Tahun Menakjubkan bagi Jens Petter Hauge

Tahun 2020 boleh jadi dikenang sebagai masa yang kurang menyenangkan oleh banyak orang. Salah satu penyebabnya tentu saja pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai kendati sudah merenggut banyak nyawa. Namun di tengah tangis dan sedu, ada segurat senyum dan keceriaan dalam wajah seorang pesepakbola muda yang kini memperkuat AC Milan, Jens Petter Hauge.

Berasal dari salah satu negara paling utara di kawasan Eropa, Norwegia, Hauge memperlihatkan kilaunya di Negeri Spaghetti saat usianya baru menginjak 21 tahun. Sebelum musim kompetisi 2020/2021 ini dimulai, rasanya tidak banyak yang menyadari eksistensi Hauge sebagai pesepakbola profesional.

Pemain berpostur 183 sentimeter ini lahir di kota Bodo, sebuah kota di utara Norwegia yang berpenduduk hanya sekitar 50 ribu orang. Kota ini juga merupakan ujung paling utara dari jaringan kereta listrik di Negeri 1000 Terowongan. Jadi, bisa dibayangkan betapa dingin dan terisolasinya kota ini dari episentrum sepakbola yang berada di bagian barat benua Eropa.

Akan tetapi, keterasingan dan cuaca dingin berangin di kota kelahirannya itu tidak menjadikan Hauge jauh dari sepakbola. Sejak kecil, ia telah mengolah si kulit bundar. Masa kecil Hauge diceritakan oleh sang ayah, Jan Ingvald Hauge dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Sempre Milan.

“Jens Petter selalu antusias terhadap sepakbola. Ia sudah bermain sepakbola sejak berusia lima tahun, dan kerap bermain dengan teman-temannya yang lebih tua.”

Hauge kemudian memulai karier sepakbolanya di akademi klub Bodo/Glimt pada usia 13 tahun. Hanya butuh tiga tahun baginya untuk menembus skuad utama sekaligus mencetak gol profesional pertamanya. Bodo/Glimt ternyata menjadi tempat yang tepat bagi Hauge untuk tumbuh dan berkembang.

Menurut Asmund Bjorkan, Direktur Olahraga, memaksimalkan pemain muda dari akademi merupakan satu-satunya jalan yang dapat ditempuh Bodo/Glimt lantaran keterbatasan dana dan keengganan pemain dari luar kota untuk bermain di daerah yang begitu dingin serta jauh dari pusat keramaian.

Di samping memaksimalkan pemain-pemain muda, Bodo/Glimt yang sejak tahun 2018 ditangani Kjetil Knutsen punya ciri khas dalam bermain. Mereka begitu saklek memainkan gaya menyerang dengan umpan-umpan pendek serta pressing tinggi.

Keberadaan pemain-pemain muda berbakat dengan fisik yang prima memang memudahkan implementasi filosofi permainan modern ini. Permainan Hauge di sayap kiri yang cepat dan berteknik tinggi menjadikannya salah satu nama yang diperhitungkan.

Meski begitu, Hauge tidak langsung dipercaya bermain di tim ini. Ia masih jadi pilihan kedua di belakang pemain yang lebih senior semisal Philip Zinckernagel maupun Hakon Evjen. Hauge bahkan sempat dipinjamkan ke Aalesund untuk menambah jam terbang.

Dijualnya Evjen ke AZ Alkmaar menjadi berkah tersendiri bagi Hauge karena sejak saat itu posisi sebagai gelandang maupun penyerang sayap kiri Bodo/Glimt tidak pernah lepas dari genggamannya.

Bodo/Glimt belum pernah sekalipun menjuarai kompetisi Eliteserien Norwegia sepanjang sejarah. Namun peruntungan mereka berubah di tahun 2020 setelah mengunci gelar liga pertamanya.

Sejak Knutsen memegang menduduki kursi pelatih, Bodo/Glimt menunjukkan performa atraktif yang dihiasi begitu banyak gol dan berujung kemenangan telak. Hauge sendiri tidak lepas dari fenomena ini karena ia menyumbangkan 14 gol dari 18 laga yang dijalani.

