Jangan Berpuas Diri, Jerman!

  • Isidorus Rio

    Kalau untuk menyebut level permainan Mertesacker yang dirindukan Jerman, rasanya gimana gitu ya? Hehehe. Mats Hummels+Jerome Boateng sudah lebih dari cukup buat ada di level Mertesacker, lebih bahkan, imo.

    • Mertesacker adalah tipe bek jenius, hanya saja kurang gesit. Tapi pembacaan permainan, pengambilan keputusan, kepemimpinan, dan determinasinya masih di atas Hummels-Boateng.

      • Isidorus Rio

        Kalo soal mawas taktik, saya rasa Hummels-Boateng juga bagus. Decision juga. Leadership mungkin lebih ke Lahm ya di timnas. Kalau determinasi, mmm, standarnya apa dulu nih hehe. Mungkin Per lebih masif perannya di Arsenal ya, daripada timnas :))

      • Kalau penulis punya alasan/sudut pandang yang sifatnya taktikal dan spesifik menyoal pembacaan permainan, decision making, leadership, dan determinasi Per yang dikatakan di atas Hummels-Boateng, argumen penulis akan lebih kuat, lebih kontekstual.

        • Maaf saya lupa mencantumkannya, tadinya bek kiri yang saat ini ditempati Hector serta peluang Mario Gomez di Euro 2016 juga ingin saya masukkan. Tapi saya ingin lebih memfokuskan tulisan ini bahwa Jerman yang saat ini miskin identitas dan kepemimpinan.

          Terima kasih sarannya, Bung Ryan.

          • bram

            yang pasti sih Jerman kehilangan cukup banyak pemain dengan usia kepala 3 🙂 tapi kalau soal identitas dan kepemimpinan, mungkin tak terlalu kehilangan. Basti sudah lama jd vice captain Lahm. Neuer skrg jg vice captain di Bayern. Hummels also has great leadership. dan yg jelas, walau masih relatif muda, mereka umumnya sudah kenyang pengalaman berlaga di kompetisi tingkat tertinggi. Soal identitas, jika menyoal soal striker murni, saya rasa Loew memang beberapa tahun terakhir ini, sistem permainan dasarnya tidak terlalu memberi space utk striker. Meskipun tentu Loew menyiapkan striker murni juga dan akan main sejauh dibutuhkan. Seperti di laga akhir kualifikasi, ketika sudah mentok, Kruse baru dimainkan dan memberi dampak. Terima kasih sudah menulis tentang Jerman, Mas Yusuf.. Mantap!