Si Nyonya Tua Mengurut Dada

Kekalahan 1-2 yang diderita Juventus dari Sassuolo (28/10) dan Hellas Verona (31/10) dalam dua giornata terakhir seakan mengikis harapan yang mulai muncul di skuad berjuluk Si Nyonya Tua tersebut.

Anak asuh Max Allegri mengawali musim dengan permulaan yang buruk. Mereka hanya mengantongi satu kemenangan dari lima pertandingan pertama di semua kompetisi.

Asa mulai tumbuh saat tiga poin mulai rajin diraup dalam enam pertandingan sesudahnya. Empat laga di antaranya bahkan didapat dengan catatan tanpa kebobolan.

Perlahan, Si Nyonya Tua mengerek posisinya di papak classifica. Usai tercecer dan berada di luar 10 besar, mereka akhirnya nangkring di 10 besar.

Kebocoran di lini belakang tampak mampu ditambal. Performa Wojciech Szczesny juga semakin membaik pasca-blunder yang diperbuatnya pada awal musim.

Semua terlihat berjalan dengan semestinya sebelum laga menghadapi Sassuolo dan Verona.

Dalam dua laga melawan klub yang di atas kertas kualitasnya di bawah Federico Chiesa dan kawan-kawan itu, malapetaka datang tanpa permisi.

Pola 4-4-2 yang bisa berubah ke 3-5-2 saat menyerang nyatanya kurang tokcer saat dipraktikkan dalam partai kontra I Neroverdi dan I Gialloblu.

Pola ini sejatinya digunakan oleh Andrea Pirlo pada musim lalu. Seperti pada periode pertamanya menukangi Juventus, Allegri sepertinya masih membutuhkan waktu untuk beralih ke formasi andalannya.

Saat menggantikan Antonio Conte, Allegri tidak langsung mengubah formasi 3-5-2 warisan pendahulunya.

Ia tetap menggunakan formasi itu sebelum akhirnya mematenkan formasi 4-3-3 atau 4-2-3-1 kesukaannya. Tampaknya, hal ini coba diulangi Allegri pada periode keduanya bersama Si Nyonya Tua.

Akan tetapi, yang perlu diingat, Juventus di periode pertama dan keduanya melatih adalah dua tim yang berbeda.

Pada periode pertamanya, pelatih berumur 54 tahun itu dianugerahi gelandang-gelandang hebat sekelas Pirlo, Arturo Vidal, Paul Pogba, Claudio Marchisio, Sami Khedira, hingga Miralem Pjanic.

Allegri juga memiliki barisan depan yang beringas dan tajam dalam diri Carlos Tevez, Mario Mandzukic, Gonzalo Higuain, dan Cristiano Ronaldo.

Bandingkan dengan skuad yang dipunyainya sekarang. Tak ada nama Gianluigi Buffon di bawah mistar. Sementara duet Leonardo Bonucci dan Giorgio Chiellini semakin menua.

Penampilan Alex Sandro tak seperti tahun-tahun awal ia bergabung ke Juventus. Sedangkan Alvaro Morata dan Moise Kean yang menjadi tumpuan di sektor depan lebih suka pamer inkonsisten daripada ketajaman.

Namun, dari itu semua, perhatian besar terpusat di sektor gelandang. Lini tengah dinilai menjadi salah satu kelemahan utama Juventus dalam beberapa musim terakhir.

Jika dilihat dari kualitas, gelandang yang mereka miliki sebenarnya tidak buruk-buruk amat. Malah masih bisa dibilang sebagai salah satu yang terbaik di Italia.

Siapa yang menyangsikan kemampuan Aaron Ramsey, Rodrigo Bentancur, Adrien Rabiot, hingga Arthur?

BACA JUGA:  Saatnya Liverpool Melirik Piala Domestik

Nahas, pada kenyataannya barisan gelandang ini justru kesulitan bersinergi antara satu dengan lainnya.

Kedatangan Manuel Locatelli pada jendela transfer kemarin sangat dibutuhkan Juventus. Namun seorang Locatelli belum cukup untuk menguatkan lini tengah Si Nyonya Tua.

Hal itu busa terlihat dalam laga melawan Sassuolo. Locatelli kepayahan menghadapi bekas klubnya.

Selain menjadi regista, ia juga harus berjibaku menggagalkan serangan lawan. Tugas yang sebenarnya bisa dibagi kepada gelandang lain seperti Rabiot ataupun Weston McKennie.

Tidak mengherankan kalau melihat Locatelli keletihan sebab sejak kedatangannya, ia tak tergantikan.

Diakui atau tidak, Juventus masih membutuhkan Locatelli-Locatelli lain. Gelandang-gelandang berkualitas yang bisa bersinergi saat beraksi di atas rumput hijau.

Nama Axel Witsel dan Aurelien Tchouameni muncul ke dalam daftar pemain tengah yang diincar Juventus pada bursa transfer mendatang.

Sebelum Juventus memboyong gelandang baru, Allegri setidaknya sudah menemukan formula yang tepat bagi timnya.

Pola 4-4-2 terlihat tidak efektif dengan penempatan Rabiot di sayap kiri. Mungkin Allegri berniat menjadikan gelandang Prancis itu sebagai Mario Mandzukic yang dulu sukses ia sulap menjadi winger kiri dalam formasi 4-2-3-1.

Namun karakter Rabiot dan Mandzukic sangat jauh berbeda. Manduzkic merupakan figur petarung, berani berduel bahkan tak sungkan untuk turun sampai ke lini belakang. Jauh berbeda dari Rabiot yang terlihat lebih santai dan stylish.

