Penghormatan Terakhir bagi Iker Casillas

Sudah menjadi hal biasa jika seorang pesepakbola menerima pujian dari rekan setimnya. Namun jadi luar biasa apabila sanjungan itu malah datang dari rivalnya. Hal itu dialami Iker Casillas setelah mengumumkan bahwa dirinya pensiun sebagai pesepakbola profesional usai berjibaku di atas lapangan hijau selama 22 tahun.

Bukan hal aneh jika rekan setimnya di Real Madrid, David Beckham dan Sergio Ramos melayangkan pujian untuk Casillas yang mengakhiri karier bareng tim asal Portugal, FC Porto, tersebut.

Akan tetapi, nama besar Casillas juga membuat banyak figur yang jadi rivalnya selama ini tak ragu untuk memberi pujian sebagai bentuk penghormatan terhadap dedikasinya di atas rumput hijau.

Lionel Messi, ikon sekaligus megabintang Barcelona merupakan salah seorang figur yang tak malu-malu untuk memuji Casillas yang kini berusia 39 tahun. Berdasarkan data Transfermarkt, Messi dan Casillas berjumpa sebanyak 25 kali di ajang El Clasico dalam rentang 2005 sampai 2015 silam. Di luar itu, keduanya juga sempat bertemu dalam balutan baju tim nasional Argentina dan Spanyol satu kali yakni pada tahun 2009.

Di mata Messi, Casillas bukanlah kiper sembarangan meski gawangnya sering ia koyak. Secara keseluruhan, Casillas dipaksa memungut bola dari gawangnya sendiri sebanyak 18 kali oleh Messi. Namun rasa respek La Pulga kepada Santo Iker ada di titik tertinggi.

“Casillas pensiun hari ini, tapi ia telah melewati sejarah sepakbola sejak lama. Ia merupakan kiper yang spektakuler dan sangat sulit dihadapi. Menengok ke belakang, ada rivalitas menarik di antara kami,” ujar Messi seperti dikutip dari harian AS.

Layakkah Casillas mendapat respek besar dari pemain sebesar Messi? Tentu saja. Jika menengok jauh ke belakang, karier pria setinggi 182 sentimeter itu di dunia kulit bundar benar-benar gemilang. Dari segi prestasi, ia bisa dikatakan sebagai penjaga gawang paling sukses di planet Bumi lantaran sukses memboyong semua trofi bergengsi di level klub maupun internasional.

BACA JUGA:  Casemiro: Jalan Tengah Terbaik Setan Merah

Bersama timnas Spanyol, Casillas memenangkan Piala Eropa 2008 dan Piala 2012 serta jadi kampiun Piala Dunia 2010. Ia pun layak dimasukkan ke dalam jajaran legenda Madrid karena menyumbangkan tiga trofi Liga Champions, lima gelar La Liga Spanyol, dua titel Copa del Rey, empat Piala Super Spanyol, dua Piala Super Eropa, dan tiga Piala Interkontinental/Piala Dunia Antarklub.

Sementara perjalanannya di Porto juga dihiasi empat silverwares. Masing-masing berupa dua trofi Liga Primera Portugal dan sebiji Piala Portugal serta Piala Super Portugal. Tak heran bila publik Stadion Do Dragao mencintai sang penjaga gawang meski kariernya di sana tidak kelewat panjang.

Menariknya, karier spektakuler Casillas seolah-olah dimulai karena kebetulan. Mungkin sudah banyak yang tahu awal mula Santo Iker dipanggil masuk skuad utama Madrid. Pada November 1997 jelang laga melawan Rosenborg di Liga Champions, dua kiper Los Blancos kala itu, Santiago Canizares dan Bodo Illgner sama-sama dirundung cedera. Walau akhirnya tak dimainkan sebab Canizares dapat pulih tepat waktu, tapi momen itu takkan bisa dilupakan oleh Casillas.

Utusan tim utama Madrid terpaksa “menculiknya” dari sekolah. Usianya ketika itu baru menginjak 16 tahun dan tengah belajar di sekolah tatkala perwakilan Los Blancos mengetuk pintu kelasnya dan memohon izin kepada gurunya agar Casillas diberi kesempatan izin dalam waktu lama karena akan diberangkatkan bersama tim menuju Trondheim, kota yang jadi rumah Rosenborg di Norwegia.

Tahun 1999 jadi momentum penting bagi karier profesional Casillas. Tak main-main, dirinya langsung mencicipi debut sebagai kiper inti di La Liga dan Liga Champions bareng Madrid. Masing-masing kontra Athletic Bilbao dan Olympiakos Pireaus. Semenjak saat itu, meski diwarnai performa yang naik turun, posisi kiper Madrid secara resmi dipatenkan pria kelahiran Mostoles tersebut.

BACA JUGA:  Lima Peran Krusial Seorang Ibu Bagi Karier Pesepak Bola Usia Dini

Belasan tahun jadi pilihan utama dan pujaan publik Stadion Santiago Bernabeu, senjakala kariernya dengan seragam Madrid hadir setelah Jose Mourinho datang sebagai pelatih. Lelaki beruban itu memvonis bahwa kemampuan kiper pemilik 167 penampilan bareng timnas Spanyol ini sudah habis. Mourinho yang tampil bak antagonis rupanya berhasil menyulap Stadion Santiago Bernabeu jadi neraka untuk Casillas. Padahal sebelumnya tempat ini ibarat surga baginya.

Ogah menjadi pilihan kedua, Casillas mengalah dan kemudian pergi ke barat Iberia guna bergabung dengan Porto pada tahun 2015 lalu. Air matanya menetes kala mengumumkan kepindahannya dari Los Blancos. Meski tak mendapat sorotan sebanyak di Madrid, tapi Casillas mampu membuktikan bahwa ia masih bisa tampil ciamik bersama O Dragao.

Namun di tahun 2019 silam, ia dikejutkan dengan masalah jantung. Keadaan ini membuat dirinya tak bisa beraksi di atas lapangan. Luar biasanya, manajemen Porto tak lantas menyudahi kontrak Casillas. Mereka tetap mendampingi sang kiper melakoni pemulihan seraya mengintip peluang untuk beraksi kembali.

Segala macam hal dilakukan Casillas demi mengembalikan kondisi jantungnya ke titik normal. Namun suratan takdir memaksanya untuk menepi dari lapangan sepakbola. Wajar bila suami dari Sara Carbonero ini membulatkan tekad untuk pensiun.

Karier Casillas sebagai pesepak bola memang sudah berakhir. Namun kisah-kisah indahnya tidak akan mudah dilupakan. Seperti kata Messi, Casillas memang spektakuler dan pantas mendapatkan penghormatan terakhir di pengujung kariernya.

Komentar
Penggemar berat Chelsea dan pernah mencintai sepenuh hati AC Milan, serta bisa disapa di akun Twitter @blues_honeyfah.