisi sisi bek tengah bagian kiri apabila Vermaelen absen.

Pilih 3-5-2 atau 3-4-3?

Soal formasi, Roma akan lebih cocok menggunakan 3-4-3. Kebiasaan menyerang melalui sisi sayap, ditambah ketersediaan pemain, akan memudahkan Spalletti untuk mengubah pendekatan selama pertandingan berlangsung.

Untuk tiga bek sejajar, seperti yang sudah saya singgung di atas, pilihannya adalah Vermaelen-Juan Jesus-Manolas. Meskipun belum teruji, ketiga pemain tersebut memenuhi kriteria untuk dijadikan pilihan utama.

Ketika bebas dari cedera, Rudiger bisa mengisi posisi Juan Jesus. Di timnas Jerman, Rudiger pernah bermain sebagai bek kanan. Ia bisa lebih melebar.

BACA JUGA:  Jalan Lain yang Ditawarkan King Padoin

Untuk empat gelandang, saya memilih Bruno Peres, Kevin Strootman, Daniel De Rossi, dan Emerson Palmieri.

Bruno Peres fasih bermain di sisi kanan. Ingat golnya ke gawang Juventus dua musim lalu? Ketika ia berlari dari daerah pertahanan Torino menuju gawang Juventus. Kelebihannya dalam membantu penyerangan membuatnya bisa dipasang di sisi kanan.

Untuk gelandang, De Rossi akan menjadi pemain utama. Saat Euro 2016, ia bermain bergantian dengan Thiago Motta di lini tengah Italia dalam skema tiga bek ala Antonio Conte. Keberadaan De Rossi membantu Roma menyeimbangkan lini belakang dan tengah.

Strootman adalah gelandang komplet. Kemampuannya menghalau serangan bahkan diakui oleh Rudi Garcia. Rudi menyebut Strootman sebagai “mesin cuci”, yang dengan mudah menetralkan “kotoran serangan lawan”.

Selain itu, ia juga mempunyai akurasi umpan yang sangat baik. Kolaborasinya dengan De Rossi akan setangguh ketika De Rossi berpasangan dengan Andrea Pirlo. Meskipun Strootman lebih mobile sebagai gelandang boxtobox.

Untuk gelandang kiri, saya memilih Emerson Palmieri. Musim lalu, pemain yang posisi aslinya adalah bek kiri ini sempat dipasang Spalletti sebagai winger kiri. Sebagai pemain belakang, ia juga dibekali kemampuan bertahan yang cukup.

Tiga pemain di lini depan tak akan jauh-jauh dari Stephan El Shaarawy, Edin Dzeko, dan Mohamed Salah. Meskipun musim lalu dianggap flop, saat pramusim, Dzeko adalah bintangnya. Ia selalu mencetak gol saat bermain sejak menit pertama. Ia mendapatkan dukungan penuh dari Spalletti untuk bermain secara penuh.

Dua sayap hampir dipastikan diisi oleh El Shaarawy dan Salah. Kedua pemain ini akan lebih serang melakukan cut inside lalu melepaskan tendangan jarah jauh atau cut back ke tengah. Tugas El Shaarawy dan Salah untuk “melayani Dzeko” akan ditopang Peres dan Emerson.

Variasi skema tiga bek ini akan menjadi jawaban dari AS Roma yang monoton ketika dilatih Rudi Garcia. Selain mampu mengakomodasi pemain sayap yang melimpah, Spalletti mampu menerapkan idenya secara maksimal.

Maka, inilah jawaban dari judul tulisan ini, yaitu masalah taktik dan implementasi ide dari Spalletti. Memainkan tiga bek artinya harus ada bek tengah di bangku cadangan dengan level yang sama baiknya. Ingat, tataran taktik merupakan pertimbangan utama ketika sebuah tim mendatangkan pemain.

Setelah urusan taktik terpenuhi, baru kita bisa memasukkan beragam alasan dalam keputusan tim tersebut. Misalnya, pertimbangan mudah dan banyaknya pemain cedera. Tapi sekali lagi, semuanya dilakukan dengan landasan taktik.

Akan menjadi seperti skema tiga bek ala Spalletti musim depan? Yang pasti, musim ini adalah musim yang penting. Tidak lain karena musim ini Totti akan pensiun. Mampukah Roma memberikan hadiah perpisahan untuk Totti?

Semoga.

 

Komentar
Alief Maulana
Penulis adalah seorang mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Brawijaya. Mencintai sepakbola seperti mencintaimu. Penikmat Sepak bola Indonesia dan Italia. Dikontrak seumur hidup oleh Gresik United dan AS Roma dengan kepimilikan bersama atau co-ownership. Yang mau diskusi tentang sepak bola ataupun curhat tentang cinta, bisa ditemui di akun twitter @alipjanic .