Zidane yang Tak Ramah kepada Pemain Muda

Bursa transfer musim dingin yang sudah dibuka, memungkinan klub manapun untuk melakukan proses transfer pemain. Salah satu yang tengah hangat diperbincangkan adalah keputusan Real Madrid meminjamkan Martin Odegaard ke Arsenal.

Sejak direkrut Los Blancos beberapa musim silam, kesempatan Odegaard untuk main di tim utama begitu minim. Alhasil, ia kerap dipinjamkan ke klub lain agar jam terbangnya bertambah.

Menariknya, Odegaard musim ini menghuni skuad tim utama Madrid lantaran Zinedine Zidane, sang pelatih, meminta secara langsung kepada pihak manajemen. Masa peminjaman Odegaard ke Real Sociedad yang mulanya berlangsung dua musim pun disudahi lebih cepat.

Sayangnya, potensi pemuda asal Norwegia tersebut gagal dioptimalkan Zidane selama kurang lebih separuh musim. Datang dengan kondisi cedera serta impresifnya trio Casemiro – Toni Kroos – Luka Modric membuat Odegaard terpinggirkan. Total ia cuma mencatat 9 penampilan dengan baju putih Madrid.

Sedikitnya kesempatan bermain membuat Odegaard frustrasi, ia ingin meninggalkan kota Madrid di bursa transfer musim dingin musim ini.

Namun manajemen Los Blancos tidak ingin melepas aset mereka begitu saja. Manajemen hanya ingin melepas Odegaard melalui kesepakatan peminjaman polos selama setengah musim tanpa ada klausul pembelian di dalamnya.

Awalnya, Odegaard ingin kembali ke rumah lamanya, Sociedad. Sebab di sanalah kemampuan dan potensinya dihargai sangat baik. Gayung pun bersambut, La Real juga menginginkan jasanya kembali. Namun di detik-detik akhir, Arsenal datang mengajukan tawaran peminjaman.

Keseriusan The Gunners ditunjukkan melalui telepon dari pelatih mereka, Mikel Arteta, secara personal kepada Odegaard. Arteta menjanjikan Odegaard tampi secara reguler serta menjadi pemain penting dalam skema permainannya.

Bujukan itu membuat iman Odegaard goyah. Ia lantas memilih kota London sebagai pelabuhan anyar daripada balik ke San Sebastian, markas Sociedad.

Kepindahan Odegaard memunculkan beraneka respons dari Madridistas. Namun mayoritas merasa kecewa. Mereka tidak marah kepada Odegaard karena sejatinya pemain muda butuh jam terbang guna mengasah kemampuannya.

Amarah mereka terarah kepada Zidane yang dinilai sering menyia-nyiakan bakat muda yang dipunyai Madrid.

Dani Ceballos, Achraf Hakimi, Theo Hernandez, Marcos Llorente, dan Sergio Reguilon adalah barisan pemain muda yang bikin Madridistas sebal lantaran dilepas Zidane.

BACA JUGA:  Serie A Italia 1990-2000: Sebuah Era Renaisans Dalam Sepak Bola

Terlebih, kesemuanya sanggup tampil apik bersama klub anyarnya. Rasa sakit hati terbesar mungkin jatuh kepada Llorente yang musim ini bersinar bersama Atletico Madrid, rival sekota Los Blancos.

Manajemen Madrid memang mengubah kebijakan transfer mereka. Dari yang sebelumnya mengincar para pemain bintang dengan harga selangit, kini mereka lebih memusatkan perhatiannya buat melakukan investasi dalam bentuk pemain muda. Mereka direkrut lalu diasah sebelum dilego dengan nominal tinggi.

Dalam beberapa tahun terakhir, telah banyak bocah-bocah berlabel wonderkid yang mereka datangkan. Sebut saja Ceballos, Brahim Diaz, Luka Jovic, Mateo Kovacic, Takefusa Kubo, Andriy Lunin, Eder Militao, Odegaard, Rodrygo, Theo, dan Vinicius. Belum lagi nama-nama didikan asli La Fabrica yang naik daun seperti Hakimi, Llorente, dan Reguilon.

Nahasnya, proyek ambisius manajemen terkesan tidak didukung oleh Zidane. Hampir separuh nama tersebut justru tidak diberdayakan dan akhirnya dilepas ke klub lain, baik melalui metode peminjaman ataupun penjualan secara permanen.

