Mitos dan Klenik dalam Sepak Bola

Sepulang mengaji di musala bersama tiga orang teman, saya mengayuh sepeda menuju kampung sebelah. Jalan beraspal dan gang-gang sempit silih berganti kami lalui sebelum akhirnya tiba di sebuah lapangan yang cukup luas. Ratusan orang berkumpul di lapangan.

Pedagang makanan ringan, minuman, balon, dan mainan anak menjajakan dagangannya di sekitar lapangan. Di lapangan yang karib disebut Lapangan Cakra, sekali dalam setahun di sekitar bulan Agustus diselenggarakan turnamen sepak bola antar-kampung. Saya dan tiga orang teman lainnya bermaksud untuk menyaksikan salah satu pertandingan di turnamen tersebut.

Kami memilih menyaksikan pertandingan tepat dari belakang gawang, bergerombol bersama puluhan penonton lainnya. Di belakang gawang lainnya pun begitu, puluhan orang bergerombol untuk menyaksikan pertandingan. Konsentrasi penonton memang terpusat di dua sisi gawang di lapangan pertandingan.

Kedua tim yang akan bertanding masih melakukan pemanasan saat kami tiba. Satu tim berseragam kombinasi putih dan kuning, lainnya berseragam biru hitam. Beberapa pohon besar yang tumbuh di belakang gawang menghalangi terik mentari menerpa langsung ke tubuh. Pertandingan akan segera dimulai. Kedua tim sudah berbaris di tepi lapangan.

Para penonton yang sebelumnya masih berkeliaran di sekitar lapangan dan sibuk dengan urusannya masing-masing kembali mendekat untuk fokus menyaksikan pertandingan. Pun begitu dengan beberapa pedagang di sekitar lapangan. Sorak sorai para suporter kedua kesebelasan semakin terdengar keras.

Undian koin sudah dilaksanakan. Kedua kesebelasan menempati kedua sisi lapangan yang dibatasi garis tengah.

Dua orang pemain berseragam putih kuning bersiap melakukan kick-off saat tetiba seorang pemain berseragam biru hitam berlari kencang menuju ke arah gawang lawannya, gawang di mana di belakangnya saya dan teman-teman serta puluhan orang lainnya sudah siap untuk menyaksikan pertandingan.

Ia terus berlari hingga tiba di gawang lawannya. Pertandingan urung dimulai. Banyak yang terheran menyaksikan ulah salah seorang pemain ini. Saat tiba di gawang lawan, ia masuk ke dalam gawang, menuju salah satu sudutnya, jongkok, lalu kencing. Ia kencing menghadap ke arah kami para penonton di belakang gawang.

Beberapa penonton perempuan berteriak karena alat kelamin yang sedang mengeluarkan air berwarna kekuningan terlihat begitu jelas oleh semua orang di belakang gawang.

Sebagian besar kami di belakang gawang yang menyaksikan kejadian itu tertawa. Sembari tertawa saya sempatkan diri melempar pemain berulah aneh itu dengan plastik berisi es batu sisa minuman yang saya beli.

BACA JUGA:  George Weah, Singa Afrika Sang Penakluk Eropa

Beberapa penonton lain berseloroh, “Wah main dukun itu mah.” “Pasti disuruh sama dukunnya itu, biar menang.” Dan ungkapan lain dengan nada serupa, tentang dukun yang dipercaya bisa memenangkan sebuah kesebelasan jika perintahnya dituruti.

Belum 15 menit pertandingan berlangsung, si pemain yang tadi mengencingi gawang lawannya berada di dalam kotak pinalti lawan. Ia mendapat umpan matang dari rekannya.

Bola berada sekira 30 sentimeter dari tanah saat ia menendang bola dengan keras menggunakan kaki kanannya. Peluang yang rasa-rasanya mutlak berbuah gol. Namun ternyata bola menuju tepat dipelukan penjaga gawang tanpa ia perlu bergerak sedikit pun. Peluang emas gagal menghasilkan gol.

Saat peluit akhir dibunyikan, tim berseragam putih kuning menang dengan skor tipis, 1-0. Ketika pemain yang sekonyong-konyong tadi kencing di depan kami kembali mendekat, beberapa penonton mengejeknya, “Dukunnya kagak mempan itu. Kurang sesajennya kali.”

