Isu Stabilitas Blok Struktural dan Manajemen Ruang yang Buruk: Analisis terhadap Performa Chelsea di awal Musim 2015/2016

Sebelum digulirkannya Liga Inggris musim 2015/16, banyak pihak yang menyatakan bahwa Chelsea di bawah asuhan Jose Mourinho akan mampu untuk mempertahankan gelar juara. Sebuah “prestasi” di mana dalam enam tahun terakhir tidak satupun juara bertahan yang mampu mengangkat kembali trofi kasta tertinggi Premier League. Namun memasuki pekan ke-5 banyak pihak yang mulai meragukan peluang Chelsea untuk menjuarai liga. Hal ini tidak lain disebabkan oleh start buruk mereka : sekali menang, sekali imbang dan tiga kali kalah. Ya, tiga kali kalah! Empat kali jika anda ikut memasukkan kekalahan dari Arsenal di Community Shield ke dalam hitungan. Bahkan satu-satunya kemenangan yang mereka raih di kandang West Brom pun didapat dengan susah payah. Apa yang salah dengan Chelsea?

Refleksi statistik

Dari lima pertandingan yang telah dilakoni, Chelsea telah kebobolan 12 gol dan mencetak 7 gol. Jadi cukup aman untuk menyatakan bahwa isu terbesar Chelsea ada pada sistem pertahanan mereka. Grafik di bawah ini hasil dari pekerjaan Paul Riley yang sangat representatif, menunjukkan peluang-peluang yang berhasil diciptakan oleh lawan-lawan Chelsea beserta besaran ekspektasi gol yang dicetak.

sumber : https://public.tableau.com/profile/paul.riley#!/vizhome/PremierLeague201516xGMap/PremierLeague201516ShotonTargetxGDashboard
Sumber : https://public.tableau.com/profile/paul.riley#!/vizhome/PremierLeague201516xGMap/PremierLeague201516ShotonTargetxGDashboard

Pada grafik tersebut terlihat besarnya ekspektasi gawang Chelsea untuk kebobolan mencapai nilai 11.70 dari lima pertandingan. Nilai tersebut sangat besar jika dibandingkan dengan pemuncak klasemen, Manchester City, yang besaran ekspektasi kebobolannya hanya sebesar 2.02. Sebagian besar peluang yang tercipta juga terjadi di depan mulut gawang Chelsea. Hal ini menunjukkan bahwa ada yang salah dengan sistem pertahanan Chelsea musim ini. Bagaimana sistem pertahanan Chelsea? Mari kita bedah mulai dari mekanisme pressing-nya hingga sistem-sistem taktikal yang diterapkan oleh Jose Mourinho.

Mekanisme pressing

Pressing merupakan salah satu taktik yang sangat krusial dalam strategi permainan suatu tim. Mekanisme pressing menentukan apakah suatu tim akan membiarkan lawannya melakukan build-up dengan nyaman atau memaksa mereka untuk kehilangan bola. Hal ini menjadi krusial karena stabilitas blok struktural suatu tim akan sangat dipengaruhi oleh mekanisme pressing-nya.

Mari kita perhatikan bagaimana mekanisme pressing Chelsea dari beberapa laga yang telah mereka jalani di awal musim ini. Di sini Chelsea memiliki masalah berupa buruknya kordinasi baik dalam lini pressure pertama, maupun kordinasi antar lini pressure terutama lini pertama dengan lini kedua.

Kordinasi di dalam lini pertama akan menentukan bagaimana mereka mendapatkan akses terhadap bola. Tanpa adanya akses terhadap bola, suatu tim akan bertahan dengan pasif. Akibatnya lawan akan lebih mudah untuk medikte pergerakan blok struktural untuk kemudian melakukan penetrasi karena minimnya pressure terhadap bola. Sementara ketika suatu tim lebih proaktif ketika tidak menguasai bola, maka akan lebih mudah untuk mengarahkan sirkulasi bola lawan. Dengan demikian pentrasi ke dalam blok struktural akan lebih mudah dikontrol.

