Asnawi Mengejar Impian di Lapangan Hijau

Bek kanan Tim Nasional Indonesia di Piala AFF 2020, Asnawi Mangkualam, menjadi buah bibir karena permainan cemerlangnya.

Video yang memperlihatkan aksi solo run-nya saat memberikan asis kepada Witan Sulaeman pada gol Indonesia melawan Singapura di leg pertama babak semifinal diunggah oleh berbagai media internasional di media sosial.

Pada leg kedua, ia kembali menjadi sorotan setelah mengucapkan ‘terima kasih’ kepada pemain Singapura, Faris Ramli, yang gagal mengeksekusi penalti pada menit-menit akhir laga.

Khusus yang kedua, aksi ini membuat publik terbelah dua. Ada yang menganggap itu sebagai bagian dari permainan dan psywar, ada pula yang merasa kalau Asnawi kurang respek kepada Faris.

Usia Asnawi saat ini baru menginjak 22 tahun. Walau tergolong muda, tetapi ia sudah memperlihatkan kapabilitas luar biasa sehingga bisa menjadi pilar Timnas.

Situs Transfermarkt bahkan melabelinya sebagai pemain Indonesia termahal saat ini. Dalam situs tersebut, Asnawi memiliki market value sebesar 375 ribu Euro atau setara dengan 6 miliar Rupiah. Fantastis, bukan?

Asnawi merupakan anak dari mantan pemain Timnas era 90-an, Bahar Muharram. Ia memulai karier sepakbolanya saat bergabung dengan tim junior PSM dan masuk ke dalam tim Pekan Olahraga Nasional (PON) untuk Sulawesi Selatan di tahun 2016.

Bersama tim PON Sulsel, ia berhasil melaju sampai final. Hanya saja di partai puncak, tim PON Sulsel kalah dari tuan rumah, tim PON Jawa Barat, melalui babak adu penalti.

Walau merupakan anak dari eks pesepakbola nasional, nyatanya figur dengan nomor punggung 14 kala berkostum Timnas Indonesia ini, sempat tidak mendapat restu dari ayahnya untuk menjadi pemain sepakbola.

Ayahnya bahkan pernah dua kali menolak Asnawi masuk ke tim yang ditanganinya. Pertama, terjadi saat seleksi Timnas U-14. Asnawi tidak lolos seleksi padahal ayahnya tergabung dalam salah satu tim penyeleksi.

BACA JUGA:  Debar di Singapura, Jengah di Indonesia

Kedua, terjadi di tahun 2016 silam. Saat itu sang ayah merupakan asisten pelatih di PSM Lagi-lagi, sang putra tidak masuk ke skuad Juku Eja saat itu.

Akhirnya, ia memutuskan bergabung dengan kesebelasan asal Balikpapan, Persiba, guna melanjutkan mimpi menjadi pesepakbola.

Melihat ketekunan dan kesungguhan sang putra menjadi pesepakbola profesional sedari belia, Bahar akhirnya luluh.

Ia kemudian memberi latihan khusus kepada Asnawi buat memperkuat fisik, teknik, dan pemahaman taktiknya.

Menariknya, sang ayah memperlakukan sang putra dengan cara serupa melatih pemain sepakbola pada umumnya. Asnawi diberi syarat untuk berlatih dua kali sehari yakni pada pagi hari sebelum berangkat sekolah serta sore hari sepulang sekolah.

Bahar mengatakan jika tidak mau, Asnawi lebih baik menghentikan karier sepakbola dan fokus belajar.

Sang ayah memang tidak mau memberikan begitu saja privilese kepada Asnawi. Ia baru mengumumkan ke publik bahwa Asnawi adalah anaknya pada pertengahan tahun 2017.

Sebelumnya, Asnawi harus berjuang sendiri saat harus melakukan berbagai seleksi, termasuk ketika Asnawi terpilih ke dalam skuad Timnas U-19 tahun 2016 yang dipegang oleh Indra Sjafri.

Perjuangan keras Asnawi pada akhirnya membuahkan hasil. Bersama Persiba, ia tercatat sebagai pemain termuda yang mencetak gol di kompetisi Indonesia Soccer Championship (ISC).

Ia mencetak gol ke gawang Bali United pada saat berusia 17 tahun 5 hari. Dari situ juga, ia mulai dikenal publik sebagai pemain berpotensi.

Satu tahun bersama Persiba, ia kemudian pindah ke klub tanah kelahirannya, PSM. Bersama Juku Eja, Asnawi kembali memberikan prestasi yang lama tidak dirasakan PSM.

Bareng rekan-rekannya, ia membawa klub tertua di Indonesia tersebut menahbiskan diri sebagai kampiun Piala Indonesia 2019 dan terpilih sebagai pemain muda terbaik di ajang tersebut.

BACA JUGA:  Mario Kempes: Legenda Argentina di Liga Indonesia

Tahun 2021, Asnawi kemudian mendapatkan kesempatan yang sangat ia nantikan yaitu bermain di luar negeri.

Melalui rekomendasi pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong, ia ditawari klub K-League 2 (divisi kedua dalam piramida sepakbola Korea Selatan), Ansan Greeners.

Asnawi tidak mempermasalahan nilai kontrak di Ansan yang lebih kecil dari yang ia terima di PSM.

Konon, di PSM ia bisa mendapatkan bayaran lebih dari 1 miliar Rupiah dalam setahun. Sementara Ansan tak dapat mengupahnya sampai nominal tersebut.

Akan tetapi, bagi sosok kelahiran 4 Oktober 1999 ini, pengalaman dan pelatihan yang akan dia terima di K-League 2 jauh lebih berharga dari nilai kontrak yang besar.

Karena tentu saja, mimpinya tidak hanya sampai di sini, karier sepakbola Asnawi masih panjang dan banyak prestasi lain yang ia ingin capai di level klub maupun Timnas di masa yang akan datang.

Komentar