Sepakbola Eropa Mulai Terjangkit Corona

Jumat, 28 Feburari 2020, Evangelos Marinakis berkunjung ke Emirates Stadium. Tujuan utama dari kedatangannya adalah mendampingi tim yang ia pimpin, Olympiakos Pireaus, menghadapi Arsenal pada babak 32 besar Europa League.

Kemenangan Olympiakos atas anak asuh Mikel Arteta saat itu memang mengejutkan, namun kabar lebih mengejutkan datang satu setengah pekan kemudian. Evangelos dinyatakan positif terjangkit virus COVID-19 atau yang lebih dikenal dengan nama Corona.

Seperti yang telah diketahui, virus ini menyebar melalui kontak langsung. Celakanya, terdapat empat staf Arsenal yang pada laga tersebut berada di dekat Evangelos. Melalui pernyataan resmi, Arsenal menyebutkan pula bahwa ada beberapa pemain mereka yang bertemu dengan presiden Olympiakos itu.

Dalam situsasi tersebut, tindakan selanjutnya yang diambil Arsenal sungguh layak diapresiasi. Mereka mengaplikasikan arahan pemerintah Inggris dengan mengisolasi para staf dan pemainnya. Mereka diisolasi hingga jarak dua minggu terhitung sejak kontak terakhir dengan Evangelos.

Karena kontak terakhir dilakukan pada 28 Februari, maka seluruh staf dan pemain Arsenal dirumahkan hingga hari ini (13/3). Andai tidak ada dari mereka yang menunjukkan gejala Corona, maka tim Arsenal akan diperbolehkan berkegiatan seperti semula.

Namun, kenyataan berkata lain. Pelatih Arsenal, Arteta dinyatakan positif terjangkit Corona. Hingga saat ini, hanya laga Arsenal melawan Manchester City yang sejatinya dilaksanakan pada 11 Maret, terpaksa ditunda.

Sementara itu, pertandingan The Gunners menghadapi Brighton & Hove Albion yang dijadwalkan digelar akhir pekan ini (14/3) akan ditangguhkan. Sementara itu, penyelenggaraan laga Liga Inggris lainnya juga ditunda hingga 4 April dengan kondisi salah satu pemain Chelsea, Callum Hudson-Odoi, yang juga telah terinfeksi.

Di sisi lain, ada yang kurang menjadi sorotan berkaitan dengan kasus Evangelos . Pada tanggal 7 Maret, seminggu setelah Arsenal menghadapi Olympiakos, Evangelos kembali hadir di sebuah pertandingan.

Dirinya yang juga merupakan pemilik Nottingham Forest menghadiri laga antara klubnya itu melawan Millwall pada ajang EFL Championship, liga kasta kedua persepakbolaan Inggris.

Sebagai pemilik, sungguh wajar apabila saat itu Evangelos bertemu para pemain dan juga staf Nottingham Forest. Memang awal pekan ini dilakukan tes kesehatan terhadap seluruh anggota tim yang pernah menjuarai Piala Champions itu.

Namun, hingga saat ini belum ada pernyataan resmi dari klub mengenai tindakan isolasi kepada para pemain dan staf mereka. Andai tindakan isolasi seperti yang dilakukan Arsenal merupakan prosedur yang diwajibkan oleh pemerintah, maka sangat dipertanyakan apabila The Reds tidak melakukannya.

Jika mereka pada akhirnya mengambil tindakan, maka para pemain dan staf Forest dirumahkan dua minggu sejak 7 Maret, yakni hingga 21 Maret. Kompetisi yang mereka jalani, EFL Championship, pun akhirnya juga resmi ditangguhkan dengan situasi tersebut.

Selain dari daratan Inggris, pertanyaan yang menarik tentang kasus ini berasal juga dari tepian Laut Mediterania. Tepatnya di Pireas, Yunani, kota asal klub yang dipimpin Evangelos, Olympiakos. Tim asuhan Pedro Martins itu ternyata juga mengambil tindakan.

