Kokohnya Trio Skriniar-de Vrij-Bastoni

Sebagai penganut keyakinan formasi dasar 3-5-2, memiliki bek-bek tangguh yang nyaman dengan bola di kakinya jadi salah satu syarat utama bagi Antonio Conte agar dapat membangun lini pertahanan yang solid. Mujur, di tim yang ia asuh sekarang, Inter Milan, sang allenatore mempunyai trio Milan Skriniar, Stefan de Vrij, dan Alessandro Bastoni.

Berdasarkan statistik yang dihimpun dari Transfermarkt, sepanjang musim 2020/2021, Skriniar-de Vrij-Bastoni sudah diturunkan bersama sebanyak 18 kali pada ajang Serie A. Hal tersebut membuktikan bahwa ketiganya menjadi pilar andalan yang berdiri di depan Samir Handanovic.

Dengan bangun tubuh tinggi dan kekar, trio ini bisa disebut sebagai bek tengah ideal yang didambakan para pelatih.

Pasalnya, dengan perawakan seperti itu mereka punya modal untuk melakukan duel-duel fisik dengan striker atau bahkan gelandang tim lawan.

Ketika melakoni perebutan bola di udara, kemampuan Skriniar-de Vrij-Bastoni juga mumpuni untuk memenangkannya. Baik dalam fase bertahan maupun menyerang.

Kelebihan itu sendiri ditopang skill mereka dalam menginisiasi serangan dari lini pertama.

Seperti yang telah saya sebutkan di paragraf pertama, Conte menyukai bek yang nyaman dengan bola di kakinya dan Skriniar-de Vrij-Bastoni memenuhi syarat tersebut. Ketiganya paham bagaimana cara membuka ruang, mendistribusikan bola serta mengatur tempo.

Sangat wajar bila kemudian tiga pemain berbeda negara ini jadi figur tak tergantikan serta membuat Aleksandar Kolarov dan Andrea Ranocchia lebih banyak duduk di bangku cadangan.

Pada bulan Februari 2021 kemarin, Inter memainkan empat pertandingan di kancah Serie A. Masing-masing bersua Fiorentina (5/2), Lazio (14/2), AC Milan (21/2), dan Genoa (28/2). Dalam empat giornata itu, Il Biscione sukses menyapu bersih kemenangan.

Lebih mantapnya lagi, tim berhasil mengemas 11 gol dan hanya kemasukan 1 gol. Selain lini serang yang beringas, catatan tersebut juga memperlihatkan bahwa lini pertahanan Inter amat kokoh.

BACA JUGA:  Agama Sepak Bola dan Sebuah Dunia Dalam Pikiran

Tentu saja hal itu muncul lantaran andil Skriniar-de Vrij-Bastoni yang menghuni barisan belakang.

Mengacu pada data WhoScored (laga melawan Parma dini hari tadi (5/3) belum dihitung), Skriniar mencatatkan 1,5 tekel per laga, 2,5 sapuan per laga, dan 0,5 blok per laga. Sementara de Vrij membukukan 0,5 tekel per laga, 3,3 sapuan per laga, dan 0,5 blok per laga. Terakhir, Bastoni membuat 1 tekel per laga, 2 sapuan per laga, dan 0,4 blok per laga.

Dari statistik di atas, kita bisa sama-sama melihat kontribusi nyata dari trio Skriniar-de Vrij-Bastoni dalam fase bertahan sehingga gawang Inter sulit ditembus.

Menariknya, dalam fase menyerang ketiganya juga sanggup menunjukkan kontribusi.

Bukan sekadar menginisiasi permainan dari lini pertama (trio ini punya rataan umpan 68 kali per laga), melainkan juga mencetak gol dan mengukir asis. Total, Skriniar sudah bikin 2 gol, de Vrij melesakkan 1 gol, dan Bastoni menciptakan 1 asis.

Dalam sebuah wawancara, de Vrij mengaku kalau ia dan dua rekannya tersebut bisa saling mengisi di lini pertahanan. Apalagi skema permainan yang diterapkan Conte membutuhkan cara bermain yang berbeda.

“Aku membantu Skriniar dan Bastoni agar lebih mudah beradaptasi dengan skema tiga bek (de Vrij sudah terbiasa memainkannya saat berseragam tim nasional Belanda dan Lazio). Namun mereka berdua juga memberi timbal balik dengan banyak membantuku”, papar lelaki berusia 29 tahun itu seperti dikutip dari Ligaolahraga.

Lebih jauh, de Vrij merasa hubungan mereka sebagai rekan setim begitu kompak lantaran sangat dekat di dalam dan luar lapangan.

Ketiganya tak ragu untuk duduk bersama membahas kekurangan masing-masing dan bagaimana cara mengasahnya agar lebih baik.

De Vrij juga menyebut kalau ia, bersama Skriniar dan Bastoni, kerap berdiskusi dengan tim pelatih guna memahami apa yang mesti mereka lakukan di atas lapangan sebagai trio bek tengah.

BACA JUGA:  Lazio Harus Tetap Menegakkan Kepala

Hingga tulisan ini dibuat, kekokohan Skriniar-de Vrij-Bastoni juga tercermin dari jumlah kebobolan tim yang baru berjumlah 25 gol. Inter menahbiskan diri sebagai klub dengan lini belakang terkokoh kedua setelah Juventus (kebobolan 20 gol dan baru memainkan 24 laga).

Tatkala menukangi Juventus, Conte dianugerahi trio bek tengah hebat dalam wujud Andrea Barzagli, Leonardo Bonucci, dan Giorgio Chiellini.

Partnership ketiga sosok ini lantas dijuluki media-media Italia dengan sebutan trio BBC (yang diambil dari huruf depan nama ketiga pemain itu).

Siapapun tahu, trio BBC adalah bagian integral dari pola permainan tim dan kesuksesan Conte meraih sejumlah gelar kala menukangi La Vecchia Signora.

Berbekal keimanannya pada skema dasar 3-5-2, Conte tampaknya ingin mereplikasi hal tersebut di Inter dalam diri Skriniar-de Vrij-Bastoni. Sejumlah media bahkan mengapungkan mereka sebagai trio SDB.

Akan tetapi, de Vrij tak sepakat dengan itu. Menurutnya, inisial ketiganya jika disatukan akan berbentuk SVB. Pasalnya, ‘de’ dalam penamaan orang Belanda, seperti dirinya atau Ronald de Boer, adalah preposisi yang tidak merujuk kepada nama keluarga.

Satu yang pasti, penampilan elok Skriniar-de Vrij-Bastoni ikut mengatrol performa Il Biscione secara keseluruhan dan hal tersebut pasti disyukuri Conte maupun Interisti di manapun berada.

Bersamaan dengan presensi trio SVB di lini pertahanan pada laga-laga yang dijalani, asa sang allenatore dan fans buat menggamit prestasi pada musim ini digantungkan.

Komentar