Mengayuh Sepeda, Demi Persija

Ada cerita unik di balik awayday The Jakmania ke Lamongan, 10 Mei 2017 lalu. Dalam lurukannya ke Kota Soto itu ada salah seorang Persija Fans yang menjalaninya dengan bersepeda.

Tidak tanggung-tanggung, The Jakmania itu mengayuh sepedanya dari Klaten, Jawa Tengah menuju Lamongan. Jarak 250 km dilaluinya dengan bersepeda demi satu tujuan: mendukung Persija Jakarta.

Dialah Lugiman. Pemuda asli Desa Jomboran, Kecamatan Klaten Tengah, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Setelah mendapat restu dari kedua orang tuanya, Lugiman mulai berangkat menuju Lamongan pada senin (8/5) jam 8 pagi.

Lewat jalur Solo-Sragen-Ngawi-Bojonegoro, pemuda kurus kering itu sampai di Lamongan Kota pada Selasa (9/5) pukul 22.00. Perjalanan yang cukup cepat untuk dilalui dengan bersepeda onthel.

Sejak kecil pemuda kelahiran 26 Mei 1997 mengaku begitu menggilai Macan Kemayoran. Lewat layar televisi, Lugiman kecil selalu menonton Persija dengan harapan bisa menontonnya secara langsung.

Meskipun tidak memiliki darah Jakarta sedikitpun dari keluarganya, Lugiman mengaku mencintai Persija karena permainannya yang begitu menghibur. Kharisma seorang Bambang Pamungkas juga membuat Lugiman jatuh cinta pada klub berjuluk Macan Kemayoran ini.

Kesempatan untuk menonton Persija pun terjadi ketika bermain di Stadion Manahan, Solo. Waktu itu Ugi, panggilan akrabnya, menonton bersama saudaranya dengan mengendarai sepeda motor. Pengalaman pertama menjadi The Jakmania itu ternyata membuat Ugi ketagihan. Lugiman ingin terus melihat Bambang Pamungkas cs berlaga.

Sorak sorai The Jakmania yang selalu bernyanyi penuh tenaga membuat Ugi mulai mendaku diri sebagai pendukung Persija.

Lugiman memang punya hobi bersepeda. Sejak setahun kemarin, sebelum ke Lamongan, Lugiman ternyata sudah pernah bergowes dari rumahnya menuju Tenggarong, Bali, dan Malang.

Dan setelah Lamongan ini Lugiman hendak melanjutkan kayuhan sepedanya menuju Stadion Patriot Chandrabhaga, Bekasi. Tempat dilangsungkannya pertandingan lawan Bali United, Minggu (21/5).

Pengalamannya berhari-hari di jalanan bersama sepedanya memiliki banyak cerita bagi Lugiman.

Seperti ketika mendapati momen saat tengah malam harus melintasi hutan Berau di Samarinda. Hutan yang begitu panjang dan luas tidak diperhitungkannya sehingga Ugi terpaksa harus melintasinya.

Sialnya, ketika kegelapan malam yang begitu pekat itu Ugi harus diserang kawanan kera.

BACA JUGA:  Munir, Omen, Fahreza, dan Potret Buram Penegakan HAM di Indonesia

“Keranya di sana galak-galak, seperti belum makan berhari-hari. Saya diserang hingga seperti mau pingsan. Selamatnya ada mobil pickup lewat, jadi saya bisa minta tolong. Beda dengan kera di Banyuwangi, yang di Banyuwangi itu jinak-jinak.,” cerita Ugi sambil tersenyum mengingat pengalamannya tersebut.

Pengalamannya diserang kawanan kera itu ternyata tidak membuat Lugiman kapok. Setelah menonton pertandingan Persija melawan Mitra Kukar di Stadion Aji Imbut, Tenggarong, pemuda asli Klaten ini langsung melanjutkan perjalanannya ke Bali.

Lugiman seperti tidak ingin melihat klub idolanya, Persija Jakarta itu berjuang sendirian. Perjalanan dengan sepeda berjenis mountain bike menuju Bali dijalani Lugiman selama 24 hari. Ugi berganti kapal 2 kali, yaitu Balikpapan-Surabaya dan Banyuwangi-Bali.