BACA JUGA:  Apakah Mengejar Juventus adalah Kemustahilan?

Hanya saja, karena berbeda negara, bisa jadi prosedur yang harus dilaksanakan berbeda dengan tindakan yang dilakukan Arsenal. Pemain dan staf Olympiakos telah melakukan tes kesehatan dan dinyatakan bebas dari Corona.

Oleh karena itu, pertandingan mereka dengan Wolverhampton Wanderers di ajang Europa League tetap digelar meski tanpa penonton. Namun, sebelum dinyatakan laga tetap akan dilaksanakan, kekhawatiran sempat datang dari kubu Wolves.

Mereka sempat menginginkan laga tersebut ditunda dengan alasan membahayakan kesehatan pemain, staf, dan keluarga mereka. Namun, pihak UEFA menolak permintaan tim asal Inggris itu.

Sementara itu, pada dua laga Europa League lainnya, federasi sepakbola Eropa itu setuju untuk menunda pertandingan. Keduanya melibatkan masing-masing satu tim dari Italia dan satu tim dari Spanyol.

Laga Sevilla menjamu AS Roma urung digelar akibat pemerintah Spanyol tidak memperbolehkan penerbangan dari Italia untuk mendarat di negara mereka. Tim asal ibukota itu tidak seberuntung Atalanta yang masih sempat berkunjung ke kandang Valencia tengah pekan ini.

Sementara itu, Getafe juga menolak terbang ke kandang Inter Milan dengan alasan tak mau mempertaruhkan kondisi kesehatan seluruh anggota tim mereka. Menurut Presiden Getafe, Angel Torres Sanchez, memainkan laga di Milan akan berisiko bagi kesehatan banyak orang.

Italia memang merupakan negara dengan kasus Corona terbanyak di Eropa hingga saat ini. Sebanyak 15.000 lebih kasus terjadi di negara ini. Walaupun sebagian dinyatakan sembuh, tetapi jumlah korban meninggal mencapai 1.016 nyawa.

Bahkan yang terbaru, bek Juventus, Danele Rugani dan striker Sampdoria, Manolo Gabbiadini, juga dinyatakan positif terjangkit virus COVID-19 ini. Dengan kondisi tersebut, pertandingan Juventus melawan Lyon pada babak 32 besar Champions League tengah pekan depan resmi ditunda.

Dengan pandemi yang menyebar seluas itu, wajar apabila pemerintah Italia menghentikan seluruh ajang olahraga, termasuk kompetisi Serie-A hingga awal April.

Dengan adanya penundaan tersebut, tentunya Liga Italia tidak bisa rampung sesuai jadwal. Memundurkan jadwal pertandingan pun juga tidak mudah karena terdapat juga ajang Piala Eropa yang rencananya digelar mulai Juni tahun ini.

Oleh karena itu, Gabriele Gravina, presiden federasi sepakbola Italia, mengungkapkan beberapa opsi untuk mengakhiri kompetisi. Ia mengungkapkan tiga pilihan yang hingga kini masih akan di bahas oleh FIGC.

Ketiga opsi tersebut adalah tidak memberikan gelar scudetto bagi tim manapun, liga berakhir sesuai klasemen yang ada saat ini, atau dilakukan play-off untuk menentukan peraih gelar juara.

Sementara itu, di Semenanjung Iberia, asosiasi pemain yang berlaga di Liga Spanyol, AFE, juga meminta penghentian kompetisi sepakbola di semua level. Hal senada juga diungkapkan oleh federasi sepakbola Spanyol, RFEF.

Koordinasi AFE, RFEF, dan pihak La Liga akhirnya menghasilkan kesepakatan untuk menangguhkan kompetisi paling cepat selama dua minggu. Tindakan itu akan mulai dilaksanakan akhir pekan ini.

