Akhir Mount di Chelsea

Potret Mason Mount
Potret Mason Mount

Mason Tony Mount bergabung dengan akademi muda Chelsea pada usia enam tahun. Setelah berkembang pesat di akademi, pemain kelahiran 10 Januari 1999, Portsmouth, Hampshire itu dipinjamkan ke Vitesse Arnhem di Belanda.

Bersama Vitesse, Mount tampil mengesankan dengan kontribusi 24 gol dari 40 penampilan di semua kompetisi. Ia dipinjamkan lagi ke tim Championship, Derby County, yang saat itu pelatihnya adalah legenda Chelsea, Frank Lampard.

Peminjaman itu berujung kesuksesan lagi buat Mount dengan mengemas 11 gol dan 6 asis dari 44 laga. Menyusul masa peminjamannya yang memukau, Mount kembali ke Chelsea dan melakukan debutnya di tim utama pada Agustus 2019.

Meski saat itu Chelsea terkena hukuman larangan transfer pemain, kondisi itu malah cukup menguntungkan bagi para pemain muda, termasuk Mason Mount. Dengan cepat ia memantapkan dirinya sebagai starter reguler di bawah mantan manajernya di Derby County, Lampard.

Debut internasional seniornya untuk Timnas Inggris terjadi pada September 2019. Sejak itu, dia menjadi anggota reguler skuad Inggris. Sampai saat ini, Mount sudah mengemas 36 caps dengan 5 gol.

Di Chelsea, kariernya terus bersinar dengan maminkan peran penting dalam kesuksesan The Blues. Sorotan utama tertuju padanya saat Mei 2021, mengirimkan asis penting yang berbuah gol dari Kai Havertz untuk memenangkan Chelsea trofi Liga Champions.

Bersama Thomas Tuchel, permainan Mount semakin tajam. Tak hanya Liga Champions, ia juga memenangkan UEFA Super Cup, dan Piala Dunia Antarklub, yang menjadi trofi pertama kalinya dalam sejarah Chelsea.

Bakat dan kecerdasan Mount di sepakbola diperoleh lewat pendidikan sepakbola dalam keluarganya. Ayahnya, Tony Mount, menjadi seseorang yang memiliki pengaruh terbesar dalam karier sepakbola putranya.

BACA JUGA:  Mengenang Uli HoeneƟ, Sang Pemimpin Visioner Bayern Munchen

Tony adalah mantan pesepakbola non-liga yang kemudian melatih klub lokal, seperti Havant Town dan Newport. Sementara dirinya tidak memiliki karier profesional yang mengesankan, Tony bersumpah untuk terus mewujudkan mimpinya melalui putranya.

Motivasi itu menjadi alasan Tony yang mendaftarkan Mount ke salah satu akademi sepakbola terbaik di kota itu, Baorhunt FC, pada usia empat tahun. Bagi Mount sendiri, ayahnya memang memiliki pengaruh yang sanagt penting bagi perkembangannya sebagai pesepakbola.

Dia mengatakan bahwa ayahnya mengajarinya akan pentingnya etos kerja, semangat, dan dedikasi dalam sepakbola. Tapi yang paling penting adalah, Mount tahu, bahwa ayahnya selalu ada untuk mendukung perkembangan karier sang putra.

Sebenarnya, Mount pernah hampir pindah dari Chelsea pada 2014. Saat itu, ayahnya mengadakan pertemuan darurat untuk membahas perihal keputusan Mount untuk memilih beasiswa dengan The Blues, atau mempertimbangkan sejumlah tawaran menggiurkan untuk pergi.

Tony memiliki kekhawatiran soal jarangnya pemain akademi Chelsea yang bersinar untuk tim utama sejak John Terry. Oleh karena itu, ia berkata pada anaknya bahwa pindah klub dapat memberikannya kesempatan yang lebih baik.

Dengan yakin Mount membalas ayahnya bahwa dirinya akan menjadi pemain akademi yang sukses bersama tim senior Chelsea. Keyakinan anak berusia 15 tahun itu benar terwujud, hingga pada akhirnya ia harus mengakhiri perjalanannya bersama Chelsea di usia 24 tahun.

Komentar
Menjadi fans Chelsea karena pengaruh bapak. Dapat disapa via akun Twitter @iiklil.