Abramovich Menimbang Nasib Lampard

Medio 2003 silam, Roman Abramovich resmi mengakuisisi Chelsea dari tangan Ken Bates bermodal fulus senilai 140 juta Poundsterling. Rezim Abramovich sendiri mengubah citra The Blues sebagai entitas sepakbola. Taipan asal Rusia-Israel ini memunculkan identitas baru dari klub yang bermukim di London Barat tersebut.

Jika dahulu Chelsea adalah kesebelasan papan tengah yang sesekali meraup prestasi, di tangan Abramovich, The Blues disulap menjadi klub raksasa yang saban musim bersaing di jalur juara. Selain itu, mereka juga bersolek menjadi rumah bagi para pesepakbola bintang dari penjuru dunia.

Klub dengan nama besar serta prestasi gemilang menjadi representasi Chelsea di bawah kepemimpinan sosok berusia 54 tahun itu. Mengacu pada data yang dilansir Forbes pada tahun 2020 kemarin, Chelsea merupakan klub dengan valuasi tertinggi keenam (2,5 miliar Poundsterling) di muka Bumi.

Sementara dari sisi trofi, sepanjang rezim Abramovich, The Blues sukses mencaplok 16 trofi (dan berpeluang untuk terus bertambah) alias melesat sebagai klub dengan gelar terbanyak kedua di Inggris dalam kurun dua dekade pamungkas setelah Manchester United.

Meski demikian, rezim Abramovich tak melulu tentang kecemerlangan di dalam maupun luar lapangan. Layaknya era kepemimpinan di sebuah negara, lelaki kelahiran Saratov itu juga terkenal dengan kekejamannya, terutama kepada para juru taktik tim.

Secara keseluruhan, ada 16 figur yang jadi pelatih Chelsea selama periode kepemimpinan Abramovich (termasuk yang berstatus interim). Namun mayoritas dari seluruh pelatih tersebut, menerima surat pemecatan dari sang pemilik.

Ya, Abramovich memang dikenal sebagai sosok yang tak ragu memberhentikan pelatih jika performa klub dianggap jeblok. Tak peduli bahwa pelatih tersebut sanggup menghadiahkan trofi kepada The Blues seperti Carlo Ancelotti, Antonio Conte, Roberto Di Matteo, dan Jose Mourinho.

Cemoohan sebagai klub karbitan datang dari segala penjuru. Terutama ketika sejarah klub rival semacam United acapkali dilekatkan pada The Class of 99 besutan Sir Alex Ferguson atau kala Barcelona mengorbitkan banyak anak muda dari La Masia yang membawa kejayaan di era Pep Guardiola.

Akan tetapi, Abramovich takkan pernah peduli dengan itu. Toh, klub miliknya tetap rajin meraih trofi bergengsi. Mungkin hal seperti itu yang ada di benaknya. Apalagi di masa kini, sepakbola bukan sekadar tendang-menendang bola di atas rumput hijau atau meraup trofi, melainkan alat penghasil uang dalam jumlah masif.

Satu dekade belakangan, sepakbola kerap dibagi menjadi dua kutub. Di luar lapangan orang membincangkan antara meraih gelar secara instan atau memanfaatkan potensi akademi. Sementara di dalam lapangan, orang memperdebatkan antara tim yang gemar menyerang dan kesebelasan yang suka memamerkan aksi ultra defensif.

BACA JUGA:  Semifinal AFF 2016: Secuil Surga Untuk Rakyat Indonesia

Dinamika ini juga yang mempengaruhi kebijakan manajemen Chelsea. Jika konstruksi identitas The Blues di media 2000-an awal berkat peran (uang) Abramovich, maka satu dekade belakangan ini turut dipengaruhi oleh kultur yang berkembang dalam kancah sepakbola.

Chelsea memilih cara memperbaiki – jika tidak bisa dikatakan memperhalus – orientasi meraih hasil akhir dengan menyulap akademi pemain muda. Pemandu bakat dikirimkan ke segala medan, mencaplok satu-dua berlian kasar guna dipoles di Cobham.

Semua orang tampaknya mafhum bahwa akademi Chelsea merupakan salah satu yang terbaik di Inggris maupun Eropa. Kemampuannya menghasilkan pemain-pemain muda dengan bakat alami serta skill mumpuni terus meningkat. Tak peduli nantinya dimanfaatkan The Blues sendiri atau justru dipinjamkan maupun dilego ke klub lain.

Masuknya Frank Lampard sebagai pelatih, ikut mendorong perubahan di tubuh Chelsea, khususnya dalam memaksimalkan potensi jebolan akademi. Walau tak bisa kita pungkiri juga bahwa keadaan ini juga disebabkan oleh sanksi dilarang beraktivitas dalam dua periode bursa transfer gara-gara Chelsea mencomot pemain muda di bawah umur.