BACA JUGA:  Zvonimir Boban: Tendangan Kungfu yang Bersejarah Hingga Puncak Karier Bersama AC Milan

Takdir yang Mempertemukan Hauge Dengan I Rossoneri

Berbekal capaian runner-up pada tahun 2019, Bodo/Glimt berhak lolos ke babak kualifikasi Liga Europa musim 2020/2021. Rupanya, momen ini menjadi takdir pertemuan Hauge dengan Milan.

Hasil undian mempertemukan Bodo/Glimt dengan I Rossoneri pada babak kualifikasi ketiga ajang antarklub kelas dua di Benua Biru tersebut. Selanjutnya, Hauge seolah menunjukkan bahwa talenta besarnya bukan sekadar dongeng maupun kebanggaan lokal semata.

Bagaimana tidak, dalam laga di Stadion San Siro, Hauge mencetak sebuah gol cantik dari jarak jauh dan sebuah asis ciamik yang dituntaskan Kasper Junker. Dalam proses gol tersebut, Hauge bahkan terlihat begitu mudah menggocek Franck Kessie sebelum mengirim umpan silang akurat kepada Junker.

Walau pada akhirnya Bodo/Glimt takluk dari Milan, tetapi pertandingan itu begitu sengit untuk ukuran babak kualifikasi kejuaraan antarklub Eropa kelas dua. Alhasil, dunia seolah terbelalak dengan kemunculan pemuda bernama Hauge.

Milan bak mengalami fenomena cinta pada pandangan pertama kepada Hauge. Kondisi demikian mendorong I Rossoneri melakukan negosiasi konkret dengan Anneke, agen Hauge.

Namun sebenarnya kisah ini bukanlah romantisme belaka karena nama Hauge sudah masuk dalam daftar pemain muda yang diamati tim pencari bakat Milan yang dikepalai Geoffrey Moncada.

Ketertartikan Milan kepada Hauge sejak lama juga diakui sang ayah. Bahkan terdapat beberapa klub besar Eropa selain Milan yang juga mengagumi bakat sang anak. Namun Milan bergerak jauh lebih cepat ketimbang para pesaing dengan menyodorkan tawaran nyata.

Performa apiknya saat beraksi di San Siro bersama Bodo/Glimt lantas meyakinkan manajemen Milan untuk mengajukan penawaran sebesar 4,2 juta Euro. Bagi klub sekelas Bodo/Glimt, angka tersebut sungguh besar.

Bahkan, jumlah itu merupakan nilai transfer terbesar yang pernah mereka terima. Uang segemuk itu dapat kembali digunakan untuk terus memoles akademi dan fasilitas klub guna menghasilkan penerus Hauge dan pesepakbola muda berbakat lainnya dari Norwegia.

Sebagaimana kisah seorang pemain muda yang dipinang klub besar, Hauge pun tidak langsung menjadi pilihan utama Stefano Pioli. Namun dalam beberapa kali kesempatan yang diberikan, Hauge terlihat amat meyakinkan. Sudah tiga gol yang dibuatnya dalam sembilan penampilan, itu pun kebanyakan dimulai dari bangku cadangan.

Namun patut diakui, seluruh gol yang ia cetak, masing-masing ke gawang Napoli di ajang Serie A dan brace ke gawang Celtic pada ajang Liga Europa benar-benar berkelas. Golnya ke gawang Celtic pada matchday kelima Liga Europa bahkan tercipta dari sebuah aksi solo run yang begitu memukau dan diakhiri dengan tembakan diagonal ke tiang jauh.

Atribut Permainan yang Lengkap

Memang masih terlalu dini untuk menilai bahwa Hauge punya masa depan cerah bersama Milan. Namun sampai tulisan ini dibuat, ia memang terlihat semakin nyaman bermain dengan seragam merah-hitam. Giringan bolanya begitu lengket, umpan-umpannya kerap membahayakan lawan, visi bermainnya kian terasah, dan pengertiannya dengan rekan satu tim semakin baik.

Hauge memang bukan pemain sayap dengan atribut biasa. Bermain di sayap kiri dengan kaki dominan kanan, ia dapat berperan sebagai inside forward yang kerap menusuk ke area half-space maupun kotak penalti.

