Di Balik Gemerlapnya Gelar Juara Persib

ekspresi dari para pemain persib bandung saat berhasil menjadi juara dalam piala presiden di stadion Gelora Bung Karno, Jakarta (18/10/2015). Persib bandung/ berhasil menjadi juara setelah menang 2-0 atas Sriwijaya foto:wahyudin/jawapos

Peluit panjang yang dibunyikan oleh wasit Djumadi Effendi menandakan berakhirnya partai puncak Piala Presiden 2015. Persib Bandung berhasil menaklukan sang lawan Sriwijaya FC, dengan skor 2-0. Ahmad Jufriyanto dan The Mali Messiah, Makan Konate, menjadi pencetak gol kemenangan bagi tim yang juga merupakan kampiun Liga Super Indonesia (LSI) musim lalu tersebut. Pencapaian ini terhitung luar biasa, terutama bagi sang pelatih Djajang Nurjaman yang berhasil membawa Maung Bandung –julukan Persib— berhasil melaju ke pertandingan final sebanyak lima kali, dan berhasil memenangkan empat –Celebes Cup, ISL, Piala Walikota Padang, dan Piala Presiden– di antaranya, terhitung sejak dirinya ditunjuk untuk mengarsiteki tim yang pernah dibelanya semasa aktif menjadi pemain pada akhir tahun 2012.

Deretan prestasi yang mungkin bahkan tidak pernah terpikirkan oleh setiap elemen yang ada di tubuh Persib, bahwa tim mereka akan kembali meraih kejayaan setelah lama puasa gelar. Dan juga jelas tidak menyangka bahwa justru di tangan mantan pemain Maung Bandung lah yang nyatanya berhasil mengembalikan kejayaan yang sudah lama hilang, bukan mantan pelatih juara liga, bukan mantan pelatih tim nasional, juga bukan pelatih asing. Tetapi, sosok sederhana Djajang Nurjaman lah yang berhasil membuat Maung Bandung kembali mengaum.

Tetapi di balik gemilangnya prestasi yang diraih Persib Bandung, superiornya kekuatan finansial manajemen, bertabur bintangnya skuat saat ini, ada sesuatu yang mungkin tidak dihiraukan, ada sesuatu yang tidak diperhatikan, bahkan bisa jadi dilupakan.

“Jangan sekali-sekali melupakan sejarah,” demikian kata Ir. Soekarno. Sebuah semboyan yang lebih sering disingkat menjadi Jasmerah ini terdapat dalam pidato kenegaraan terakhir presiden pertama Republik Indonesia ini pada 17 Agustus 1966. Makna utamanya adalah bahwa kisah masa lalu dan sejarah memiliki nilai yang tinggi, dan perlu diperhatikan tidak hanya bersifat simbolis saja.

Dan mungkin mengenai kesejarahan-lah yang seakan terlupakan di balik gemerlapnya kejayaan yang kembali dinikmati Persib saat ini.

BACA JUGA:  Mencintai Persib Bukanlah Tradisi, Melainkan Takdir

Ruang trofi Persib

Bila ada waktu ketika bertandang ke kota Bandung, sempatkanlah berkunjung ke gedung Sekretariat Asosiasi Kota (Askot) PSSI Kota Bandung di Jalan Gurame No.2 hanya berjarak beberapa langkah saja dari Universitas Langlang Buana, dekat dengan Sekretariat Viking Persib. Para pengurus akan menyambut dengan ramah, meskipun usianya rata-rata sudah sangat uzur, dan lebih suka berdiam dan cerita. Kemudian jika diperkenankan, mintalah ditujukan trophy cabinet Persib Bandung.

