Crystal Palace v Arsenal: Urgensi dan Non Sequitur

Arsenal's Olivier Giroud reacts in frustration near the end of the English Premier League soccer match between Arsenal and Sunderland at the Emirates Stadium in London, Wednesday, May 20, 2015. (AP Photo/Matt Dunham)

Setelah menelan kekalahan di matchday 1 Liga Inggris dari West Ham United, Arsenal akan dijamu Crystal Palace hari Minggu mendatang. Nah, modal apa yang harus dimiliki Arsenal untuk menjaga muka sekaligus memelihara asa menjadi juara musim ini?

Kekalahan dari West Ham terasa begitu telak. Skor memang menunjukkan Arsenal kalah dengan dua gol saja. Namun, seperti sebuah uppercut yang mendarat di dagu, kekalahan tersebut seperti mengoyak “rahang mental” Arsenal dengan sempurna. Tidak ada waktu untuk meratapi kekalahan lebih lama. Akhir minggu ini, Arsenal harus segera memusatkan perhatikan kepada Crystal Palace.

Urgensi

Selhurst Park, kandang Crystal Palace, bukan rumah yang ramah. Beban ekspektasi dan kekalahan minggu lalu pasti masih bergelayut dalam benak setiap pemain. Palace mempunyai pemain-pemain yang mampu menyakiti Arsenal. Wilfired Zaha, Jason Puncheon, dan Yannick Bolasi cukup mumpuni untuk menghadirkan mimpi buruk dari sisi lapangan. Apalagi, Palace mendapatkan tambahan amunisi dalam diri Yohan Cabaye.

Ketika melawan Norwich City musim lalu, Cabaye bahkan sudah mencetak gol. Di atas lapangan, Palace tidak gamang bermain dengan intensitas tinggi, terutama ketika mentas di kandang. Musim lalu saja, Arsenal harus bekerja keras di Selhurst Park sebelum menundukkan Palace dengan skor 1-2.

Bagi Arsenal, turun dengan komposisi dan “cara bermain” yang tepat menjadi pilihan terbaik. Ketika melawan West Ham, Arsene Wenger menduetkan Coquelin dengan Aaron Ramsey sebagai poros ganda dan Santi Cazorla beroperasi di sisi kiri ketika build-up serangan. Sayang, ketiga pemain tersebut bermain di bawah performa dan gagal melahirkan keseimbangan.

Oleh sebab itu, ketika melawan Palace nanti, lebih bijak jika Wenger kembali merekonstruksi “tim paling seimbang” dengan menduetkan Coquelin dan Cazorla. Di sisi lapangan, Chamberlain dan Alexis Sanchez mengapit Mesut Ozil di posisi nomor 10. Untuk penyerang sedikit pelik. Giroud tidak bermain efektif ketika melawan West Ham dan Walcott tidak mampu berbuat banyak ketika bermain sebagai wide-man. Kedua pemain membutuhkan servis berbeda ketika bermain dan Walcott bisa dicoba menjadi ujung tombak. Ketika bermain dari menit pertama, Walcott berhasil mencetak empat gol, yaitu tiga ke gawang West Bromwich Albion dan satu di Final FA melawan Aston Villa.

BACA JUGA:  Superioritas Arema di Piala Bhayangkara 2016

Jika kembali gagal memetik kemenangan, suara sumbang yang memaksa Arsenal untuk berbelanja akan semakin nyaring. Apakah belanja merupakan solusi saat ini? Belum tentu! Selepas laga minggu lalu, Wenger menegaskan, “After a defeat like that, it’s important not always to think we take a solution from outside.” Karim Benzema merupakan salah satu pemain yang begitu diidamkan Gooners sedunia. Pemain baru mungkin bisa menghadirkan warna (dan hasil ) yang berbeda. Namun, apabila skuat yang sudah ada tidak menguatkan niat dari dalam diri, apa guna pemain baru? Apabila pemain yang sudah ada tidak menebalkan mental, apa guna pemain baru?

Solusi dari dalam seperti yang diungkapkan Wenger artinya memaksimalkan pemain yang sudah ada. Memaksimalkan merujuk kepada “meminta” pemain yang sudah ada untuk bermain seusai potensi. Usaha dan niat dari dalam diri merupakan bentuk kesadaran akan pentingnya urgensi di awal musim. Urgensi untuk menang, sekaligus mengokohkan nama bahwa Arsenal adalah salah satu penantang juara musim ini. Tentu, urgensi dari sisi mental harus dibarengi kejernihan olah pikir untuk patuh dan menerapkan taktik secara ideal. Urgensi untuk menghadirkan keseimbangan dan memantabkan jalur kemenangan akan sangat penting pada akhir musim nanti. Konstelasi di awal musim akan menjadi tabungan poin berharga untuk sprint di paruh akhir musim ini. Perkokoh urgensi, pertegas harmonisasi.

Non Sequitur

Non sequitur adalah istilah latin untuk sebuah “argumen di mana kesimpulannya tidak sesuai dengan premis awal.” Di dalam lingkup arti non sequitur, kesimpulan akhir bisa salah, bisa benar. Namun, argumen yang dibangun sudah keliru, bahkan menyesatkan. Alasannya, terjadi ketidaksesuaian antara premis awal dan kesimpulan akhir.

Begini:

  • Sebelum liga bergulir, banyak pundit yang menyebut Arsenal akan menjadi penantang juara (kesimpulan akhir). Alasannya, selain skuat yang sudah semakin ideal, Arsenal mendapatkan suntikan pengalaman dari Petr Cech di bawah mistar gawang (premis awal).
  • Non sequitur terjadi ketika melihat bagaimana The Gunners kalah melawan West Ham (premis awal), lalu masih memandang Arsenal akan juara di akhir musim (kesimpulan akhir). Jelas, sebuah kesalahan pikir di sini. Tidak terlihatnya keseimbangan dalam ranah personal dan taktik, maka menjadi juara hanya fatamorgana. Boleh lah argumen ini disebut prematur, namun dalam sepak bola selalu ada yang namanya sebab-akibat dan aksi-reaksi (dalam ranah taktik).
BACA JUGA:  Bukan Perkara Mudah Mendepak Arsene Wenger

Maka, untuk menghindari sematan non sequitur dan mengukuhkan diri sebagai penantang, ada dua langkah yang bisa ditempuh Arsenal. Pertama, membeli pemain sesuai kebutuhan. Media-media Eropa sedang hangat menyebut Arsenal kembali tertarik mengejar gelandang bertahan Sevilla, Grzegorz Krychowiak. Selain itu, nama Karim Benzema masih berada di puncak wish list Arsenal. Dari sisi solusi instan, kedua pemain “mungkin” bisa menaikkan level Arsenal.

Kedua, sesuai kata Wenger, solusi tidak selalu ada di luar. Arsenal mempunyai pemain-pemain dengan potensi besar. Untuk mengarungi musim, pemain seperti Ramsey, Cazorla, Ozil, Alexis Sanchez, Wilshere, Walcott, dan Chamberlain jelas sudah cukup mumpuni. Membuat pemain-pemain tersebut bermain di level atas dengan konsisten tentu tantangan lain. Jika mampu mengatasi “tantangan non sequitur” tersebut, musim ini akan begitu menyenangkan untuk Arsenal dan Gooners sedunia.

#COYG

 

Komentar
Koki @arsenalskitchen.