Ketika di Bali itulah, perjuangannya mendukung Persija diapresiasi oleh manajemen serta pemain Persija. Pihak manajemen Persija memberinya jersey home lengkap dengan tanda tangan seluruh pemain.

Selain itu, pada pertandingan melawan Bali United itu Lugiman juga diberi kesempatan menginap di hotel bersama pemain Persija. Pada waktu itu Ugi juga ikut meeting bersama tim Persija untuk menerapkan taktik dan strategi melawan Bali United. Lugiman juga ikut bersama bus tim menuju stadion.

Setelah dari Bali, Lugiman pulang ke rumahnya di Klaten. Pemuda 19 tahun itu ingin mengumpulkan uang dulu untuk dapat menonton Persija lagi. Lugiman mulai menabung dari jerih payahnya setiap hari menjadi petani.

Ayah Ibunya, Parman dan Poniyem memang sempat melarangnya. Namun melihat kegigihan anaknya itu akhirnya mereka luluh juga. Restu untuk mendukung Persija Jakarta ke seluruh Indonesia sudah diperoleh Lugiman.

Di setiap perjalanannya Lugiman selalu membawa perbekalan kompor, beras, roti, dan mie instan. Semua perlengkapannya itu dimasukkannya ke dalam plastik lalu ditaruh di belakang jok sepedanya.

BACA JUGA:  Menghindari Zona Nyaman ala Harry Redknapp

Lugiman selalu menikmati perjalanannya. Seperti ketika harus mendapati panggilan jiwa mendukung Persija di Piala Sudirman. Persija yang harus bertanding selama seminggu ketika menjalani Piala Sudirman di Malang pun juga turut dihadiri Lugiman. Waktu itu Lugiman menuturkan sampai ngekost di daerah Kepanjen selama seminggu.

“Kalau capek ya istirahat di pom bensin atau masjid mas. Selain itu saya juga takut berjalan malam, jadi ya pasti berhenti dulu,” ceritanya sembari menikmati nasi boran, makanan khas Lamongan.

Ketika di Lamongan, Lugiman bersama kawanan The Jakmania lainnya menginap di tempat L.A Mania Ki Nameng. Malam setelah pertandingan itu Ugi bercerita banyak tentang perjalanannya yang sepertinya belum menemu titik akhir. Lugiman bersama sepeda kesayangannya ingin terus bersama mendukung Persija Jakarta.

Setelah pertandingan yang berakhir 1-0 untuk kemenangan Persela Lamongan itu Lugiman langsung tidur.

“Besok pagi saya harus berangkat mas, hari Sabtu harus sudah sampai Semarang. Saya ingin nonton Persija lawan Mitra Kukar di televisi saudara saya di sana. Saya mau mengistirahatkan bokong saya dulu, kalau ngonthel bagian ini yang paling sakit.”

Paginya, Lugiman sudah hilang dari kawanan The Jakmania lainnya.

“Subuh-subuh tadi sudah berangkat, katanya mau ke Jepara dulu,” kata Febri Waluyo, The Jakmania asal Priok yang semalam menemani Lugiman.

“Setelah ke Bekasi, mau kemana lagi Man?” tanya saya.

“Sak kersane Gusti mawon, kulo niki manut kersane Gusti,” Jawab Lugiman.

Bermacam rupa serta cara orang untuk mendukung klub sepak bola. Ada yang dengan membeli jersey resmi klub, selalu datang ke stadion dengan membeli tiket, maupun juga bersepeda dengan jarak yang begitu jauh seperti Lugiman.

Yah, sepatutnya banyak orang harus tahu bahwa orang seperti mereka itu ada. Orang seperti mereka harus diapresiasi adanya. Kayuh terus sepedamu, Lugiman!

Komentar
Mahasiswa yang sedang menyelesaikan studinya di Surabaya. Bisa dihubungi melalui akun Twitter @mailboxx_.