Radja Nainggolan: Pesta, Sepakbola dan Meroketnya Cagliari

Sang pengabdi pesta, mungkin itu julukan yang pas untuk disematkan kepada Radja Nainggolan. Walau mengaku telah menjalani kehidupan yang lebih teratur, tapi kebiasaan buruk di luar lapangan dari seorang Nainggolan sudah kadung jadi rahasia umum.

Wojciech Szczesny, kiper Juventus yang jadi rekan setim Nainggolan di AS Roma dahulu, pernah mengungkapkan bahwa gaya hidup lelaki keturunan Indonesia tersebut memang begitu karib dengan alcohol, rokok, dan pesta.

Meski menjalani gaya hidup yang bertolak belakang dengan standar disiplin seorang pesepakbola profesional, tapi performa Nainggolan di atas lapangan tergolong cukup baik.

Bila tidak diganggu cedera, dirinya senantiasa tampil penuh energi di atas rumput hijau. Determinasinya tidak perlu diragukan. Sosok berusia 31 tahun ini adalah petarung sejati. Menurut pandangan pribadi saya, Nainggolan adalah pemain yang cukup komplet sebab kemampuan teknik dan kekuatan fisiknya sama-sama jempolan. Hal inilah yang membuat kebiasaan buruknya di luar lapangan dimaafkan oleh beberapa pelatih yang pernah menanganinya.

Berbekal kemampuan ciamik, banyak orang yang merasa bahwa Nainggolan sebenarnya cocok untuk gaya permainan yang diusung pelatih baru Internazionale Milano, Antonio Conte.

Ketimbang dipinjamkan ke Cagliari, publik menilai jika Nainggolan lebih ideal untuk dijadikan dinamo permainan La Beneamata di sektor tengah bersama Marcelo Brozovic maupun sepasang pemain anyar, Nicolo Barella dan Stefano Sensi. Sayangnya, Conte yang terkenal tegas dan tanpa kompromi sulit memberi toleransi akan perilaku antik Nainggolan.

Nicky Bandini dalam tulisannya di The Guardian menyebutkan bahwa Conte tidak layak menyalahkan kebijakan transfer Inter lantaran di mercato musim panas kemarin tidak mendatangkan pemain berpengalaman untuk lini tengah dan hanya memboyong pemain dari tim seperti Cagliari (Barella) dan Sassuolo (Sensi).

Pasalnya, Conte pula yang menyetujui kepergian Nainggolan ke Pulau Sardinia. Maka di saat ia memprotes kebijakan transfer Inter, Conte sepantasnya ikut bercermin karena telah melepas salah satu figur berkemampuan lengkap dan kaya pengalaman di sektor tengah.

Saat rumor bahwa Inter siap melepasnya makin santer terdengar, ada cukup banyak kesebelasan Eropa maupun Cina yang bersedia menampung Nainggolan. Namun dirinya bersikukuh untuk bertahan di Italia sampai akhirnya ‘mudik’ ke Gli Isolani.

“Terkadang, kamu harus berpikir untuk menjadi lelaki terlebih dahulu daripada memikirkan kariermu”, ucap Nainggolan saat diwawancarai DAZN bulan lalu.

BACA JUGA:  Kisah Pedih Marco Negri di Kota Glasgow

Pernyataan tersebut ia lontarkan saat ditanya apa alasannya memilih kembali ke Cagliari. Alasan terkuat yang mendorongnya untuk pulang ke Pulau Sardinia adalah istrinya, Claudia Lai, yang memang berasal dari sana. Ketimbang bermandikan uang di tempat lain, Nainggolan merasa lebih tenang jika istrinya bisa mendapat perawatan dan dukungan yang dibutuhkan setelah didiagnosa kanker beberapa bulan yang lalu.

Manisnya lagi, keputusan Nainggolan buat melanjutkan karier di Cagliari nyatanya malah memberi dampak bagi Gli Isolani pada musim ini. Bersama dengan beberapa pemain yang baru didatangkan Cagliari seperti Nahitan Nandez, Robin Olsen, Marko Rog, dan Giovanni Simeone, tim besutan Rolando Maran kini duduk nyaman di papan atas klasemen. Siapa yang sebelumnya menduga jika Cagliari bisa meroket seperti sekarang?

Hingga giornata kedua belas, klub yang bermarkas di Stadion Sardegna Arena tersebut menempati posisi empat dengan torehan 24 poin. Hasil dari 7 kemenangan, 3 hasil seri, dan 2 kali tumbang.

