Nostalgia Winning Eleven dan Menjadi Penggemar Liverpool

Game Winning Eleven (WE) pada konsol PlayStation 1 (PS 1) yang marak menjelang awal tahun 2000-an selalu mengingatkan saya saat pertama kali mengenal pertandingan sepak bola.

Kala itu, Winning Eleven adalah game populer PS 1 yang dimainkan di banyak rental PlayStation. WE lebih banyak dimainkan ketimbang permainan bergenre olahraga lainnya seperti Crash Team Racing (CTR), Formula 1, WWE Smack Down, juga Nascar Rumble.

WE dikenal sebagai game simulasi sepak bola yang mengajarkan bagaimana memilih pemain dalam sebuah kesebelasan, menentukan formasi yang tepat, sekaligus merancang strategi untuk meraih kemenangan atas lawan. Gaya dan kemampuan tiap pemain sudah diset seperti aslinya. Ada rasa penasaran saat melihat para pemain PS memenangkan sebuah laga Winning Eleven melalui trik yang biasa dilakukan saat bertanding di lapangan.

Berbeda dengan para pemain PS kebanyakan, saya termasuk pemain PS yang malas untuk mengoprek strategi dalam dasbor permainan terlalu lama. Sepak bola adalah tentang permainan di lapangan. Teknik dan strategi diadu di lapangan, bukan lewat cheat atau taktik yang aneh-aneh.

Hanya ada dua tim yang sering saya pilih saat memainkan WE, Juventus atau Liverpool. Penampilan Juventus pada masa itu memang begitu memukau berkat kehadiran pemain berbakat seperti Alessandro Del Piero atau Pavel Nedved. Hampir semua anak-anak sepantaran saya mengidolakan Del Piero. Sementara itu, banyak teman yang lebih suka menggunakan klub-klub seperti Real Madrid, Barcelona, Bayern Munchen, FC Internazionale Milano, Manchester United, juga AC Milan.

Saya begitu terkesima dengan ketajaman striker Michael Owen saat memainkan Liverpool. Tubuhnya tak terlalu tinggi, tetapi lihai memainkan tubuhnya untuk mencari celah guna mencetak gol ke gawang lawan.

Sebagai striker, Owen selalu saya duetkan dengan Emile Heskey yang bertubuh tinggi. Bek kiri John Arne Riise, seringkali dipilih sebagai pengambil tendangan bebas. Tak jarang, tendangan bebasnya jitu dan berakhir dengan gol indah. Bek tengah nan tangguh, Sami Hyppia, ketika itu masih menjabat sebagai kapten The Kop.

PS 1 dan WE mulai banyak ditinggalkan oleh para gamer semenjak muncul konsol PlayStation 2 (PS 2). PS 2 mengenalkan versi Winning Eleven yang lebih baru, yang kemudian dikenal sebagai Pro Evolution Soccer (PES).

Grafisnya lebih menarik ketimbang Winning Eleven, dengan tambahan fitur dan update pemain yang lebih lengkap. Hampir setiap pulang sekolah pada masa SMP dan SMA, saya menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menerima ajakan teman bermain PS 2.

BACA JUGA:  Mengenal The Fear Derby

Selain rajin bermain PS 2, saya juga mulai banyak menyaksikan dan memahami pertandingan sepak bola di layar televisi. Terkadang terlibat obrolan soal sepak bola dengan teman-teman.

Sesekali membeli tabloid BOLA untuk sekadar membaca berita terkini seputar sepak bola atau sekadar tertarik dengan poster klub/tim/pemain kesukaan. Membaca analisis taktik dan fitur seputar klub atau pemain lewat tabloid tersebut menjadi bagian yang menyenangkan. Melalui tabloid tersebut, saya banyak mendapatkan referensi soal susunan pemain untuk bermain WE/PS.

Miracle of Istanbul

Barangkali saya adalah satu dari sekian banyak Liverpudlian yang “tersihir” dan jatuh cinta kepada Liverpool melalui pertandingan ajaib pada tanggal 25 Mei 2005. Banyak penonton, baik yang mendaku dirinya Liverpudlian atau pun bukan, mengingat pertandingan final yang digelar di stadion Ataturk, Istanbul, Turki. Laga yang mempertemukan Liverpool dan AC Milan itu dinilai sebagai salah satu pertandingan final Liga Champions pada era milenium yang paling menarik sekaligus mencengangkan.

Saya tidak akan bercerita banyak tentang peristiwa Miracle of Istanbul. Pendek kata, tiga gol beruntun AC Milan ke gawang Jerzy Dudek berhasil dibalas oleh Liverpool dengan tiga gol setelah jeda babak pertama usai hanya dalam waktu enam menit. Pertandingan semakin menegangkan. Satu babak drama adu penalti menjadi babak pertaruhan, hingga berakhir dengan skor 2-3 untuk kemenangan Liverpool.