Formasi 4-4-2 juga menggerus performa Chiesa musim ini. Dalam sistem permainan Allegri yang defensif, anak dari Enrico Chiesa itu tidak memiliki kebebasan menyerang seperti musim lalu.

Ia tidak bisa lagi lama-lama menggiring bola ke depan karena harus ikut memikirkan pertahanan.

Melihat skuad yang dimiliki, pola 4-3-3 sebenarnya cocok untuk diterapkan Allegri. Pola ini bisa memaksimalkan potensi Chiesa dan Dejan Kulusevski.

Sayangnya, pola ini berpotensi mengorbankan Paulo Dybala. Striker Argentina ini akan sulit unjuk gigi bila dimainkan sebagai penyerang tengah atau winger.

Padahal sepeninggal Ronaldo, Dybala diproyeksikan menjadi sentral permainan Si Nyonya Tua dalam fase ofensif.

Jika ingin memaksimalkan Dybala, maka pola 4-2-3-1 bisa menjadi pilihan. Masalah pada pola ini barangkali terletak pada poros ganda tim.

Arthur atau McKennie sebenarnya cocok untuk menemani Locatelli. Kemampuan mempertahankan bola dari Arthur sudah tidak perlu diragukan lagi.

Namun mengingat tubuh mungilnya, akan menjadi bumerang bila Arthur sampai kalah duel dengan pemain lawan yang bertubuh lebih besar dan meninggalkan Locatelli sendirian di lini tengah.

Sementara itu, kemampuan mencari ruang dan tusukan-tusukan ke kotak penalti menjadi salah satu keunggulan McKennie.

Hal itu dibuktikan penggawa asal Amerika Serikat ini dalam laga melawan Sassuolo dan Verona, di mana ia mencetak gol berkat kelebihannya tersebut.

BACA JUGA:  Simon McMenemy, Timnas Indonesia Hebat dan Liga yang Sehat

Akan tetapi, McKennie tidak istimewa dalam melakukan umpan ataupun tekel. Dengan kelebihan dan kelemahan yang dimiliki, sosok McKennie akan lebih efektif bila ditemani dua gelandang.

Maka dari itu, formasi double pivot rasanya kurang pas untuk mengakomodir potensi Arthur dan McKennie.

Lebih aman bila Locatelli dipasangkan dengan salah satu dari Rabiot atau Bentancur. Konsekuensinya, Juventus kehilangan pemain yang pintar membuka ruang seperti McKennie.

Formasi tiga gelandang lebih memberikan keseimbangan bagi Juventus. Arthur atau Rabiot di sebagai gelandang tengah kiri, Locatelli menjadi regista, dan McKennie atau Bentancur di pos gelandang tengah kanan.

Namun semua keputusan ada di tangan Allegri. Bersediakah ia mengorbankan Dybala? Ingat, pemain bernomor punggung 10 ini diproyeksikan sebagai protagonis utama tim pada saat ini.

Sembari menunggu Allegri menemukan racikan terbaiknya, Juventini di penjuru dunia tampaknya harus banyak-banyak mengurut dada melihat penampilan tim kesayangannya di musim ini.

Start lamban bak ciri khas dalam era kepelatihan Allegri. Musim 2015/2016 menjadi salah satu contoh di mana ia mengawali musim dengan buruk sampai akhirnya menyelesaikan kompetisi dengan meraih Scudetto.

Akan tetapi, seperti yang sudah disebutkan di atas bahwa skuad di musim 2015/2016 sangat berbeda dengan skuad Juventus saat ini. Kekuatan tim-tim di Serie A juga tidak sama lagi.

Dengan sistem permainan Allegri yang kental akan aroma defensif, Juventini berpotensi menjumpai situasi di mana saat sudah unggul satu atau dua gol, tim kesayangan mereka bakal bermain lebih rapat sambil mencari peluang mencetak gol lewat skema serangan balik.

Ini sudah menjadi ciri khas permainan Allegri. Ya, membosankan, dibenci, tetap masih efektif menghasilkan kemenangan. Namun bila mentok, sudah pasti caci maki yang keluar dari mulut Juventini,

Pada musim ini sudah lebih dari sekali Juventus memetik kemenangan dengan skor tipis 1-0 atau selisih satu gol. Kekalahan yang diderita Si Nyonya Tua juga tipis-tipis, belum sampai kalah telak 0-3 seperti musim lalu kala dipegang Pirlo yang lebih suka permainan ofensif.

Gaya bermain Allegri memang ada plus dan minusnya. Nilai plusnya, pertahanan lebih solid. Sementara minusnya, permainan tim jadi membosankan dan minim gol.

Hal inilah yang mungkin melatarbelakangi keputusan Ronaldo hengkang sebab produktivitasnya berpotensi seret.

Kendati demikian, seciamik atau seburuk apapun permainan Juventus, Juventini akan setia memberikan dukungannya.

Juventini pasti mengerti bahwa ada setumpuk pekerjaan rumah yang mesti dibereskan Allegri terlebih dulu. Mulai dari mencari skema permainan yang pas, menemukan pemain yang bisa diandalkan, sampai memperkuat mentalitas tim.

Semoga saja Si Nyonya Tua tak berlama-lama mengurut dada karena mereka akan semakin tertinggal oleh para rivalnya di Serie A.

Komentar
Tidak percaya diri dengan tulisan sendiri, penganut aliran britpop yang (belum) taat, pemalas, bungkuk dan suka sekali makan pisang.