Transformasi Mario Mandzukic dalam Skema Baru Juventus

Juventus' Croatian forward Mario Mandzukic celebrates after scoring a goal during the Italian Serie A football match between Juventus and Atalanta on December 3, 2016 at the 'Juventus Stadium' in Turin. / AFP / MARCO BERTORELLO (Photo credit should read MARCO BERTORELLO/AFP/Getty Images)

Dalam formasi 3-5-2 atau 4-3-1-2 andalan Massimiliano Allegri, membangkucadangkan pemain seharga 90 juta euro yang mencetak 36 gol di klub lamanya dan satu pemain yang tengah menjadi protagonista bukan ide yang bagus.

Dapat ditebak kemudian dua pemain asal Kroasia yang berposisi sama dengan dua orang tersebut terpaksa menjadi korban dan harus bersabar menunggu kesempatan datang dari bangku cadangan.

Marko Pjaca, yang didatangkan dari Dinamo Zagreb tampaknya memang masih butuh waktu untuk membuktikan kapasitas dirinya di Italia. Sementara itu, Mario Mandzukic justru lebih banyak menghabiskan waktunya di ruang perawatan pada musim perdananya di Turin.

Super Mario masih mempunyai pekerjaaan rumah untuk meyakinkan Allegri dan manajemen Juventus. Ia perlu membuktikan diri bahwa cedera tidak benar-benar menganggu performanya di lapangan.

Sebetulnya, catatan Mandzukic musim lalu tidaklah buruk. Ia mampu membukukan 10 gol dalam 27 pertandingan. Tapi, catatan itu tentu saja belum cukup untuk mencuri satu tempat permanen di sektor depan Si Nyonya Tua.

Dan kesempatan itu datang kembali ketika Paulo Dybala harus menepi pada medio Oktober-November akibat cedera. Mario Mandzukic yang menggantikannya berhasil menunjukkan performa ciamik bahkan ia diganjar pemain terbaik setelah mampu melesakkan empat gol dalam rentang satu bulan.

Dilema kemudian timbul seiring mulai membaiknya kondisi Paolo Dybala. Dalam formasi 3-5-2 atau 4-3-1-2 andalan Massimiliano Allegri, jelas harus ada yang dikorbankan karena skema itu tidak cukup baik untuk mengakomodir Gonzalo Higuain, Dybala, dan Mandzukic sekaligus.

Maka, ketika inkonsistensi performa terjadi di kubu Juventus pada medio Desember, hal itu semakin meyakinkan bahwa tim ini butuh transformasi.

Dan eksperimen itu dicoba kala Juventus menjamu Lazio di giornata 20 Serie A.  Pada pertandingan, itu Allegri menggunakan formasi 4-2-3-1 untuk mengakomodir ketiga pemain tersebut.

BACA JUGA:  Serie A Italia 1990-2000: Sebuah Era Renaisans Dalam Sepak Bola

Higuain, yang memiliki efektivitas tinggi dalam urusan menciptakan gol diletakkan sebagai ujung tombak. Mandzukic berada posisi kiri, sementara Dybala ditempatkan di belakang Higuain.

Sistem ini membuat Mario Mandzukic tidak hanya berperan membantu serangan. Ia juga bertugas sebagai orang pertama yang harus melakukan covering di sisi kiri Juventus dari serangan lawan.

“Saya merasa cocok dengan sistem ini. Pelatih meminta saya untuk membantu tim dan kami bermain dengan formasi baru yang mengharuskan saya berada di kiri. Jika ini membantu tim, maka saya akan berjuang maksimal,” ujar Mandzukic selepas pertandingan kontra AC Milan.

Hasilnya, selain berhasil mengalahkan Lazio dan Sassuolo dengan skor 2-0, Juventus juga mampu mengalahkan Milan, tim yang notabenenya sangat sulit ditaklukkan Juventus pada dua pertemuan sebelumnya.

Dalam wawancara kepada Sky dan Mediaset, Mandzukic menambahkan, “Formasi baru telah bekerja dengan sangat baik sejauh ini. Kami memiliki banyak pemain berkualitas saat menyerang dan kami unit yang kompak ketika bertahan. Jadi, saya berpikir bahwa ini adalah sistem yang sangat baik bagi kami.”

Meskipun ia tidak mencetak gol pada tiga pertandingan itu, Mandzukic tampil dengan etos kerja luar biasa. Ia terlihat seperti sebuah mesin yang tidak mengenal henti. Selain mencetak sebuah asis, pria asal Kroasia ini juga turut andil dalam membantu lini belakang dan mengusik penguasaan bola lawan di daerah pertahanan Juventus.

“Saya benar-benar menikmati peran baru saya dan saya senang bermain di sana jika dapat membantu tim. Jika pelatih meminta saya untuk menutup lini tengah atau turun ke bawah di sisi kiri karena menurutnya saya dapat memberikan bantuan di sana, maka saya akan sangat termotivasi untuk terlibat dalam perubahan taktik ini,” imbuhnya.

BACA JUGA:  Sepakbola Juga Milik Perempuan

Terlepas dari itu, secara umum, saya pribadi menilai bahwa formasi 4-2-3-1 digunakan tidak hanya untuk mengakomodir tiga penyerang. Formasi ini juga dipakai untuk mengakali cederanya Claudio Marchisio dan Dani Alves. Selain itu, formula ini juga membuat pemain-pemain seperti Kwadwo Asamoah dan Juan Cuadrado bermain lebih lepas dan dapat memaksimalkan kemampuan mereka.

Masing-masing sepasang gol di dua pertandingan berasal dari sisi kiri ini. Pada pertandingan kontra Sassuolo, gol pertama yang dicetak Higuain bermula dari penetrasi di sisi kiri yang diisi Alex Sandro dan Mandzukic.

Namun yang lebih penting, mengingat Juventus masih tampil di tiga kejuaraan, formasi ini memberikan alternatif bagi Allegri dalam mengarungi sisa kompetisi musim ini.




Komentar
Bangunkan saya jika sudah berada di depan Mol Antonelliana, atau saat terdampar di perairan Venezia. Penulis bisa dihubungi melalui akun Twitter @vchmn22.