Adele dan Tiga Perceraian Tottenham

Diva pop Inggris, Adele, merilis album teranyarnya yang bertajuk ’30’ pada 19 November 2021 lalu.

Sebelumnya, penyanyi bersuara khas kelahiran London itu meraih sukses di pentas musik internasional lewat album-albumnya seperti ’19’, ’21’, dan ’25’.

Hanya saja, publikasi album ’30’ terasa lebih spesial dibanding rilisan-rilisan album Adele lainnya.

Kali ini, Adele mengusung nuansa yang lebih tematik dalam album ’30’ yang menceritakan babak baru kehidupannya selama menjalani proses perceraiannya dari Simon Konecki.

Oprah Winfrey, yang sebelumnya mengadakan wawancara dengan Adele menceritakan kepada BBC, jika penyanyi kelahiran tahun 1988 tersebut ingin membebaskan orang-orang dari pernikahan yang tidak bahagia lewat album terbarunya.

“Sangat banyak orang yang tetap menjaga pernikahan hanya demi anak mereka, itu membuat hidup mereka menyedihkan, dan malah membuat anak-anak tersebut dibesarkan oleh orangtua yang tidak bahagia,” ujar Winfrey yang namanya sudah kondang sebagai presenter di jagad Hollywood sejak puluhan tahun silam.

Di paragraf awal, saya menyebutkan jika Adele lahir di kota London. Detailnya, ia lahir di London Utara, tepatnya di distrik Tottenham yang menjadikan pelantun “One and Only” tersebut sebagai fans Tottenham Hotspur tulen.

Beberapa waktu lalu, pihak klub bahkan mengucapkan selamat atas perilisan album baru Adele di akun twitter resmi klub berjuluk The Lilywhites tersebut.

Dalam unggahan akun twitter @SpursOfficial¬†sang diva menyanyikan mars ‘Glory Glory Tottenham Hotspur‘.

https://twitter.com/SpursOfficial/status/1461688711217750017

Konten tersebut kemudian mengundang bermacam reaksi publik. Salah satunya adalah olok-olok berikut ini.

https://twitter.com/joeyboo007/status/1461721305967960070?s=20

Meski bernada cemoohan, saya rasa memang benar ada benang merah yang bisa disusuri dari kesukaan Adele terhadap Tottenham.

Terutama dari beberapa petikan lirik lagu yang terdapat di album ’30’ yang sangat relatable dengan situasi yang terjadi di internal klub yang didirikan tahun 1882 itu.

Jika Adele menghadapi kegagalan pernikahan dan harus berpisah dengan mantan suami, nasib Tottenham beda-beda tipis. Mereka harus menjalani perpisahan dengan tiga orang pelatih sekaligus dalam kurun waktu dua tahun terakhir.

Nama-nama yang dimaksud adalah Mauricio Pochettino, Jose Mourinho, dan Nuno Espirito Santo. Ketiganya meninggalkan London Utara dengan problematikanya masing-masing.

Pada November 2019, The Lilywhites menalak Pochettino yang telah mengantarkan kampiun Inggris dua kali tersebut ke final Liga Champions untuk pertama kalinya.

Pochettino kala itu memang sudah kehilangan motivasi dan tak lagi mendapat dukungan dari ruang ganti.

Padahal, Pochettino sudah ditakdirkan seperti juru selamat yang bakal mengangkat derajat Tottenham menjadi klub yang disegani di Eropa.

Pelatih asal Argentina tersebut bersusah payah membangun tim dari nol pada 2014 menjadi skuad yang kapabel untuk berlaga di partai puncak Liga Champions.

Banyak yang menganggap pertautan Tottenham dengan Pochettino bagai telah diikat dengan tali mati dan keduanya bakal berjodoh untuk waktu yang panjang.

Seperti hanya Jurgen Klopp yang membangun dinastinya sendiri di Liverpool usai bersusah payah mengangkat level The Reds yang sebelumnya cukup lama terpuruk.

Sayangnya, rentetan hasil buruk yang dialami Tottenham pada awal musim 2019/2020 memaksa Chief Executive Officer (CEO) mereka, Daniel Levy, mengambil sikap untuk menendang eks pelatih Southampton tersebut dari kursi kepelatihan.

