Kiamat Kecil di Tubuh Inter

Kiamat Kecil di Tubuh Inter

Melaju elok dengan meraup hasil-hasil apik di bawah asuhan Antonio Conte sepanjang paruh pertama Serie A 2019/2020 melambungkan asa bahwa Internazionale Milano bisa menjadi penantang utama Juventus dalam memperebutkan titel Scudetto.

Tatkala kompetisi menyelesaikan 18 giornata, Romelu Lukaku dan kawan-kawan duduk nyaman di puncak klasemen. Interisti di manapun berada pasti semringah dengan keadaan itu, tak terkecuali saya.

Apesnya, grafik penampilan Il Biscione justru menurun setelah itu. Tiga laga berturut-turut yakni kontra Atalanta, Lecce, dan Cagliari, disudahi dengan hasil seri. Bahkan dua kesebelasan yang disebut belakang, di atas kertas lebih inferior ketimbang anak asuh Conte. Raihan angka yang seret bikin Juventus yang selalu menang di laga-laga mereka, dengan mudah mengkudeta posisi Inter.

Tak sekadar disalip sang rival, jarak poin yang memisahkan Inter dan Juventus pun melebar. Ditambah konsistensi yang dipamerkan penghuni peringkat tiga classifica, Lazio, tekanan besar sedang memeluk tubuh klub yang berdiri tahun 1908 itu.

Sebagai pelatih, Conte harus mengakui bahwa skema yang ia terapkan di Inter sedari awal musim, sudah dapat diantisipasi para lawan. Dua dari kunci mematikan permainan Il Biscione adalah mengawal ketat duo penyerang Lautaro-Lukaku yang licin serta menghentikan aksi otak permainan tim, Marcelo Brozovic.

Tidak salah jika Conte sangat mempercayai suatu metode permainan yang sudah ia terapkan semenjak terjun ke dunia kepelatihan profesional. Namun pria berumur 50 tahun itu harus mampu memecahkan problem yang dihadapi timnya saat bertanding tanpa menggantungkan nasib pada satu rencana saja.

Bukti nyata tersaji ketika Inter bertandang ke markas Lecce, Stadion Via Del Mare, dua pekan lalu (19/1). Cara main yang diperlihatkan Lukaku dan kolega sangat menjemukan.

Tandem wingback yang turun kala itu, Cristiano Biraghi dan Antonio Candreva, terus-terusan mengirim umpan silang ke kotak penalti seolah tak ada hal lain yang bisa mereka lakukan. Padahal, duet Lautaro-Lukaku mendapat penjagaan ketat dari lima bek Lecce yang berdiri rapat memenuhi jantung pertahanan.

BACA JUGA:  Pindah Saja, Bernardeschi!

Hasil dari cara itu pun mudah ditebak, nol besar dan Inter mesti puas membawa pulang sebiji poin saja. Pasalnya, skema tersebut amat gampang dipatahkan. Apalagi efektivitas umpan silang yang dilepaskan Biraghi dan Candreva sangat rendah. Pantas kalau akhirnya para pemain tampak begitu kecewa saat pengadil lapangan meniup peluit panjang tanda berakhirnya laga.

Setali tiga uang, dalam partai kontra Cagliari kemarin malam (26/1), Il Biscione kesulitan untuk menguasai permainan. Mereka begitu mudah kehilangan bola dan tak tahu bagaimana cara memaksimalkan ruang yang tersedia di lapangan.

Terlepas dari kinerja wasit yang dianggap tidak memuaskan, tapi performa Inter secara keseluruhan memang jeblok. Ada banyak kebingungan yang menyeruak dari gestur para pemain. Puncaknya adalah kartu merah yang diperoleh Lautaro akibat protes secara berlebihan kepada wasit. Sebuah preseden nyata jika performa buruk mereka di partai tersebut melahirkan rasa frustrasi.

Agak terasa konyol manakala bekas allenatore tim nasional Italia tersebut senantiasa melontarkan komplain bahwa skuadnya tak cukup dalam, tapi di beberapa momen justru dirinya sendiri yang kurang fleksibel dalam mengoptimalkan sumber daya yang ia miliki.

Contohnya sederhana, ketika Lautaro dan Lukaku mati kutu dijaga ketat bek-bek lawan sehingga Inter tak mampu mengonversi peluang yang sukses mereka ciptakan, Conte tak membuat penyesuaian taktik yang cepat dan tepat supaya timnya keluar dari kesulitan sehingga lebih nyaman dalam bermain.

Misalnya dengan memasukkan Alexis Sanchez (tentu saja ketika bugar) guna memecah fokus pemain belakang lawan sekaligus menambah opsi penyelesai peluang di sektor depan.

Kalau pun pemain asal Cile itu diturunkan Conte sebagai pengganti, biasanya terjadi pada sepuluh menit terakhir pertandingan. Tanpa bermaksud meremehkan kemampuan Alexis, tapi dalam tempo sesingkat itu, menciptakan momentum krusial bukan hal yang sepele.

BACA JUGA:  VAR dan Sepakbola yang Selalu Kontroversial

Tekanan yang begitu tinggi dan beraneka kesulitan yang ditemui sepanjang 80 menit pertandingan, berpotensi menyulitkan Alexis dan rekan setimnya untuk membuat peluang emas atau bahkan gol penting di 10 menit tersisa.

Saat berjumpa Atalanta, Lecce, dan Cagliari, permainan yang disuguhkan Lukaku beserta kolega tampak menjemukan dan miskin kreasi. Setiap kali mendapat bola, bek maupun gelandang Il Biscione seperti ingin cepat-cepat mengirimnya kepada Lautaro atau Lukaku di sektor depan. Gaya ini mirip sekali dengan cara main mayoritas tim-tim Indonesia yang seakan tanpa perhitungan.

Makin rumit, upaya Il Biscione mendatangkan pemain baru di bursa transfer musim dingin guna memperkuat armada juga terkendala proses negosiasi yang alot. Christian Eriksen yang disebut bakal jadi rekrutan penting belum menampakkan hilalnya. Pun begitu dengan pendekatan terhadap Olivier Giroud yang belum jua menemui titik temu.

Kekalahan Juventus dari Napoli dini hari tadi (27/1) cuma berarti satu hal untuk Inter, selisih poin mereka dengan I Bianconeri tak semakin lebar.

Kiamat kecil sedang terjadi di Suning Sports Training Centre, markas latihan Inter. Ada begitu banyak masalah yang kudu mereka urai dan selesaikan agar kembali ke jalan yang benar.

Andai sanggup keluar dari situasi sulit ini, maka peluang Inter untuk memperebutkan Scudetto masih terbuka. Namun kiamat besar akan melanda seraya menghapus segalanya bila Lukaku dan kawan-kawan tak mampu menunaikannya.

Komentar