BACA JUGA:  Pedro Goncalves: Gelandang Muda dan Produktif Asal Portugal

Ya, ia tidak sekadar berlari ke ujung garis lapangan dan memberikan umpan silang ke mulut gawang seperti winger konvensional. Atribut lengkap ini, jika dimanfaatkan dengan baik oleh Pioli, menjadikan Milan memiliki senjata rahasia yang begitu mematikan.

Dalam laga melawan Sampdoria di Stadion Luigi Ferraris pada Senin (7/12) dini hari waktu Indonesia, Hauge yang menggantikan Brahim Diaz pada awal babak kedua mengirimkan umpan kunci kepada Ante Rebic. Bola itu sendiri lantas dikirimkan Rebic kepada Samuel Castillejo yang mencetak gol.

Pertandingan itu sendiri dimenangi I Rossoneri dengan skor 1-2 seraya menjaga posisi Milan di puncak klasemen sementara Serie A, menjaga jarak lima poin dari sang rival sekota, Internazionale Milano, yang duduk di peringkat kedua.

Bagi Hauge, tahun ini teramat spesial baginya jika menghitung pemanggilannya ke tim nasional senior Norwegia. Kini, publik sepakbola Negeri 1000 Terowongan sudah mengantisipasi kombinasinya dengan Erling Braut Haaland di lini depan. Kecepatan, dribel, dan visi bermain yang dimiliki Hauge akan menjadi makanan empuk bagi ketajaman Haaland.

Hingga kini, keputusan Hauge untuk bergabung dengan Milan terbukti tepat. Pasalnya, Milan yang sekarang memang mengandalkan pemain-pemain muda sebagai tulang punggung tim.

Kedatangan Hauge melengkapi poros talenta besar yang dimiliki I Rossoneri di semua lini. Mulai dari Gianluigi Donnarumma, Matteo Gabbia, Theo Hernandez, Ismael Bennacer, Kessie, Sandro Tonali, Rafael Leao, Davide Calabria, Lorenzo Colombo, Daniel Maldini, Pierre Kalulu, Diogo Dalot, sampai Brahim Diaz.

Nama-nama yang disebut tadi berada di rentang usia 18 hingga 24 tahun, tetapi sudah terbiasa bermain di level tertinggi bersama Milan. Kondisi yang memang diharapkan oleh Chief Executive Officer (CEO) Ivan Gazidis, yang menginginkan komposisi dihuni banyak pemain muda berbakat karena mereka semua adalah aset yang bisa mendatangkan keuntungan pada masa depan saat dilego.

Di sinilah peran Paolo Maldini dan Ricky Massara menyembul. Duo ini amat baik dalam menyeimbangkan sisi finansial ala Gazidis dengan aspek performa di lapangan. Maldini yang juga legenda Milan semasa bermain, tentu memiliki pengetahuan mumpuni buat membentuk tim tangguh.

Baginya, pemain-pemain muda tadi harus dikombinasikan dengan pemain-pemain senior untuk menempa mental mereka. Hal itulah yang mendorong Milan merekrut Zlatan Ibrahimovic dan Simon Kjaer. Terbukti, kedua pemain senior ini begitu berpengaruh di ruang ganti, sesi latihan maupun saat bertanding. Bagi Hauge sendiri, sosok Ibrahimovic adalah idola yang pencapaiannya ingin ditiru.

Sekali lagi, tahun 2020 boleh jadi menunjukkan awal yang baik untuk karier seorang Hauge. Namun bermain di Milan adalah ujian sebenarnya. Sebelum berhasil membawa I Rossoneri kembali ke jajaran klub terbaik Eropa, Hauge masih belum bisa berpuas diri. Ia tetap harus berkembang dalam beberapa aspek permainan dan juga bermain lebih konsisten hingga pada saatnya nanti ia menjadi pemain penting bagi tim.

Para pendukung Milan, baiknya juga bersabar dan tak membebani Hauge dengan ekspektasi yang kelewat masif. Termasuk tidak memberinya pujian terlalu tinggi atau kritikan yang super pedas hanya dari satu atau dua penampilan sang pemain di lapangan.

Komentar
@aditchenko, penggemar sepak bola dan penggiat kanal Casa Milan Podcast