Namun perlu dicatat, kordinasi antara lini pertama dan lini kedua menentukan stabilitas blok struktural ketika melakukan pressing. Selain stabilitas, tentu saja akses yang konstan juga menjadi hal yang sangat penting. Ketika akses yang dimiliki tidak dapat dipertahankan maka suatu tim akan kembali bertahan dengan pasif. Hal-hal ini sangat penting dan berkaitan untuk menunjang permainan suatu tim.

Kordinasi dalam lini pertama

Lini pertama merupakan lini terdepan dalam mengaplikasikan pressure. Jumlah pemain yang terlibat di dalam lini pertama tergantung pada skema dan transposisi skema yang digunakan. Jumlah ini juga nantinya akan mempengaruhi mekanisme pressing yang dilakukan. Tujuan dari lini pertama ini adalah untuk mempersiapkan pressing dengan mengarahkan sirkulasi bola lawan ke zona tertentu di mana pressing akan lebih mudah dilakukan. Stabilitas blok struktural suatu tim secara keseluruhan akan sangat tergantung pada lini pertama ini.

Pada beberapa momen, terdapat kordinasi yang tidak berjalan ketika Chelsea harus membentuk lini pressure pertama.

2-che

Pada gambar di atas terlihat tidak adanya koordinasi pada lini pertama. Pada pertandingan melawan Swansea, Chelsea menerapkan skema 4-2-3-1 dengan adanya transposisi ke 4-4-2 ketika tidak menguasai bola. Pergerakan yang fluid di antara Oscar-Hazard-Willian membuat adanya koordinasi yang rusak terutama terhadap siapa yang akan mengisi lini pressure pertama. Di sini Hazard mencoba untuk mendapatkan akses terhadap bola di lini pertama dan menganggap Oscar atau Willian mengisi pos yang ditinggalkannya.

Sementara itu Oscar baru saja bergerak ke halfspace kanan sehingga tidak memungkinkan bagi dirinya untuk berada di sisi kiri. Begitu pula dengan Costa yang baru saja melakukan link up di flank kanan. Sedangkan Willian kembali ke posisinya dan melakukan penjagaan terhadap fullback kiri Swansea. Pada situasi ini tidak ada koordinasi di antara keempat pemain ini (Hazard-Oscar-Costa-Willian) mengenai siapa yang harus mengisi lini pertama. Selain tidak ada koordinasi, mereka juga gagal untuk mendapatkan akses yang konstan terhadap bola karena adanya stabilitas dalam blok struktural mereka yang terganggu, yaitu situasi 1vs2 yang diderita oleh Azpilicueta.

Hal ini berakibat pada mudahnya Swansea untuk melewati lini pertama Chelsea, melalui umpan yang di arahkan ke situasi 1vs2 ini. Situasi ini kemudian dimanfaatkan Ayew untuk mengakses Jonjo Shelvey yang cukup bebas di area sentral. Ruang yang sangat luas bagi Shelvey di area sentral ini didasari oleh tidak adanya koordinasi antara lini pertama dengan lini kedua. Dapat diperhatikan pada gambar tersebut bagaimana Nemaja Matic dan Francesc Fabregas harus menjaga area yang sangat luas. Hal ini berakibat pada umpan matang Shelvey ke Bafetimbi Gomis yang berada pada situasi 1vs1 melawan Courtois. Beruntung bagi Chelsea Gomis gagal memanfaatkan peluang yang dimilikinya.

3-che

Hal yang sama juga terjadi pada laga melawan West Bromwich Albion. Pada gambar di atas dapat diperhatikan terdapat lima pemain di lini pertama yang mencoba memberikan pressure terhadap Claudio Yacob yang menguasai bola. Sementara itu di lini kedua yang hanya dijaga oleh Matic terdapat tiga pemain WBA. Hal ini membuat WBA dapat dengan mudah mengakses Fletcher yang berdiri bebas di ruang antar lini, yang berujung pada penetrasi yang berbahaya. Hal ini dapat dilakukan dengan mudah terutama karena tidak adanya staggering yang efektif untuk menerapkan pressure secara horizontal maupun vertikal terhadap bola.

