Masangin dan Sepak Bola: Menutup Mata, Membuka Batin, Melupakan Sampiran

  • zenrs

    Dalam epistemologi pantun, sampiran itu sangat penting. Tak akan ada pantun tanpa sampiran, bahkan walau sampiran hanya sekadar untuk menyiapkan rima/bunyi. Karena pantun itu sastra lisan, tanpa sampiran yang menyusun dan menyiapkan rima/bunyi maka tak akan ada isi. Namun karena sampiran dalam artikel ini menggunakan tanda petik, mungkin sampiran di sini dalam arti yang lain 🙂

    • Yamadipati Seno

      Yes, di dalam pantun, terutama dengan nada Melayu, sampiran menjadi “pijakan” untuk “isi”. Dan ya, sangat penting kedudukannya.

      di dalam artikel, saya menganalogikan dua bagian, yaitu isi dan sampiran sebagai dua kutub yang berbeda. Isi, selalu menjadi tujuan, sedangkan sampiran hanyalah “salah satau cara” untuk mencapainya. Karena hanya salah satu cara, artinya ada cara lain, yg mungkin saja lebih penting, meskipun gagasan tsb hidup di luar artikel saya. Begitu implikasi artikel saya, mas Zen.

      salam.