Anda akan langsung ditunjukan ke lantai dua dari gedung tersebut, anda akan memasuki sebuah ruangan di mana seluruh trofi yang pernah diraih Persib pada masa lampau tersimpan (kecuali trofi Juara Liga 1995, dan trofi trofi terbaru termasuk Juara Liga 2014 yang disimpan di Kantor PT Persib Bandung Bermartabat). Ruangan ini juga sekaligus menjadi tempat rapat para pengurus Askot Kota Bandung. Kebetulan ketika penulis sedang berkunjung ke sana, ada salah satu pengurus yang sedang tertidur lelap sembari menikmati sejuknya udara sore di Bandung.

Tetapi jangan bayangkan bahwa tempat penyimpanan trofi tersebut tertata rapi seperti yang ada di FC Bayern Erlebniswelt atau semegah yang ada di Museo con toda la Historia del Real Madrid atau Manchester United Museum. Tempat penyimpanan trofi yang ada di jalan Gurame berdebu, mulai dari kaca lemari penyimpanan hingga trofi-trofi itu sendiri, beberapa pintu lemari penyimpanan sudah agak rusak, beberapa trofi sudah mulai lapuk atau berkarat dimakan usia. Akhirnya penulis memberanikan diri bertanya, apakah tidak ada upaya dari pihak pihak terkait untuk menangani penyimpanan trofi ini dengan baik, termasuk dari Persib Bandung. Pengurus menjawab bahwa mereka menangani penyimpanan trofi mengandalkan dana bantuan dari pusat yang memang jumlahnya tidak besar.

Lemari penyimpanan trofi Persib
Lemari kaca penyimpanan trofi Persib

Bertemu Max Timisela

Selain keadaan penyimpanan trofi yang mengenaskan, ada hal lain yang bisa menyayat hati. Di antara para pengurus ada satu sosok yang menjadi penghuni gedung yang catnya sudah luntur itu. Anda mungkin tidak akan mengenalinya langsung ketika pertama kali bertemu, sosok tersebut kini sudah agak ringkih namun masih terhitung cukup segar untuk usianya yang sudah memasuki 71 tahun, ialah salah satu legenda sepak bola Indonesia, Max Timisela. Pak Max, begitulah biasanya beliau dipanggil di kalangan para pengurus. Beliau merupakan pahlawan Persib saat era Perserikatan, langganan timnas, bahkan dikabarkan sempat akan direkrut oleh Werder Bremen itu. Tapi beliau tak gelimang uang, hidupnya amat sederhana dan jauh dari hingar bingar gemerlapnya dunia sepak bola. Meskipun demikian beliau tidak akan keberatan bila diajak berfoto bersama atau menceritakan seluruh kisah-kisahnya ketika masih aktif bermain, dan selalu menekankan bahwa dirinya sangat bahagia hidup dengan sepak bola.

BACA JUGA:  Kegagalan Berlapis di Stade Velodrome, Marseille

Hati saya sangat teriris melihat keadaan mengenaskan yang ada di jalan Gurame no. 2 tersebut. Seluruh trofi dan piala yang tersimpan memang benda mati, namun itu semua merupakan artefak dari seluruh kejayaan Persib dari masa ke masa, memiliki nilai historis yang sangat tinggi. Terlebih lagi keadaan yang dialami oleh pemain legendaris sekelas Max Timisela pasti akan membuat siapa pun yang melihat keadaan beliau sekarang akan merasa iba.

Keadaan ruang penyimpanan trofi dan nasib Max Timisela saat ini, jelas luput dari perhatian banyak pihak. Gemerlapnya kejayaan yang direngguk oleh Persib saat ini, nyatanya tidak dinikmati oleh semua pihak yang pernah berjasa untuk Pangeran Biru, bahkan oleh pihak yang sebenarnya memiliki peran besar dengan apa yang dialami oleh Persib saat ini.

Bukankah karena kejayaan masa lalu yang tersirat melalui trofi dan kehebatan Max Timisela-lah yang akhirnya menjadi kisah kepada generasi saat ini, dan menjadi penyemangat untuk membuat Sang Maung mengaum kembali?

NB: Gol Makan Konate oleh beberapa pihak disebut sebagai gol bunuh diri Dian Agus Prasetya.

 

Komentar