Maran yang bahkan sempat diisukan akan diganti pada musim lalu, secara mengejutkan justru mampu meramu taktik yang sesuai untuk materi skuat Cagliari saat ini.

Dengan pola  dasar 4-3-1-2, Cagliari menerapkan pressing tinggi terutama saat menekan lawan di area mereka sendiri sehingga acap mengalami kesulitan dalam membangun serangan dari lini pertama. Akibatnya, build up serangan lawan kerap macet dan momen itulah yang diincar Cagliari buat mengambil keuntungan.

Kuartet Luca Cigarini, Nainggolan, Nahitan Nandez, dan Marko Rog yang jadi andalan di sektor tengah kerap membentuk pola berlian saat melancarkan pressing tersebut. Ditambah dengan kegesitan Simeone, tekanan Gli Isolani memang cukup merepotkan.

Manakala bola sudah menembus wilayah permainan Cagliari, bentuk pressing tersebut bisa berubah. Nainggolan akan bergeser lebih ke dalam sejajar dengan Cigarini, sementara Nandez dan Rog di sisi kanan dan kiri makin merapat guna mempersempit ruang untuk dieksploitasi lawan.

Fleksibilitas dari para gelandang inilah yang membuat tekanan Cagliari seringkali membuat lawan mereka kesulitan untuk mengembangkan alur serangan.

(sumber foto: totalfootballanalysis)

BACA JUGA:  Ernest Mangnall: Pelatih Pertama yang Menghadirkan Gelar Juara Bagi Manchester United

Setali tiga uang, pola serangan Cagliari besutan Maran juga terstruktur. Build up serangan biasa dimulai dari fullback, seringkali dari sisi kiri di mana Luca Pellegrini beroperasi. Kemudian Pellegrini melakukan penetrasi dan mengirimkan bola ke arah Nainggolan atau Rog.

Opsi lainnya, Pellegrini mengumpan ke tengah kepada Cigarini yang kemudian melepas umpan vertikal kepada Nainggolan atau Rog. Tak jarang, umpan itu juga langsung diarahkan ke Simeone atau Joao Pedro. Entah untuk dieksekusi para striker tersebut atau dipantulkan ke belakang buat dihajar Nainggolan yang sudah siap sedia di luar kotak penalti. Biasanya gol-gol khas pemilik 30 penampilan dan 6 gol bareng tim nasional Belgia itu berupa sepakan keras jarak jauh tercipta dengan skema ini.

(sumber foto: totalfootballanalysis)

Keberadaan Nainggolan di lini tengah Cagliari memang punya dampak signifikan karena kemampuan lengkapnya bikin Maran lebih mudah dalam mengatur strategi buat membungkam lawan sekaligus memperkokoh tim. Aksi brilian Nainggolan di laga kontra Fiorentina akhir pekan lalu (10/11) adalah bukti sahihnya.

Menurut legenda Cagliari, Gianfranco Zola, permainan yang disuguhkan Gli Isolani sekarang memang pantas diganjar papan atas klasemen sementara. Secara khusus, dirinya bahkan memuji Nainggolan yang dianggap menyuntikkan karisma dan pengalaman ke dalam tim. Lebih jauh, rekan setimnya seperti Joao Pedro juga menyebut kalau perangai Nainggolan saat ini makin dewasa.

Dalam sebuah wawancara, Nainggolan menyebut bahwa dengan bermain lebih tenang, maka semuanya akan berjalan lebih mudah. Berbagai asumsi pun mengemuka, selain kesempatan bermain yang tinggi, Nainggolan bisa terus menjaga performanya di Cagliari karena tekanan di sana tak seberat di Inter atau Roma.

Satu hal yang pasti, di Cagliari, Nainggolan bisa mengeluarkan segenap kemampuannya tanpa takut menerima vonis perihal tingkah lakunya di luar lapangan. Perasaan macam ini jelas mendorong pemain untuk menikmati setiap momen ia beraksi di atas rumput hijau.

Andai sanggup meneruskan performa apik tersebut dan bikin Cagliari awet berkeliaran di papan atas, jangan kaget bila banyak Interisti yang meradang karena Conte tak coba memaksimalkan tenaga Nainggolan terlebih dahulu. Di Pulau Sardinia, Nainggolan memang dipuja laksana ra(d)ja.

Komentar
Peternak cupang yang kecanduan Liga Italia dan kopi liong bulan. Bisa disapa di akun Twitter @codri__