Beberapa nama seperti Tammy Abraham, Andreas Christensen, Billy Gilmour, Callum Hudson-Odoi, Mason Mount, dan Fikayo Tomori kian sering mendapat kesempatan bermain di tim utama. Abraham, Hudson-Odoi, dan Mount bahkan kerap diturunkan sebagai starter oleh Lampard.

Kendati begitu, kebiasaan membeli pemain dengan banderol tinggi tak seketika hilang dari Chelsea.

Bersamaan dengan dicabutnya hukuman transfer itu, The Blues kembali menggelontorkan dana masif guna memboyong figur-figur anyar ke Stadion Stamford Bridge seperti Kai Havertz, Edouard Mendy, Timo Werner, dan Hakim Ziyech. Terlebih mereka sudah kehilangan pusat semestanya selama kurang lebih sewindu belakangan, Eden Hazard.

Penunjukan Lampard sendiri didasari oleh sejumlah faktor. Namun yang paling kentara adalah kedekatannya dengan manajemen lantaran ia merupakan legenda hidup The Blues dan sukses mempersembahkan banyak gelar pada rezim Abramovich. Padahal jika berkaca pada pengalamannya, Lampard baru menekuni dunia kepelatihan sejak 2018/2019 silam saat menukangi Derby County.

Harapan Abramovich jelas, Lampard yang sudah mengerti seluk-beluk Chelsea dapat mengantar tim ini meraih kejayaannya lagi. Tak peduli bahwa pengalamannya cuma setebal keripik singkong.

Taruhan yang dicibir bakal gagal, ternyata sedikit membawa optimisme. Berkat skuad dari sisa kejayaan beberapa musim silam ditambah amunisi pemain muda, Lampard melewati rintangan yang teramat sulit.

BACA JUGA:  Manchester City dan Tiga Faktor Kebangkitannya

Sebagai pelatih muda minim pengalaman, ia pernah saling mengalahkan dengan Ancelotti, Guardiola, Jurgen Klopp, dan Mourinho. Di bawah asuhannya, Chelsea juga dibawanya menembus final Piala FA 2019/2020 walau akhirnya tumbang dari Arsenal besutan Mikel Arteta.

Musim perdananya sebagai nakhoda Chelsea juga diakhiri dengan finis di peringkat empat klasemen akhir dan tetap mengantar Abraham dan kolega beraksi di ajang Liga Champions.

Menyambut musim baru dengan optimisme serta amunisi baru, Lampard coba menampilkan citra baru Chelsea yang bertumpu pada lulusan akademi dan sejumlah pemain bintang berikut gaya main ofensif serta atraktif. Sayangnya, realita tak melulu sama dengan ekspektasi.

Berbekal skuad pilih tanding, Lampard justru mengukir rapor buruk, utamanya belakangan ini. Misinya menipiskan jarak dari Liverpool dan Manchester City yang ia sebut kelewat tangguh, seperti menguap begitu saja.

Sampai tulisan ini dibuat, The Blues sedang terdampar di posisi delapan klasemen sementara Liga Primer Inggris. Mereka juga sudah rontok dari ajang Piala Liga.

Makin tragis, penampilan Abraham dan kawan-kawan dalam rentang dua bulan terakhir di Liga Primer Inggris sangatlah muram. Dari sembilan laga, Chelsea mengepak tiga kemenangan, sekali seri, dan lima kali bertekuk lutut di hadapan lawan. Pantas bila seruan agar Lampard dipecat atau angkat kaki dari Stadion Stamford Bridge terus menggema.

Keadaan itu sendiri membuat manajemen Chelsea, utamanya Abramovich, seperti berada di ruang antara. Tetap mempercayai proses yang sedang dilaksanakan Lampard atau berfokus pada hasil dengan melengserkan legenda hidup klub dari jabatannya.

Rapor The Blues sejauh ini tak sebanding dengan uang ratusan juta Poundsterling yang dikucurkan pada bursa transfer musim panas lalu. Apalagi fans juga kian gerah dengan performa yang disuguhkan Abraham dan kolega.

Diakui atau tidak, tekanan sekarang ada pada bahu Abramovich dan Lampard. Nama pertama tengah menimbang apakah meneruskan pelayaran dengan Lampard sebagai nakhoda atau berpindah ke kapal lain dengan nakhoda baru yang lebih mumpuni.

Sedangkan figur kedua tengah dituntut untuk mendekonstruksi strateginya secara radikal dan belajar lebih giat selayaknya apa yang ia lakukan semasa menjadi pemain sebagai jaminan masa depannya – entah di Chelsea atau di klub lain jika terdepak dalam waktu dekat.

Komentar
Andi Ilham Badawi, penikmat sepak bola dari pinggiran. Sering berkicau di akun twitter @bedeweib