Sundulan Gerrard pada menit 54’ menjadi pemantik semangat pemain-pemain Liverpool. Sebagai kapten, kedua tangannya terus diayunkan ke atas untuk memotivasi pemain lainnya di sisa waktu yang masih panjang. Auranya sebagai kapten Liverpool pada masa depan semakin jelas malam itu saat ia menerima Piala Liga Champions kelima bagi Liverpool.

Semenjak itulah saya mulai mengidolakan Gerrard dan semakin bangga dengan Liverpool. Setiap kali Gerrard bermain, saya selalu menunggu tendangan kerasnya dihentakkan dari luar kotak penalti.

Gerrard semakin matang menjadi gelandang tengah. Ia dikenal sebagai sosok gelandang yang disiplin dan sering membantu pertahanan. Seorang scouser—istilah yang digunakan untuk menyebut orang asli Liverpool yang punya aksen Bahasa Inggris yang khas— kental dari kawasan selatan Merseyside.

Kesetiaan membela Liverpool selama 17 tahun tanpa berganti klub dan konsistensinya mencetak gol adalah dua hal yang bisa saya pelajari dari sosok Gerrard.

Kiblat British Invasion

Selain mengingatkan klub sepak bola, Liverpool seringkali merujuk pada kota yang melahirkan band sejuta penggemar, The Beatles. Satu grup band yang banyak menginspirasi lahirnya band-band serupa, baik di Inggris Raya maupun di belahan yang dunia lain.

BACA JUGA:  Yang “Kiri” dan yang Seksi: Anti Kapitalisme Sepak Bola di Ladang Kapital

Dari kepopuleran The Beatles, Liverpool disebut sebagai kiblat British Invasion. Fenomena British Invasion di pertengahan tahun 60-an tak hanya melahirkan band-band baru, tetapi juga melahirkan genre dan subkultur yang masih ada sampai saat ini.

Oasis, termasuk salah satu band britpop asal Manchester yang terinspirasi oleh musik The Beatles. Dua personelnya, kakak adik Noel dan Liam Gallagher sangat mengagumi karya-karya John Lennon.

Dari mendengar musik Oasis, saya mulai tertarik mendengarkan lagu-lagu bergenre brit-pop/rock, sebutan untuk genre musik pop/rock yang lahir di Inggris. Misalnya Blur, Suede, The Verve, Primal Scream, The Smiths, Radiohead, Coldplay, Kasabian, hingga U2.

Tak hanya itu, beberapa lagu bergenre britpop seringkali bergema dalam stadion, baik sebagai chants maupun  theme song kemenangan atas sebuah tim sepak bola. Semisal saat pertandingan Celtic vs Rangers tahun 2011, lagu Roll With It milik Oasis pernah dikumandangkan oleh fans Celtic.

Lagu Fire milik Kasabian didedikasikan untuk Leicester City. Potongan lagu Fire juga sering diputar di dalam stadion saat The Fox merayakan golnya. Beady Eye, band pecahan Oasis, secara khusus pernah menciptakan lagu Blue Moon yang sering dinyanyikan fans Manchester City ketika berlaga di Etihad Stadium.

 

Noel Gallagher dan Serge Pizzorno nonton bareng laga Leicester City vs Manchester City yang berakhir 2-2

Kultur Liverpool sebagai kiblat British Invasion dapat dirasakan tak hanya dalam gelaran musik, tetapi juga di dalam momen sepak bola Inggris Raya. Musik dan olahraga saling menjalin harmoni. Berkat kecintaan atas The Kop, Gerrard, kemudian lagu-lagu britrock itulah saya belakangan mulai menaruh hati kepada timnas Inggris.

Sejatinya, ada satu kesan yang begitu membekas kala sesuatu hal yang sama-sama kita sukai saling bertautan satu sama lain. Nostalgia, ingatan sebuah peristiwa, dan ketertarikan atas satu genre musik adalah serangkaian hal yang dapat mendeskripsikan alasan mengapa saya begitu mencintai Liverpool.

 

*) Ralat: Lagu ‘Blue Moon’ bukan lagu karya Beady Eye, tetapi lagu balada klasik yang diciptakan oleh Richard Rodgers dan Lorenz Hart pada tahun 1934. Lagu tersebut pernah dipopulerkan kembali oleh The Marcels, The Mavericks, Rod Stewart, hingga Elvis Presley.

 

Komentar
Blogger, pengembang web, dan penjaga gawang di fandom.id. Fans Liverpool. #YNWA