Surat Terbuka untuk Liga Indonesia

Dear, Liga Indonesia, ini dari saya, penggemar fanatikmu yang sempat bosan dan lelah menunggu.

Seperti yang saya sebut di atas, saya ini penggemar fanatik Anda. Nggak jauh-jauh, sih, saya cinta liga ini dimulai ketika Persik masih punya nyali dan kekuatan untuk bersua Urawa Red Diamonds dalam ajang Liga Champions Asia.

Dari laga itu, saya cinta dengan Liga Indonesia walau sudah diwanti-wanti oleh almarhum bapak saya bahwa mental lemah dilarang mencintai sesuatu yang tidak akan membawa kebahagiaan.

Dulu saya bingung maksudnya apa, di masa gawat nan nyeleneh seperti ini, saya baru paham.

Ya, almarhum bapak saya yang merupakan die hard Persiba itu tepat sekali. Saya mencintai sebuah liga yang melulu membawa duka.

Istilah sebuah hubungan, barangkali Anda, wahai Liga Indonesia, adalah pasangan yang bisa dibilang toxic.

Derai air mata membawa kabar duka terus berjejalan masuk ke telinga saya. Kematian, tawuran, dan berbagai tindak kekerasan belum juga sirna.

Seperti benalu, orang-orang yang bergerak ke stadion—dulu—seakan mempersiapkan diri untuk mati kapanpun juga.

Bocah-bocah tidak paham akar kekerasan, ketika ke stadion mulai didoktrin bahwa mereka adalah musuh. Entah sebab musababnya apa, yang jelas mereka adalah musuh.

Mereka jadi benci hanya dari omongan ke omongan, tanpa bisa menjawab pertanyaan, “Kenapa saya harus membenci?”

Liga Indonesia itu sepeti beririsan dengan kebencian. Katanya, itu adalah bumbu dan keunggulan liga kita.

Mungkin mereka yang berpikir seperti itu harus dibisiki satu kata dengan serius, “Ndasmu!”

Mari kita bermain-main ke masa lalu, lebih tepatnya ketika Mata Najwa menyajikan pengakuan demi pengakuan atas nama pengaturan skor di Liga Indonesia.

BACA JUGA:  Dejan Gluscevic dan Lahirnya Klan Dejan di Indonesia

Hal yang sejatinya biasa terjadi di lapangan dan itu bukan rahasia umum, rupanya ada yang berani mengaku dan membawanya ke ranah diskusi publik.

Publik geger, namun hal macam ini bahkan sudah mengakar sampai liga paling tarkam sekali pun.

Nama-nama besar dicatut. Nama-nama yang tidak asing di telinga penggemar Liga Indonesia.

Yang berani tampil di permukaan, esoknya diterjang truk dan meninggal seketika. Sesakit inikah mencintai liga di tanah air sendiri?

Liga Thailand hingga Malaysia merawat kemajuan, Liga Indonesia itu seperti sedang merawat penyakit menahun.

Segala penyakit yang bisa memengaruhi performa tim nasional, justru dirawat dengan baik oleh liga.

Jadwal laga tidak jelas, kerusahan antarsuporter yang acap terjadi, kinerja jeblok para wasit (yang perkara menentukan offside atau tidak saja kerap bikin senewen) dan masih banyak permasalahan lainnya merupakan gambaran riil Liga Indonesia.

Pandemi menghajar segala lini kehidupan, sepakbola tak terkecuali. Omong besar para petinggi seperti janji manis politisi ketika berorasi.

Liga setelah lebaran, sampai pada akhirnya liga setelah tujuh belasan. Mengundur, mengundur, mundur terus.

Tim liga teratas mungkin sudah lebih dulu mencicipi turnamen. Piala Menpora tajuknya, yang ikut, ya, tim-tim kelas wahid dan para pemain bintang yang mengisi.

Bagaimana nasib tim-tim di Liga 2 dan Liga 3? Bagaimana nasib pemainnya? Ketika liga teratas pesta, mosok liga-liga di bawahnya hanya bertugas untuk nonton saja?

Stadion itu adalah episentrum mencari nafkah. Banyak yang bergantung dari sana untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah.

Sepakbola dihajar pandemi, bukan hanya gegap gempita saja yang hilang, namun juga penghidupan. Masalah sepakbola, agaknya menjadi amat kronis jika mau ditilik lebih jauh.

Ya, saya tahu, surat ini jelas salah muaranya. Harusnya, saya ketik sebagai surat terbuka untuk PSSI, PT. Liga Indonesia Baru atau Edy Rahmayadi (eh, sudah ganti, ya, ketua PSSI-nya?).

BACA JUGA:  Arsenal vs Chelsea: Adu Sakti Dua Azimat

Namun rasanya percuma, PSSI terlalu sibuk buat mendengar keluh kesah para penggemar sepakbola Indonesia.

Biarkan saja PSSI bekerja sebagaimana mestinya. PSSI bisa bertanggungjawab dengan tugas-tugasnya, perihal memajukan sepakbola bangsa.

Pun dengan PT. LIB yang punya kewajiban menyelenggarakan kompetisi di seluruh level.

Sepakbola kita itu sebenarnya sudah maju kok, tapi kebetulan sepakbola negara-negara tetangga saja yang majunya sambil berlari ketika sepakbola kita sekadar untuk maju selangkah saja mesti tertatih-tatih dahulu.

Komentar
Gusti Aditya
Penggemar sepakbola Asia Tenggara. Selain memimpikan Indonesia melawan Thailand di partai puncak Piala Dunia, juga bercita-cita mengarsipkan sepakbola Asia Tenggara. Dapat disapa di akun twitter @gustiaditiaa