Ada kecenderungan Zidane mengandalkan nama-nama lawas yang jadi bagian penting saat ia meraih tiga gelar Liga Champions secara beruntun medio 2016-2018. Padahal bala tentaranya tersebut semakin menua.

Saya tidak mempertanyakan ketangguhan Sergio Ramos dan Raphael Varane sebagai benteng pertahanan. Pun dengan kreativitas serta kehebatan trio Casemiro-Kroos-Modric atau Isco Alarcon.

Akan tetapi, seiring dengan gerusan usia, kemampuan mereka pasti mengalami penurunan walau sedikit. Hal inilah yang pada akhirnya membuat Los Blancos acap keteteran.

Varane kini jadi sering melakukan blunder, slogan No Isco No Disco pun mulai memudar. Belum lagi Karim Benzema, Modric, dan Ramos yang semakin gaek dan butuh regenerasi.

Zidane juga terus mempercayakan nama-nama lama seperti Lucas Vazquez dan Isco, alih-alih memainkan pemain muda macam Odegaard dan Alvaro Odriozola. Vazquez diplot di semua posisi, baik itu bek kanan maupun winger kanan, meski banyak Madridistas yang merasa bahwa performanya tak memuaskan.

Saya sendiri menganggap Isco kian kehilangan sentuhannya. Jika Diaz, James Rodriguez, dan Odegaard dibuang karena dinilai malas membantu pertahanan, mengapa Isco tidak mengalami nasib serupa? Saya sendiri sudah lupa kapan Isco bermain seeksepsional musim 2016/2017 silam.

BACA JUGA:  Menanti Kiprah Persebaya Bersama Azrul Ananda

Zidane juga kelihatan terobsesi dengan proyek Los Galacticos jilid terbaru. Ia terus menerus mendorong manajemen untuk mendatangkan pemain bintang macam Erling Haaland, Kylian Mbappe, dan Paul Pogba, ketimbang memanfaatkan tenaga para penggawa muda yang ada di skuad.

Harus diakui, Zidane bukan figur yang kesulitan mengendalikan ruang ganti yang umumnya penuh ego pemain bintang. Pasalnya, aura kebintangannya saat bermain maupun melatih, bikin pesepakbola manapun menaruh respek yang besar.

Akan tetapi, hal itu juga membuat perkembangan pemain muda Los Blancos mengalami stagnansi karena sang pelatih lebih suka memainkan skuad mahalnya dibanding mencoba satu atau dua penggawa muda yang berpotensi.

Apa yang terjadi di tubuh Madrid seperti kebalikan dengan Chelsea saat ditukangi Frank Lampard. Pada saat timnya dihukum tak boleh beraktivitas di bursa transfer, Lampard memaksimalkan pemain-pemain muda The Blues sebagai amunisinya. Hasilnya pun manis, sejumlah nama seperti Tammy Abraham, Callum Hudson-Odoi, dan Mason Mount melejit.

Anehnya, ketika timnya boleh beraktivitas di bursa transfer dan kemudian mendatangkan sejumlah pemain bintang, Lampard malah gagal meramu taktik yang tepat sehingga manajemen Chelsea memilih untuk memberhentikannya.

Dalam hemat saya, Zidane bukan sosok yang tepat untuk memegang kendali tim yang coba mengubah kebijakan transfernya. Dibutuhkan pelatih yang memiliki visi selaras dengan manajemen dan mau menurunkan ego guna memberi jam terbang kepada pemain-pemain muda yang direkrut atau dipromosikan dari akademi.

Julian Nagelsmann yang melatih RB Leipzig, barangkali adalah figur yang tepat buat mengemban misi tersebut.

Namun bila manajemen Madrid ingin menghidupkan lagi proyek Los Galacticos-nya, wajar kalau Zidane terus dipertahankan sebagai entrenador.

Melihat Madrid berjaya tentu sebuah kebahagiaan besar untuk fans mereka seperti saya. Namun saya juga ingin melihat tim ini segera berbenah, terutama melakukan regenerasi agar tak melemah tatkala para penggawa andalan semakin menua.

Komentar
Seorang penggemar Real Madrid yang sedang menjalani masa kuliah di Universitas Negeri Surabaya. Dapat dihubungi di akun Twitter @RijalF19.