Menunggu Sentuhan Magis Sarri di Lazio

Musim baru, harapan baru. Adagium itu seperti hidup di antara Laziale, suporter fanatik Lazio. Setelah enam musim bertarung bersama Simone Inzaghi, kini mereka siap berpetualang bareng Maurizio Sarri.

Sebagai pelatih, curriculum vitae Sarri jauh lebih mentereng dibanding Inzaghi yang sekarang menjadi arsitek Inter Milan.

Saat menukangi Chelsea, ia sanggup membawa anak asuhnya menjuarai Liga Europa. Bersama Juventus, Sarri meneruskan kegagahan sang raksasa Italia dengan merebut Scudetto.

Angkat nama di Empoli, Sarri kian dikenal saat menangani Napoli dan membuat tim dari selatan Italia tersebut konsisten berada di papan atas.

Padahal I Partenopei saat itu tidak dihuni skuat adiluhung macam Juventus. Namun taktiknya yang kemudian dikenal sebagai Sarriball dianggap sukses mengubah wajah Napoli.

Usai semusim bertapa, Sarri akhirnya turun gunung per musim 2021/2022 setelah menerima pinangan manajemen Lazio.

Ia diharapkan mampu membawa klub asal ibu kota bermain lebih baik, konsisten dan awet menghuni papan atas.

Pamor Lazio jelas malah dibanding AC Milan, Inter Milan, dan Juventus yang menjadi triumvirat dalam persepakbolaan Italia. Namun I Biancoceleste tetap tak bisa dipandang sebelah mata.

Mercato Lazio jelang musim 2021/2022 memang tak memutar uang besar. Sejauh ini mereka baru mendatangkan Elseid Hysaj, Dimitrije Kamenovic, Luca Romero, Felipe Anderson, dan Pedro Rodriguez.

Nama terakhir yang paling menyita atensi sebab merapat ke I Biancoceleste setelah musim lalu bermain untuk sang rival sekota, AS Roma.

Pedro menjadi pemain pertama di era modern yang hijrah secara langsung dari Roma ke Lazio.

Pemain terakhir yang nekat menyeberang dari klub ibu kota yang satu ke klub ibu kota lainnya adalah Astutillo Malgioglio.

Peristiwa itu sendiri terjadi pada tahun 1985 alias 36 tahun silam. Selebihnya, kendati banyak pemain yang pernah membela Roma dan Lazio, tak ada yang pindah secara langsung.

BACA JUGA:  Longstaff Bersaudara: Pilar Masa Depan Newcastle United

Di luar nama-nama di atas, walau sempat beberapa kali disebutkan media, entah itu Philippe Coutinho atau Lucas Torreira, semuanya cuma khayalan belaka.

Claudio Lotito sebagai presiden klub bukan figur yang hobi jor-joran. Kalau bisa, ia bakal mendatangkan pemain secara gratis yang kemudian bisa dijual lagi dengan harga tinggi.

Pada sebuah momen, hal itu baik untuk Lazio. Namun di momen lainnya, terasa menyebalkan sekali karena tim jadi begini-begini saja.

Saat menerima tawaran untuk melatih di Stadion Olimpico, Sarri pasti sadar bahwa tak semua permintaannya bisa dipenuhi klub.

Bajet tipis yang dimiliki klub bikin transfer pemain mahal yang sesuai kebutuhan Sarri menjadi musykil.

Kali ini, Sarri betul-betul dituntut untuk beradaptasi dengan kemampuan klub sekaligus kultur yang diciptakan Lotito.

Bukan tidak mungkin Sarri justru akan kehilangan pemain yang menjadi bagian integral tim selama ini.

Teraktual, rumor kencang terus berhembus mengenai kepergian Joaquin Correa. Sang pemain terus didekati Inter Milan dan konon siap bereuni dengan Inzaghi di sana ketimbang tetap bermain untuk I Biancoceleste.

Mendayagunakan skuad yang ada menjadi keharusan buat Sarri. Laziale pun tak sepatutnya memasang ekspektasi kelewat tinggi.

Dalam benak Lotito, selama ada Luis Alberto, Ciro Immobile, Lucas Leiva, dan Sergej Milinkovic-Savic, suporter harus bersyukur. Pun dengan Sarri.

Jangan minta yang macam-macam dan bikin kantongnya lekas bolong. Sebab Lotito tak suka cara bisnis seperti itu.

Debut Sarri bersama Lazio dilakoni kala bertandang ke markas Empoli dini hari tadi (22/8).

Bermain dengan skuad terbaik yang dimilikinya dalam formasi andalan 4-3-3, Immobile dan kawan-kawan sanggup memetik angka sempurna.

Lazio berhasil membalikkan keadaan meski tertinggal lebih dahulu dari tim tuan rumah.

BACA JUGA:  Giovinco yang Bersinar di Tanah Rantau

Permainan yang disuguhkan Immobile dan kolega juga cukup menjanjikan walau butuh penyempurnaan di mana-mana.

Meski sulit berekspektasi tinggi, setidaknya Laziale tetap bisa berharap Sarri dapat membuat I Biancoceleste kompetitif.

Merengkuh Scudetto jelas target yang berlebihan. Namun merangsek ke papan atas demi lolos ke Liga Champions adalah kemungkinan yang masih terbuka untuk diwujudkan.

Bersama Lazio, stok rokok Sarri mungkin akan lebih cepat habis. Pikirnya akan dikuras sampai ke dasar guna membawa tim tampil baik di tengah segala keterbatasan.

Laziale tak berharap banyak, tak mau bermimpi kelewat tinggi. Namun Laziale selalu percaya bahwa sentuhan magis Sarri sebagai pelatih, masih tersedia buat Lazio.

Semoga sukses, Sarri.

Komentar
Kopi di kanan, buku di kiri, musik Jazz bergentayangan di sekitar. Laziale dari Karawang nomor empat belas. Hobi makan bakso dengan kuah melimpah. Bisa disapa di twitter @lazione_budy