Pressure yang dilakukan oleh Fabregas mungkin dimaksudkan untuk menciptakan staggering yang diinginkan, dengan dirinya menerapkan pressure vertikal sedangkan Willian menerapkan pressure horizontal dengan Matic, Hazard dan Pedro meng-cover­ zona 5 untuk menjaga stabilitas. Hal ini tidak berjalan seperti yang diharapkan karena adanya orientasi oleh Pedro dan Hazard yang akan dibahas di bagian terakhir. Selain itu sebenarnya Fabregas tidak perlu memberikan pressure mengingat Costa telah menerapkan pressure vertikal terhadap Yacob, sehingga lebih baik bila Fabregas menjaga stabilitas blok struktural dengan menjaga zona 5. Dapat diperhatikan pula bagaimana Matic dan Fabregas berdiri pada halfspace yang sama. Hal ini menunjukkan tidak adanya pembagian ruang yang terstruktur terutama pada kedua pivot. (Apabila anda belum memahami kapasitas strategis halfspace sebaiknya anda baca tulisan RyanTank di sini).

BACA JUGA:  Return Match: Laga Tandang yang Menentukan Bagi Arsenal

4-che

Contoh lain mengenai buruknya kordinasi Chelsea di dalam lini pertama juga ditunjukkan pada gambar di atas. Costa dan Willian di sini tidak memiliki akses terhadap bola yang dikuasai oleh Jonas Olsson, dengan demikian akan sangat mungkin bagi Olsson untuk melepaskan umpan yang akurat. Namun pada saat yang bersamaan, Hazard justru berusaha untuk mendapatkan akses ke Gareth McAuley jika sewaktu-waktu bola diberikan kepadanya. Begitupula dengan Pedro yang mengorientasikan dirinya terhadap Chris Brunt. Hal ini justru menciptakan zonal coverage yang sangat luas bagi kedua pivot Chelsea. Pemain yang menjaga ruang yang sangat luas tentu akan lebih mudah untuk dimanipulasi antisipasinya. Pada situasi tersebut Morrison berhasil mengelabuhi Matic dan menemukan dirinya di jalur umpan yang ideal untuk menerima bola dari Olsson.

Dari contoh-contoh di atas terlihat bagaimana buruknya kordinasi di dalam lini pertama membuat stabilitas blok struktural Chelsea menjadi limbung. Hal ini terutama diakibatkan oleh mudahnya lawan dalam mengakses zona sentral.

Kordinasi antara lini pertama dengan lini kedua

Ketika kordinasi di lini pertama terstruktur dengan cukup baik muncul masalah baru bagi Chelsea, yaitu buruknya kordinasi dengan lini kedua. Hal ini menyebabkan pressing yang mereka bangun sia-sia dan membuat stabilitas blok strutural mereka lagi-lagi terganggu. Akibatnya tim lawan dapat dengan mudah melakukan progresi dan penetrasi.

Kordinasi antara lini pertama dengan lini kedua ini menjadi penting karena ketika lini pertama berhasil untuk mengarahkan sirkulasi bola ke zona yang diinginkan, maka lini kedua akan menjadi penutupnya. Ketika lini kedua tidak berfungsi maka sirkulasi bola lawan akan dapat dengan mudah kembali ke zona sentral di mana menginisiasi progresi akan lebih mudah.

5-che

Gambar di atas menunjukkan pressing yang dibangun oleh Willian dan Costa tidak di-support dengan baik oleh lini kedua. Tidak ada staggering yang dibentuk membuat Swansea dapat dengan mudah keluar dari tekanan lini pertama. Willian mengorientasikan dirinya terhadap posisi Ki Seung Yeung, sedangkan Costa mengorientasikan dirinya terhadap Federico Fernandez. Hal ini memudahkan bagi Williams untuk memberikan bola kepada Shelvey. Beruntung bagi Chelsea, Shelvey yang berdiri bebas tidak memilih untuk berputar dan menginisiasi progresi bola.

