Akhir dari Liga Primer Rusia Musim 2015/2016: Dongeng FC Rostov dan Kutukan Beria

Liga Primer Rusia musim 2015/2016 telah berakhir, dengan CSKA Moskow keluar sebagai juara. Liga ini sempat dicap monoton lantaran hanya menampilkan persaingan antara CSKA dengan rivalnya yang merupakan kesebelasan kaya raya, Zenit St. Petersburg.

Namun apa yang terjadi musim ini begitu berbeda. Perburuan gelar juara tidak lagi melibatkan CSKA dengan Zenit, melainkan antara CSKA dengan sebuah kesebelasan yang namanya masih cukup asing bagi penggemar sepak bola, yaitu FC Rostov.

Dongeng Rostov yang Mirip Leicester City

Kegemilangan Rostov jelas mengejutkan, sedikit mirip dengan yang terjadi pada Leicester City di Inggris. Di samping tidak memiliki tradisi juara liga, Rostov juga berkutat di zona degradasi dalam dua musim terakhir. Namun tidak seperti Leicester, Rostov didera masalah keuangan. Oktober silam, mereka bahkan terlambat membayar gaji pemain.

Sementara dilihat dari sosok pelatih, kedua kesebelasan sama-sama diarsiteki sosok senior. Baik Claudio Ranieri di Leicester dan Kurban Berdiyev di Rostov sama-sama telah berusia di atas 60 tahun, dan sama-sama memulai karier kepelatihan pada tahun 1986.

Di tangan pelatih Muslim kelahiran Turkmenistan yang selalu memegang tasbih di tangan kanannya setiap bertanding ini, Rostov tampil lepas. “Kami berjalan dari satu pertandingan ke pertandingan berikutnya,” ujar Berdyev. Komposisi pemain pun kurang lebih sama. Baik Leicester maupun Rostov sama-sama diperkuat pemain-pemain yang relatif dipandang sebelah mata.

Sepanjang musim 2015/2016, Rostov menjadi satu-satunya kesebelasan yang tidak terkalahkan di kandang dengan catatan 11 kali menang dan empat kali seri, dan paling sedikit kebobolan di liga yaitu hanya 20 kali. Dua hal inilah yang menjadi kunci kehebatan Rostov untuk meladeni kesebelasan-kesebelasan lain yang memiliki skuat yang secara teknis lebih baik.

Dengan formasi 5-3-2 yang amat defensif, Rostov tidak mengandalkan penguasaan bola dan dominasi mutlak atas lawan untuk memenangkan pertandingan. Situs Whoscored mencatat rata-rata penguasaan bola mereka sepanjang musim berada di bawah 50%, tepatnya 47,9%.

Skema serangan balik, umpan-umpan panjang dan agresivitas yang tinggi menjadi ciri khas permainan. Kemenangan dengan marjin satu atau dua gol sudah cukup untuk menggambarkan sepak bola yang efektif.

Dengan cara ini, mereka sempat memimpin klasemen pada awal tahun 2016, meski kemudian gagal menahan tekanan dari CSKA sehingga urung mengikuti kisah epik Leicester. Meski demikian, CSKA dipaksa berjuang hingga pekan terakhir untuk memastikan gelar.

CSKA yang Tetap Tangguh dan Zenit yang Menurun

Sejak awal musim, CSKA sebetulnya telah tancap gas untuk memimpin klasemen. Dengan mayoritas skuat yang tidak banyak berubah setidaknya dalam lima musim terakhir, CSKA memang sudah matang dan terlalu tangguh bagi lawan-lawannya.

Mereka sempat memenangi tujuh laga awal secara beruntun, namun kemudian sempat menurun pada akhir tahun hingga kemudian posisi mereka di puncak klasemen terancam oleh Rostov dan Zenit.

BACA JUGA:  Apa Saja yang Perlu Dipersiapkan Menyongsong Musim Baru Liga Indonesia?

Permasalahan kembali timbul ketika mereka kehilangan penyerang tengah Seydou Doumbia yang hijrah ke Newcastle pada pertengahan musim. Untuk mengisi posisi Doumbia, Pelatih Leonid Slutsky kerap memasang penyerang sayap Ahmed Musa, yang berarti terjadi perubahan dalam cara bermain.

Pada masa transisi ini, CSKA sempat kalah di laga tandang melawan Rostov di stadion Olimp-2 pada Maret lalu, yang membuat Rostov menggeser mereka. Gelar juga seakan makin jauh dari genggaman setelah mereka kembali menelan kekalahan dari Zenit di Stadion Petrovsky.

Namun kemudian, Rostov juga sempat “kehabisan bensin” pada saat CSKA kembali menemukan performa terbaik. Kesebelasan dengan warna khas kuning ini kehilangan poin-poin penting melawan kesebelasan-kesebelasan yang semestinya mampu mereka kalahkan seperti Amkar Perm, Anzhi Makhachkala, dan Mordovia Saransk.

Keadaan ini dimanfaatkan CSKA untuk merebut kembali posisi puncak klasemen berkat kemenangan beruntun dalam enam laga penutup liga.

Sementara bagi Zenit, posisi ketiga yang mereka raih musim ini menandai pencapaian terburuk mereka dalam tujuh musim terakhir, di mana minimal mereka menduduki posisi kedua.

Pelatih Andre Villas-Boas seperti sudah memiliki alibi. Pada awal musim, ia sempat mengeluhkan perubahan kebijakan jumlah minimal pemain asing yang boleh diturunkan dalam satu pertandingan, dari tujuh menjadi enam pemain sejak musim 2015/2016 bergulir.