Salah satu hal yang menjadi dasar sikap tersebut adalah kondisi Real Madrid. Klub raksasa sepakbola menutup kompleks latihan Valdebebas setelah satu pemain tim basket Los Blancos yang juga berlatih di tempat ini dinyatakan positif Corona.

BACA JUGA:  Jalan Berliku Piala Dunia Antarklub

Dalam situasi tersebut, klub memutuskan untuk melakukan karantina kepada para pemain Real Madrid. Mereka diperintahkan untuk kembali ke rumah dan dilarang beraktivitas di luar hingga ada pemberitahuan lebih lanjut. Oleh karena itu, laga melawan Manchester City pekan depan di ajang Champions League juga ditunda.

Masih di Spanyol, laga Final Copa del Rey juga terkena imbas. Pertandingan yang memperebutkan Piala Raja Spanyol itu terpaksa ditunda hingga 30 Mei dari jadwal semula yang sejatinya digelar 18 April.

Bergeser ke timur laut, kabar mengejutkan datang dari salah satu pemain yang berlaga di kasta kedua Liga Jerman. Timo Hubers, bek Hannover 96, dinyatakan positif terkena virus COVID-19.

Kasus tersebut merupakan yang pertama di persepakbolaan profesional Jerman. Liga Jerman sendiri memutuskan untuk tetap menggelar laga pada pekan ini walaupun tanpa penonton dan mulai menunda seluruh pertandingannya mulai pekan depan.

Sementara itu, kekhawatiran akan pandemi Corona terus tumbuh di negara yang berpusat di Berlin itu. Kanselir Jerman, Angela Merkel, bahkan mengatakan bahwa virus ini dapat menjangkiti hingga 70% populasi negaranya.

Tak hanya di Jerman sebenarnya. Pertumbuhan kasus Corona di banyak negara Eropa memang sangat tajam. Di Italia, Spanyol, Jerman, Prancis, dan Britania Raya, pertambahan pasien yang dinyatakan positif COVID-19 dapat lebih dari 33% per hari.

Penyelenggaraan kompetisi di Eropa mulai terlihat carut-marut dengan penundaan laga di sana-sini karena pandemi tersebut. Sebagai bagian dari tindakan preventif, keputusan tesebut memang tepat.

Namun, melihat penyebaran virus COVID-19 yang semakin parah di Benua Biru, agaknya federasi sepakbola di negara-negara Eropa harus mulai mempertimbangkan langkah lain yang lebih dari sekadar menggelar pertandingan tanpa penonton atau hanya menunda beberapa laga saja.

Federasi sepakbola Italia yang didorong oleh keputusan pemerintah telah mencontohkan sikap yang bijak. Tindakan yang kemudian diikuti oleh persepakbolaan Spanyol, Belanda, Prancis, dan terakhir Inggris yang juga menghentikan liganya. Champions League dan Europa League juga akhirnya ditangguhkan oleh UEFA.

Penghentian sementara kompetisi jelas meniadakan kemungkinan kontak dengan penderita Corona di ajang sepakbola. Tindakan itu jelas dapat mengurangi penyebaran pandemi ini.

Walaupun, penghentian sementara liga memang membawa kerumitan tentang cara mengakhiri kompetisi. Namun, apalah artinya semua keribetan itu dibandingkan dengan keselamatan nyawa manusia.

Lagipula, sudah mulai ada desakan kepada UEFA untuk mempertimbangkan penundaan gelaran Piala Eropa 2020. Federasi sepakbola Benua Eropa itu akan membahasnya pada Selasa pekan depan (17/3).

Rapat yang melibatkan perwakilan federasi sepakbola di seluruh negara Eropa tersebut diharapkan dapat mengambil keputusan bijak dengan mempertimbangkan keselamatan semua orang yang berkecimpung di dalamnya. Karena bagaimanapun, sepakbola bukanlah tandingan dari sebuah nyawa.

Komentar
Pendukung Persiba Bantul dengan akun twitter @AndhikaGila_ng