Andrew Robertson dan Perjuangan Panjangnya

Suatu malam di tahun 2012, seorang pemuda 18 tahun asal Skotlandia bernama Andrew Henry Robertson, mengunggah sebuah cuitan tentang keluhannya soal kesulitan mendapatkan uang. Keluhan yang ia lontarkan saat itu terbilang normal, layaknya para pemuda dari kelas pekerja lainnya di Britania Raya.

Robertson kala itu bekerja di Stadion Hampden Park, kandang dari tim nasional Skotlandia dan kesebelasan yang kini berkompetisi di divisi empat Liga Skotlandia, Queen’s Park, sebagai penerima layanan telepon untuk pemesanan tiket.

Sembari bekerja, Robertson mencicil mimpinya sedari belia yakni menjadi pesepakbola. Dirinya pun ikut berlatih bersama Queen’s Park selama dua atau tiga kali seminggu untuk kemudian merumput di akhir pekan. Ketika itu, mimpi Robertson pastilah sederhana. Namun siapa sangka, beberapa tahun kemudian ia menjadi pesepakbola profesional sekaligus kapten timnas Skotlandia yang mengantar negaranya lolos ke Piala Eropa 2020. Kelolosan itu sendiri menyudahi absensi The Tartan Army dari turnamen mayor selama 22 tahun.

Robertson adalah bukti konkret ampuhnya gagasan semi-filosofis dari seorang penyair nyentrik keturunan Amerika-Jerman, Charles Bukowski. Ia terkenal dengan mottonya: Don’t try! Maksudnya tentu saja tidak harfiah. Bukowski mengatakan bahwa jika seseorang bergairah dengan pekerjaannya, ia tidak akan kesulitan mencoba atau bekerja keras untuk itu.

Ia akan menjalani pekerjaan itu sambil membiarkan hatinya membara dan berapi-api. Dan ia tidak akan pernah berhenti mengerjakan itu, singkatnya ia bicara soal passion. Jika seseorang cukup bergairah dengan suatu pekerjaan, maka pekerjaan itu tidak akan membuatnya kesusahan atau membuatnya berhenti. Asyiknya, keberhasilan akan datang menyertai.

Sejak kecil, Robertson adalah seorang pendukung setia Celtic FC, salah satu kesebelasan tersukses di Skotlandia. Ia sempat merangkai mimpinya jadi atlet sepakbola bersama akademi The Bhoys. Nahasnya, Robertson malah didepak gara-gara masalah fisik. Tubuhnya dinilai terlalu kecil dan dianggap takkan mampu bersaing sampai ke level senior.

Dalam sebuah wawancara yang ditulis oleh James Pearce, lelaki yang akrab disapa Robbo tersebut mengaku bahwa ia sangat kecewa dengan kejadian itu. Apalagi usianya baru menginjak 15 tahun kala itu. Ia butuh waktu setidaknya satu tahun buat memulihkan diri dari rasa kecewa.

BACA JUGA:  Surat Terbuka untuk Pendukung Liverpool Seluruh Dunia

Barulah kemudian ia memilih jalan lain yakni bergabung dengan Queen’s Park. Namun kekecewaan lagi-lagi menghantam Robertson karena di tahun pertamanya, ia sulit mendapatkan kesempatan. Selain itu, kubu The Spiders juga tak bisa memberi upah yang maksimal baginya. Akibatnya, Robertson mesti nyambi bekerja di bagian departemen korporasi klub. Pada masa inilah, cuitan legendaris tersebut lahir.

Akan tetapi, kaki Robertson enggan berhenti menyepak bola. Ia tetap bermain dan tekun berlatih. Gardner Speirs, mantan pelatih Queen’s Park, mengatakan bahwa waktu itu Robertson berlatih tiga kali seminggu di malam hari dan pada hari Sabtu diberi jatah main.

Usaha Robbo perlahan diakui. Ia menjalani debut sebagai seorang bek kiri di tim utama Queen’s Park pada Juli 2012 di usianya yang menginjak angka 18 tahun. Kesempatan ini membuat asa Robertson memiliki karier di kancah sepakbola kembali mengembang. Pasalnya, ia sempat ingin berhenti bermain bola dan menilik opsi kuliah.