Villas-Boas meradang dengan keputusan ini mengingat begitu banyak pemain kunci Zenit yang merupakan legiun asing. Akibatnya, sang mantan pelatih Tottenham Hotspur ini menyebut dirinya sulit meracik taktik terbaik karena harus mengorbankan satu atau dua pemain asing untuk memberi tempat kepada pemain lokal.

Dinamo Moskow dan Kutukan Beria

Dalam dunia sepak bola, ada beberapa kutukan terkenal yang meskipun sulit diterima logika dan akal sehat, namun menyebabkan kesialan pada sebuah kesebelasan. Salah satunya adalah kutukan Bela Guttman kepada kesebelasan Benfica.

Kesebelasan asal Kota Lisbon ini pernah berjaya sebagai juara domestik dan Eropa berkat tangan dingin seorang pelatih asal Hongaria yaitu Bela Guttman. Berbekal prestasinya, amat wajar jika Guttman meminta kenaikan nilai kontrak, atau setidaknya tambahan bonus.

Ironisnya, permintaan tersebut ditolak jajaran direksi Benfica, dan Guttman malah diberhentikan. Akibatnya, Guttman mengeluarkan amarah yang terdengar seperti kutukan “Sampai seratus tahun ke depan, Benfica tidak akan menjadi juara Eropa!”

Entah ada hubungannya atau tidak, tetapi sejak tahun 1962 hingga sekarang, Benfica telah tampil di delapan final Liga Champions maupun Piala UEFA (sebelum bernama Liga Europa), dan seluruhnya berbuah kekalahan.

Sementara bagi Dinamo Moskow, terdegradasinya kesebelasan tertua Rusia ini cukup mengejutkan. Pasalnya, Dinamo Moskow sempat menjadi satu-satunya kesebelasan yang belum pernah terdegradasi dari kompetisi tingkat teratas sejak bergulir tahun 1936. Peristiwa ini kemudian dikait-kaitkan pada sebuah kutukan yang dikenal sebagai kutukan Beria.

BACA JUGA:  Aroma Amerika di Venezia

Lavrentiy Pavlovich Beria adalah sosok yang dimaksud. Mantan presiden Dinamo Moskow pada era Soviet yang juga menduduki posisi eksekutif di polisi rahasia yang merupakan cikal bakal KGB dan juga merupakan tangan kanan dari Josef Stalin ini amat terkenal kiprahnya di dunia sepak bola, namun tidak selalu dalam artian positif.

Ketika rivalitas Dinamo dengan Spartak Moskow memuncak pada dekade 1940-an, Beria menggunakan kekuasaannya untuk menjebloskan Nikolai Starostin, presiden Spartak bersama tiga saudara kandungnya, ke kamp pekerja Gulag dengan tuduhan bahwa Starostin mendukung olahraga untuk kaum borjuis.

Padahal, alasan tersebut murni politis karena kiprah Starostin bersama Spartak dinilainya sebagai ancaman bagi pemerintah. Saat itu, Spartak menjadi simbol perlawanan rakyat pada penguasa, dan meraih begitu banyak simpati sehingga dijuluki sebagai “The People’s Club”.

Beria sendiri pada akhirnya dihukum mati pada tahun 1953 oleh pemerintahan baru Soviet di bawah Nikita Kruschev akibat kejahatan-kejahatan berat yang pernah dilakukannya selama menduduki posisi eksekutif di polisi rahasia.

Memang tidak pernah ada sumber yang mengatakan bahwa ada kata-kata kutukan yang pernah keluar dari mulut Beria kepada Dinamo, dan selepas kematiannya, Dinamo toh masih mampu meraih enam gelar juara liga Soviet.

Namun peruntungan Dinamo seperti habis pada tahun 1976, di mana setelah tahun tersebut kesebelasan dengan warna khas putih dan biru tak mampu meraih sebuah gelar pun. Lalu tepat 40 tahun setelahnya, Dinamo terdegradasi.

Namun jika dilihat secara rasional, kejatuhan Dinamo memang telah terbaca sejak awal musim. Tahun lalu, UEFA melarang mereka mengikuti Liga Europa lantaran tidak seimbangnya biaya pembelian dan penggajian pemain jika dibandingkan dengan pendapatan asli mereka, sehingga klub terus merugi.

Selain itu, terdapat pula isu skema sponsorship yang dikucurkan oleh VTB Bank selaku pemilik klub yang tidak diperkenankan dalam kebijakan Financial Fair Play.

Buntutnya, pemotongan anggaran biaya dan eksodus para pemain bintang tak terbendung. Mathieu Valbuena, Douglas, Balazs Dzsudzsak, Kevin Kuranyi, Alexander Buttner, Alexandr Kokorin, Yuri Zhirkov dan Fedor Smolov ramai-ramai hengkang.

Pelatih Stanislav Cherchesov juga merapat ke Legia Warsawa. Hanya Igor Denisov, Tomas Hubocan, Alexei Ionov dan Anton Shunin sebagai pemain senior tersisa yang masih memperkuat kesebelasan ini, sementara sisanya adalah pemain-pemain muda dari akademi. Sebetulnya masih ada Christopher Samba dan Pavel Pogrebnyak, namun pada musim ini keduanya lebih banyak menghabiskan waktu di meja perawatan cedera.

Tanpa para pemain bintang plus transisi di posisi kepelatihan, Dinamo jelas kepayahan, dan akhirnya hanya mengumpulkan 25 poin, atau satu poin di atas Mordovia Saransk yang menduduki posisi buncit. Dalam sembilan laga terakhir, kesebelasan ini bahkan hanya mengumpulkan sebuah poin. Sebuah performa yang memang pantas untuk diganjar degradasi.

 

Komentar
@aditchenko, penggemar sepak bola dan penggiat kanal Casa Milan Podcast