Staggering yang baik dapat dilakukan dengan Fabregas mengorientasikan dirinya terhadap Shelvey, sementara Hazard dan Oscar merapat ke tengah untuk menutup jalur umpan ke halfspace yang dapat ditujukan baik ke Ayew maupun Montero. Dengan demikian pressing yang dibangun Chelsea akan lebih stabil. Kedua fullback Swansea dapat “dibiarkan” untuk sementara karena ketika mereka mendapat bola posisinya di flank di mana lebih mudah untuk mengaplikasikan pressing di area tersebut. Di sisi lain adanya staggering akan mempermudah pengaplikasian pressure secara horizontal dan vertikal.

6-che

Contoh lain tidak adanya staggering yang efektif pada mekanisme pressing Chelsea dapat dilihat pada gambar di atas. Pada pertandingan melawan Everton tersebut Costa dan Pedro sukses mengarahkan bola ke sisi kanan Everton. Namun tidak adanya reaksi dari lini kedua untuk membentuk staggering yang efektif membuat usaha Pedro dan Costa sia-sia yang berujung pada penetrasi yang berbahaya oleh Everton. Pada kasus ini rendahnya etos kerja Eden Hazard ketika timnya tidak menguasai bola membuat mekanisme pressing Chelsea tidak berjalan dengan baik. Selain itu adanya man oriented yang dilakukan oleh Mikel dan Fabregas membuat penerapan staggering menjadi tidak mungkin.

7-che

Situasi di atas muncul setelah pressing yang coba dibangun oleh Chelsea gagal karena tidak adanya kordinasi antara lini pertama dengan lini kedua. Gareth Barry mendapat ruang yang cukup luas ketika menguasi bola sehingga memaksa Mikel untuk memberikan pressure. Ketika Barry memberikan bola kepada Barkley, Matic berusaha memberi pressure. Hal ini tentu saja membuka celah di ruang antar lini yang kemudian dimanfaatkan oleh Naismith untuk melakukan penetrasi via Galloway yang berbuah pada gol pertama Everton.

Pertanyaan yang muncul adalah, faktor apa saja yang membuat koordinasi Chelsea — baik di lini pertama maupun antara lini pertama dengan lini kedua — begitu buruk?

Man oriented system

Penerapan sistem ini adalah man-to-man marking, namun dalam kasus Chelsea penjagaan ini eksklusif dilakukan oleh winger terhadap fullback lawan. Dalam beberapa momen sistem ini juga dilakukan oleh pemain lain, misal di pos no.10 dan juga fullback. Secara sederhana konsep ini cukup efektif untuk mendapatkan akses yang konstan terhadap bola karena setiap pemain akan melakukan penjagaan terhadap lawannya masing-masing. Dengan demikian opsi yang dimiliki oleh pemegang bola akan menjadi lebih terbatas. Namun terdapat isu lain yang muncul yang terkait dengan stabilitas blok struktural, terutama di area sentral di mana minimnya support membuat area ini terbuka bagi lawan-lawan Chelsea.

Area sentral merupakan area dengan kapasitas strategis yang sangat tinggi jika dibandingkan dengan flank. Hal ini dikarenakan di area sentral memiliki pilihan opsi yang lebih banyak dibandingkan dengan flank. Selain itu pressure terhadap gawang jauh lebih tinggi di area sentral dibandingkan dengan flank.

Di sisi lain, kordinasi antar pemain ketika melakukan penjagaan man oriented akan lebih mudah untuk dirusak. Seperti pernyataan pelatih legendaris Ernst Happel, “if you mark man to man mark, you’re sending eleven donkeys.