Bagaimana tidak, saat itu Harry Kane dan kolega terdampar di posisi ke-14 klasemen sementara Premier League dan hanya mengantongi 24 poin dari 25 pertandingan liga terakhirnya.

BACA JUGA:  Perlunya Inter Mempermanenkan Alexis Sanchez

Agaknya, dengan catatan tersebut, sudah menjadi hasil pemikiran akal sehat untuk memecat Pochettino. Namun sepertinya keputusan ini disesali Levy sepanjang hidupnya.

Penggalan lirik lagu ‘Can’t Be Together’ milik Adele di album barunya menggambarkan situasi yang terjadi antara Pochettino dan Spurs.

“Since we were together everybody’s changed
Our reflections in the mirror no longer look the same
And we’re only just beginning to live the lives we’ll make
But I will always miss you at the end of each day.”

Setelah membangun pondasi tim yang kokoh secara bertahap sejak 2014, Pochettino mulai menuntut kepada Levy untuk lebih ambisius dan berani dalam mengeluarkan uang untuk belanja pemain.

Akan tetapi, Levy terlalu keras kepala untuk menuruti keinginan Pochettino. Pada akhirnya, hubungan keduanya tak begitu baik pasca-kalah dari Liverpool di final Liga Champions.

Pochettino mulai tak kerasan dan The Athletic bahkan menyebut manajer yang kini menangani Paris-Saint Germain tersebut memang menginginkan terjadinya pemecatan.

Hubungan harmonis Levy dengan Pochettino bergerak ke arah yang tak tentu, dan pada akhirnya, keduanya saling merindukan satu sama lain tatkala sempat kembali berdiskusi akan kemungkinan Pochettino pulang seraya melatih lagi di sisi putih London Utara pada musim panas lalu.

Setelah pisah dengan Pochettino, The Lilywhites bekerja sama dengan salah satu nama paling beken di jagad kepelatihan, Jose Mourinho.

Harapannya, pria Portugal itu mampu membawa Tottenham memenangkan trofi. Pasalnya, mantan pelatih Real Madrid tersebut merupakan salah satu pelatih dengan dekorasi gelar terbanyak dalam 15 hingga 20 tahun terakhir.

Nahas, bukannya berjaya, Kane dan kolega malah makin terpuruk di bawah arahan Mourinho. Mereka cuma finis di peringkat ke-7 pada Premier League musim 2019/2020.

Lelaki kelahiran Setubal itu kemudian diberi kesempatan untuk memperbaiki performanya di musim kedua. Namun setali tiga uang dengan musim sebelumnya, Mourinho tak sanggup menggeret Tottenham ke zona liga Champions.

Hingga pekan ke-32 Premier League, Tottenham bertengger di peringkat 6 dan berjarak 24 poin dari pimpinan klasemen, Manchester City.

Tak hanya itu, mereka juga telah disingkirkan Everton pada ajang Piala FA dan ditendang Dinamo Zagreb di babak 16 besar Europa League.

Makin tragis, disharmoni juga terjadi di internal Tottenham karena Levy tak menyukai tabiat Mourinho yang kerap melontarkan kritik terhadap pemainnya secara terbuka di media.

Kondisi tersebut sudah cukup untuk bikin manajemen memecat bekas nakhoda Inter Milan dan Real Madrid tersebut setelah 17 bulan berdinas di London Utara.

Situasi yang terjadi kala itu juga terceritakan di penggalan lirik lagu Adele yang bertajuk ‘Hold On’.

“Oh, what have I done yet again?
Have I not learned anything?
I don’t want to live in chaos
It’s like a ride that I want to get off”

Manajemen Tottenham tak belajar dari klub-klub lain yang pernah dirugikan oleh watak toxic Mourinho. Contohnya, Manchester United di akhir tahun 2018.

Pada akhirnya, Tottenham harus mengakrabkan diri dengan chaos yang tercipta di ruang ganti.