Sejak saat itulah, kariernya makin menanjak secara perlahan. Dundee United jadi kubu pertama yang mengamankan jasanya dari Queen’s Park. Bersama tim ini pula, Robertson mulai menembus timnas Skotlandia. Bahkan ia dinobatkan sebagai PFA Player of The Year 2013 lantaran tampil bagus bersama Dundee.

Potensi bagusnya lalu terlacak Steve Bruce, pelatih Hull City, dalam rentang 2012-2016. Berbekal dana sekitar 3 juta Poundsterling, Robertson pun resmi dibajak The Tigers. Walau kedatangannya sempat dikritisi, tetapi ia beraksi cukup opimal bareng Hull. Namun sial, di pengujung musim, Robertson harus menelan pil pahit karena tim yang ia bela mesti terelegasi ke divisi Championship.

Kendati demikian, penampilan Robertson sepanjang musim tersebut dinilai apik. Salah seorang rekan setimnya di Hull, Hatem Ben Arfa, menyatakan kalau performa The Tigers memang buruk, tetapi ada satu pemain yang dinilainya super bagus yaitu Robertson. Hal itu diutarakan Ben Arfa dalam acara Totally Football Show.

Pasca-sukses membawa Hull promosi lagi ke Liga Primer Inggris, nama Robertson kian diperhitungkan oleh klub-klub papan atas. Salah satu peminatnya tentu saja Liverpool yang dinakhodai Jurgen Klopp. Tepat pada 27 Juli 2017, ia menulis satu sejarah penting dalam hidupnya dengan bergabung ke Liverpool.

BACA JUGA:  Totalitas James Milner

Meski sempat diragukan oleh fans, tetapi Klopp menyatakan bahwa Robertson adalah pemain yang sangat berguna untuk tim. Pemuda berpostur 178 sentimeter ini adalah jawaban dari pencarian The Reds tentang bek kiri berkemampuan hebat.

Seiring waktu, kita tahu bahwa apa yang diucapkan Klopp terbukti. Robertson jadi bagian integral tim yang mampu mendatangkan kesuksesan dalam beberapa tahun pamungkas. Bersama Liverpool, Robbo telah menjuarai Liga Primer Inggris, Liga Champions, Piala Super Eropa, Piala Dunia Antarklub, dan sejumlah penghargaan individu. Berkat penampilan cemerlang itu juga, Robertson dipercaya sebagai kapten timnas Skotlandia.

Don’t try!

Itulah pesan yang saya kira paling pas untuk menggambarkan kisah petualangan Robertson. Gairahnya terhadap sepakbola tidak muncul dari keterpaksaan, tetapi murni berasal dari kecintaannya terhadap sepakbola.

Karya-karya Bukowski dianggap ampas dan sampah hampir di separuh hidupnya. Tidak ada penerbit yang mau menggubris naskah-naskahnya. Namun ia tidak berhenti menulis. Bagi Bukowski, menulis adalah hidupnya. Ia pernah mengatakan jika esok hari tidak menulis bait puisi berikutnya, maka bisa dipastikan ia sudah mati.

Setali tiga uang, Robertson juga memperlihatkan ceritera serupa. Penolakan dan keraguan menghantamnya, tetapi ia tetap bermain dan berlatih. Ia tidak perlu ‘kerja keras’ menjalani itu semua sebab ia memiliki gairah tinggi dalam melakoninya.

Jika Bukowski mati karena berhenti menulis, maka Robertson mati karena berhenti bermain sepakbola. Dan alasan itulah yang kini membawa pemuda buangan nan kere itu ke puncak kariernya. Ya, Robertson tidak pernah berhenti mencoba.

You “don’t try”. That’s very important: not to try, either for Cadillacs, creation or immortality. You wait, and if nothing happens, you wait some more. It’s like a bug high on the wall. You wait for it to come to you. When it gets close enough, you reach out, slap out and kill it. Or if you like it’s looks, you make a pet out of it.”

Komentar
Seorang mahasiswa yang menggilai sepakbola. Bisa disapa via akun Twitter @ultracheezee