8-che

Gambar di atas dengan jelas menunjukkan bagaimana sistem man oriented yang diterapkan Chelsea membuat area sentral mereka menjadi tidak stabil. Willian dan Hazard justru melakukan penjagaan terhadap pemain yang berada di zona yang kapasitas strategisnya jauh lebih rendah. Hal tersebut memaksa Matic untuk memberikan pressure terhadap Ki. Pada saat yang bersamaan Ayew bergerak ke area sentral untuk melakukan overload terhadap Fabregas yang harus menjaga Sigurdsson di area sentral. Hal ini kemudian berujung pada penetrasi yang dilakukan oleh Sigurdsson, namun sayangnya masih bisa diantisipasi oleh lini belakang Chelsea.

BACA JUGA:  Milan-Sacchi dan Perbandingannya dengan Barcelona-Guardiola

9-che

Gambar di atas merupakan contoh lain di mana Hazard dan Ramires melakukan penjagaan terhadap pemain yang berada di area yang kapasitas strategisnya lebih rendah. Sementara itu area yang paling krusial — di depan kotak penalti — mereka biarkan yang berujung pada penetrasi berbahaya. Sekali lagi dapat diperhatikan adanya pembagian ruang yang tidak terstruktur antara Matic dan Fabregas di mana keduanya menempati halfspace yang sama. Hal ini dikarenakan adanya sistem man oriented yang membuat zonal coverage Matic dan Fabregas menjadi sangat luas.

10-che

Gambar di atas merupakan situasi sesaat sebelum Aguero mencetak gol pertama Manchester City. Terry menjadi pemain pertama yang harus memberikan pressure terhadap Silva. Sementara itu Fabregas berusaha untuk meng-cover Terry sedangkan Matic disibukkan oleh pemosisian Yaya Toure. Hal ini membuat ruang di zona 14 (atau zona 5 bagi Chelsea) terbuka bagi Manchester City. Aguero dapat dengan mudah melepaskan diri dari Cahill dan menerima bola di zona 14 sebelum melakukan kombinasi dengan Toure yang diakhirinya dengan tembakan ke gawang yang berbuah gol.

Dapat diperhatikan bagaimana Hazard justru berorientasi pada Sagna, sehingga Terry yang seharusnya berada di lini belakang harus keluar. Hal ini memaksa Fabregas dan Matic untuk meninggalkan zona 5. Di sisi lain — alih-alih menjaga kompaksi dan meng-cover zona 5 — Ramires juga mengorientasikan dirinya terhadap Sterling dan Kolarov.

11-che

Gambar di atas merupakan contoh lain dari pertandingan yang sama. Man oriented yang diterapkan oleh Ramires dan Hazard membuat Fabregas dan Matic harus meng-cover ruang horizontal yang sangat luas. Sehingga ketika terjadi shifting bola dari satu sisi ke sisi lainnya akan dengan mudah membuka jalur umpan. Pada kasus di atas bola berawal dari sisi Kolarov, sehingga blok struktural Chelsea harus bergeser ke sisi kanan. Man oriented yang diterapkan Chelsea membuat kompaksi dalam blok struktural ini rendah, sehingga akses terhadap bola juga rendah. Hal ini memudahkan Manchester City untuk memindahkan bola via Fernandinho.

Perpindahan ini membuat blok struktural Chelsea harus kembali shifting, karena buruknya kompaksi maka jalur umpan akan dengan mudah terbuka. Silva yang dengan mudah menemukan ruang di antara Matic dan Hazard kemudian melakukan inisiasi penetrasi via Navas. Serangan ini berakhir dengan tembakan Aguero yang — untungnya bagi Chelsea — masih bisa diantisipasi oleh Asmir Begovic.

Bila kita perhatikan pada beberapa contoh sebelumnya tedapat kasus di mana kedua pivot Chelsea berada dalam satu zona yang sama. Hal ini terjadi juga diakibatkan oleh sistem man oriented oleh winger-winger mereka. Orientasi ini memaksa salah satu dari kedua pivot untuk memberikan pressure terhadap pemain yang masuk ke halfspace sedangkan pivot yang lain akan meng-cover pergerakan rekannya. Hal ini karena winger Chelsea akan sangat terpaku di area flank di mana mereka melakukan penjagaan terhadap lawannya. Kedua pivot yang berada di zona yang sama tidak akan berbahaya bila terdapat kompaksi yang baik secara horizontal. Namun akibat sistem man oriented, kompaksi blok struktural akan menjadi sangat buruk sehingga membuka ruang di zona lainnya.