Pada musim panas lalu, Levy dan direktur olahraga Tottenham yang baru, Fabio Paratici, memulai pencarian manajer baru untuk mendongkrak prestasi klub yang nyaris kehilangan Kane akibat sudah tak kerasan bermain di klub yang tidak menjadi penantang serius dalam perburuan gelar.

BACA JUGA:  Ikatan Emosional Sebagai Bentuk Ketidaksederhanaan Sepak Bola

Levy dan Paratici bergerilya ke seluruh tempat guna mencari kandidat yang dirasa cocok melatih Tottenham.

Negosiasi dengan Hans-Dieter Flick, Antonio Conte, Pochettino, dan Erik ten Hag, mengalami jalan buntu.

Tottenham lalu berpaling kepada Nuno Espirito Santo dan akhirnya memutuskan bahwa eks manajer Wolverhampton Wanderers itu sebagai juru taktik anyar.

Walau demikian, tetap saja muncul anggapan bahwa pria Portugal tersebut hanyalah pilihan kesekian dari banyaknya opsi yang disortir oleh Levy dan Paratici.

Benar saja, hingga liga berjalan sampai pekan ke-10, Nuno hanya sanggup mempersembahkan lima kemenangan untuk The Lilywhites.

Selepas takluk 0-3 dari United-nya Ole Gunnar Solskjaer yang tengah menjadi pesakitan, Nuno resmi dipecat oleh manajemen.

Kembali, Adele menggambarkan situasinya dengan gamblang dalam penggalan lirik lagu ‘I Drink Wine’.

“The only regret I have
I wish that it was just at a different time
A most turbulent period of my life
Why would I put that on you?
That’s just like a very heavy thing to have to talk about”

Tottenham yang belum benar-benar mentas dari krisis bukanlah tempat yang bersahabat bagi pelatih manapun, terlebih bagi Nuno yang tak punya pengalaman melatih klub selevel Tottenham.

Terlalu banyak turbulensi kompleks dalam tim yang harus direparasi olehnya dan semua hal itu tak sempat ia perbaiki hingga tuntas.

Walaupun penggalan-penggalan lirik di atas secara sepintas menggambarkan lagu-lagu di album ’30’ benar-benar bertemakan perpisahan dan kesedihan, sejatinya Adele turut menunjukkan jika masih ada kesempatan untuk melakukan penyembuhan, meskipun segala prosesnya membutuhkan waktu.

Lewat single andalannya, ‘Easy On Me‘, Adele menuturkannya dengan merdu.

“Go easy on me, baby
I was still a child
Didn’t get the chance to
Feel the world around me
Had no time to choose what I chose to do
So go easy on me
I had good intentions
And the highest hopes
But I know right now
It probably doesn’t even show”

Penggalan lirik di atas seakan linear dengan situasi yang ada di Tottenham saat ini. The Lilywhites yang belum lama ini kedatangan manajer baru, Conte, sekarang punya alasan untuk memupuk harapan.

Hanya saja, kondisi mereka saat ini agaknya belum cukup bisa mengimbangi perangai Conte yang ambisius. Banyak yang masih harus diperbaiki dari segi mental dan taktikal.

Materi yang ditawarkan Tottenham belum setara dengan profil Conte yang dikenal sebagai serial winner.

Menghadapi hal ini, pelatih kelahiran Lecce itu diharapkan bisa memaklumi dan mau sedikit melunak, tanpa perlu memamerkan egonya seperti saat dirinya membesut Juventus, Chelsea, dan Inter Milan.

Tatkala kesedihan menyelubungi sanubari, selalu tanamkan ingatan jika tetesan embun harapan akan membersihkan relung hati dari debu-debu nestapa.

Tottenham mungkin pernah, atau masih diselimuti turbulensi dan rasa frustrasi. Namun sah-sah saja jika para penggemarnya mulai memupuk benih angan-angan.

Kemenangan tipis atas Leeds United pada Ahad (21/11) lalu yang membuahkan tiga poin Premier League perdana di era kepelatihan Conte bisa menjadi indikasi nyata akan pertanda datangnya hari-hari bahagia yang selama ini didamba.

Komentar
Damar Senoaji
Sesekali mendua pada MotoGP dan Formula 1. Bisa diajak ngobrol di akun twitter @DamarEvans_06