Saya pikir ia akan marah, ternyata tidak. Ia malah tersenyum kemudian berkomentar, “Dukun mereka (tim lawan) lebih tokcer kayaknya, Bang.”

Kejadian ini saya alami saat masih duduk di kelas 6 sekolah dasar. Kini, Lapangan Cakra yang dahulu rutin mengadakan turnamen antar-kampung yang terkadang para pemain profesional dari liga Indonesia ikut bermain sudah berubah jadi kompleks perumahan mewah. Tak ada lagi turnamen sepak bola di sana.

Dalam dunia sepak bola baik di tanah air atau di luar negeri, campur tangan hal-hal berbau klenik bukan lagi sesuatu yang aneh. Bahkan di banyak tempat, keberadaan unsur-unsur klenik menjadi suatu keniscayaan agar sebuah kesebelasan bisa memenangkan pertandingan.

Mulai dari kelas pertandingan antar-kampung hingga liga-liga profesional, dunia klenik turut ambil peran. Entah itu secara resmi dilakukan oleh pengurus tim, atau oleh perorangan dan suporter mereka.

Mulai dari sekadar doa-doa dan dibacakan mantra-mantra tertentu, hingga diminta untuk makan atau minum sesuatu atau melakukan tindakan-tindakan tertentu yang disyaratkan oleh dukun yang dimintai bantuannya.

Bukan sekali dua kita menyaksikan langsung di stadion atau dari layar kaca, pemain mencium kedua tiang gawang, atau ada pemain yang sengaja berlari jauh untuk menggoyang-goyangkan jaring gawang.

BACA JUGA:  Ishizaki yang Pantas Diteladani

Ada juga pemain yang sebelum memasuki lapangan menyentuh rumput dan tanah lapangan kemudian mengusapkannya ke seluruh tubuh. Hal-hal irasional semacam ini pernah dan akan terus terjadi. Semua itu dilakukan demi mengejar satu hal: kemenangan.

Pada piala dunia 2002, ada campur tangan dukun dalam proses pemilihan pemain tim nasional Brasil. Sang dukun memilih pemain dengan zodiak tertentu menyesuaikan dengan kondisi alam di Korea Selatan dan Jepang selaku tuan rumah piala dunia.

Selain campur tangan dunia klenik, berbagai mitos juga berkembang di dunia sepak bola. Bukan hanya di dalam negeri saja, di liga-liga utama di Eropa sekalipun, banyak pemain yang masih meyakini adanya mitos yang diyakini bisa membawa keberuntungan atau sebaliknya.

Tahun 2005, di Ataturk Olympic Stadium, Istanbul, Liverpool berhasil mengalahkan AC Milan dengan dramatis usai tertinggal tiga gol terlebih dahulu.

Dua tahun kemudian, saat kedua tim kembali bertemu di ajang yang sama, Kaka berkata, “Di Istanbul aku menyentuh Si Telinga Lebar (trofi Liga Champion) sesaat sebelum pertandingan dimulai ketika kami memasuki lapangan. Itu yang menyebabkan kami kalah. Sekarang saya tak akan menyentuhnya sebelum pertandingan usai.” Hasilnya, Milan mengalahkan Liverpool dan berhasil membalaskan dendam mereka dua tahun sebelumnya.

Gilardino selalu membawa sepatu pertamanya ke mana pun ia bertanding. Meskipun sepatu tidak digunakan, ia tetap harus membawanya karena menurutnya, sepatu itu membawa keberuntungan. Jika sepatu itu lupa ia bawa, menurutnya, ia akan kesulitan mencetak gol.

Lain lagi dengan Filippo Inzaghi. Pemain yang menurut Sir Alex Ferguson terlahir dalam posisi offside, dan menurut Johan Cruyff sebagai seorang pemain yang tidak memiliki bakat sepak bola dan hanya sekadar berada di posisi yang tepat belaka ini selalu menggunakan celana dalam terbalik dalam setiap pertandingan yang ia jalani. Dengan begitu ia merasa keberuntungan ada di pihaknya.

Tentu saja masih banyak contoh tentang mitos dan klenik yang tersebar di dunia sepak bola, terlalu banyak dan tak akan cukup jika hanya ditulis dalam satu artikel singkat. Saya rasa, tema tentang mitos dan klenik dalam sepak bola jika serius dikerjakan akan menghasilkan sebuah buku dengan halaman yang banyak dan menarik untuk dibaca.

 

Komentar