12-che

Pada gambar di atas Romelu Lukaku dan Arouna Kone baru saja melakukan kombinasi di halfspace. Azpilicueta menjadi satu-satunya pemain yang memberikan pressure, melihat situasi ini Matic berusaha untuk memberikan support dengan Mikel memberikan cover dibelakang Matic. Hal ini membuka ruang bagi Barkley dan Naismith yang tidak terkawal sama sekali. Situasi di atas kemudian berujung pada gol kedua Everton yang dicetak oleh Naismith.

Selain membuka ruang di halfspace lainnya, yang tidak kalah krusial adalah minimnya perlindungan bagi fullback Chelsea. Dalam kasus ini Ivanovic menjadi pemain yang paling sering mendapati dirinya berada dalam situasi 1vs1 hingga 1vs2. Ketika Matic harus memberikan support kepadanya maka ruang di zona 5 (di depan kotak penalti) akan terbuka. Meninggalkan Fabregas yang kapabilitas duelnya inferior jika dibandingkan dengan Matic.

13-che

Gambar di atas menunjukkan adanya kombinasi antara Olsson, Brunt dan McClean yang kemudian berujung pada situasi 2vs1 antara McClean dan Brunt melawan Ivanovic. Umpan silang Chris Brunt dikembalikan ke zona 5 oleh Salomon Rondon yang kemudian diakhiri dengan tembakan Morrison yang berbuah gol bagi WBA.

Hal ini berawal dari orientasi yang dilakukan Pedro terhadap Brunt memaksa Fabregas untuk memberikan pressure terhadap Olsson yang berada di halfspace. Pada momen tersebut Matic harus meng-cover Fabregas. Sementara itu Zouma mengorientasikan dirinya terhadap Morrison. Hal ini menjadikan Ivanovic sebagai target empuk untuk overload.

14-che

Gambar di atas merupakan contoh lain di mana sistem man oriented menjadi penyebab munculnya penetrasi bagi Swansea di area Ivanovic. Orientasi Willian terhadap Neill Taylor membukan jalur umpan yang sangat luas bagi Sigurdsson di ruang antar lini. Begitu Shelvey sukses melewati Oscar maka stabilitas blok Chelsea akan limbung. Sehlvey akan dengan mudah mengakses Sigurdsson yang kemudian dapat berkombinasi dengan Montero. Dalam situasi tersebut Gomis memosisikan dirinya sehingga memaksa Cahill berorientasi terhadap dirinya dan tidak dapat membantu Ivanovic.

Kesimpulan

Dari penjelasan-penjelasan di atas terlihat bahwa permasalahan Chelsea musim ini bukan hanya karena buruknya penampilan Garry Cahill, John Terry, Branislav Ivanovic, Cesc Fabregas, dll. Namun lebih dikarenakan permasalahan struktural yang berakar dari sistem permainan yang diterapkan oleh Jose Mourinho. Sistem ini mempengaruhi banyak hal namun yang paling krusial adalah penilaian mereka terhadap kapasitas strategis suatu ruang. Atau bahkan mungkin Chelsea saat ini telah meniadakan pemikiran mengenai pentingnya manajemen ruang dalam sepak bola. Padahal semua keputusan dan eksekusi dalam sepak bola dilakukan di dalam sebuah ruang di dalam lapangan. Sementara masing-masing ruang memiliki kapasitas strategis yang berbeda-beda. Menarik untuk disimak di laga-laga selanjutnya apakah Mourinho akan melakukan pembenahan seperti yang pernah dilakukannya ketika menangani Real Madrid.

 

Komentar