Maaf Rossi, Tidak Ada Keajaiban di Valencia

Keajaiban. Itu yang dicari-cari. Sayang, ia enggan datang ke Valencia. Ketika segala daya sudah dikerahkan semaksimal mungkin, akal sehat tiba-tiba mengiba pada harapan. Dan ketika kenyataan sedemikian jauh dari harapan, maka harapan itulah yang kemudian berubah jadi keyakinan.

Itu keyakinan yang sama ketika para pendukung Valentino Rossi yakin bahwa The Doctor bakal juara dunia meski persentase kemungkinannya semakin menipis di tiap lap yang dihabiskan di sirkuit Ricardo Tormo, Valencia.

Harapan yang kemudian berubah jadi doa; andai Jorge Lorenzo Jatuh, andai Marc Marquez dan Dani Pedrosa jatuh, atau—minimal—andai terjadi hujan yang bakal membuat hasil balapan sulit diprediksi.

Maka wajar, ketika Lorenzo sudah secara resmi menasbihkan diri jadi sang juara dunia musim ini, suara pendukung Rossi tetap menganggap junjungannya adalah juara sejati. Harapan itu benar-benar sudah jadi keyakinan, jadi bisa dibilang ia hampir setara dengan iman. Dan rasionalitas, sudah tidak lagi punya tempat di sana.

Oke, lepaskan dulu soal tragedi dua pekan sebelumnya, soal “konspirasi rider Spanyol”, atau soal Marquez yang dianggap jadi patwal motor Lorenzo. Lupakan dulu soal itu.

Kekalahan memang menyakitkan. Semakin menyakitkan lagi jika kekalahan itu diperoleh ketika kemenangan sudah bisa tercium aromanya. Terutama ada perasaan bahwa kegagalan ini tidak seharusnya terjadi.

Milanisti sedunia pernah merasakannya, dan tidak mungkin melupakannya. Bahkan saya masih suka gemetar ketika mendengar kata-kata ini; Istanbul, final, skor 3-3.

Itu adalah salah satu final paling sulit dilupakan bagi saya—dan mungkin bagi Milanisti sedunia. Di sisi lain, di situlah saya percaya bahwa keajaiban memang kadang datang ketika tidak begitu diharapkan.

Dan bagi AC Milan, itu jelas bukan keajaiban, melainkan sebuah tragedi. Paolo Maldini mengingat final Liga Champions 2005, di Istanbul, sebagai pertandingan yang paling mengiris hati sepanjang karirnya. Perih yang tidak bisa dijelaskan lagi—terutama karena ia adalah pencetak gol pertama bagi Milan di pertandingan tersebut dan ia juga seorang kapten.

Di sisi lain, bagi Liverpudlian dan seorang Steven Gerrard; malam itu adalah malam penuh mukjizat. Keajaiban benar-benar datang ke Istanbul.

Apakah kemudian saya punya harapan yang tidak lagi masuk akal seperti yang dialami sebagian pendukung Vale? Ya, tentu saja.

Andai Dida menghalau tendangan penalti Xabi Alonso lebih jauh—sehingga bola muntah tidak bisa lagi dimanfaatkan jadi gol, andai Gerrard tidak melakukan diving ketika disentuh Gennaro Gattuso, dan andai pertandingan final malam itu cuma berlangsung di babak pertama.

Dan ketika harus menyaksikan Maldini dan Andriy Shevchenko menatap nanar Milan Baros, Vladimir Smicer, atau Jerzy Dudek bersorak, rasanya ada semacam perasaan; “Kalian tidak pantas menang, kalian cuma beruntung!”

Tapi sayang, itu semua hanya ada dalam bingkai “seandainya”, dan di realitas sesungguhnya saya harus percaya, bahwa ini memang sesuatu yang harus diterima dengan lapang dada. Sebab kalau tidak, hal itu justru akan membunuhmu—atau paling tidak membuatmu semakin malu.

Menyukai AC Milan memang tidak secara otomatis menyukai negara asalnya; Italia. Tapi itu berlaku bagi saya. Alasan saya suka Italia adalah alasan yang sama ketika saya suka sepak bola; tidak ada.

BACA JUGA:  Merah Hitam Sandro Tonali

Ya, sudah, tiba-tiba senang begitu saja. Dan saya sempat gamang ketika harus memilih menyukai Italia karena menganggap negara ini adalah negara yang selalu sial ketika ikut turnamen akbar internasional.

Saya masih kanak ketika Roberto Baggio gagal mengeksekusi penalti terakhir di final Piala Dunia 1994 ke gawang Claudio Taffarel. Saya menyaksikan bagaimana Sylvain Wiltord merebut tarian kemenangan Italia di final Piala Eropa 2000, dan saya begitu marah ketika kartu merah kontroversial Fransesco Totti di perdelapan final Piala Dunia 2002 saat melawan tuan rumah Korea Selatan.

Kesialan-kesialan ini membuat saya kemudian tidak punya apa-apa yang dibanggakan ketika menantikan kiprah Gli Azzurri di Piala Dunia 2006, Jerman.

Tentu saja, tidak ada yang bisa diharapkan, tuan rumah begitu digdaya bersama Jurgen Klinsmann, Brasil begitu meriah dengan kualitas skuat bintang enam di segala lini, dan Argentina punya Roman Riquelme, Carlos Tevez, dan alien kecil Lionel Messi, Prancis masih diperkuat Thierry Henry, Patrick Viera, Claude Makalele, dan—tentu saja—Zinedine Zidane, dan Inggris yang selalu jadi kandidat juara di setiap ada pentas Piala Dunia.

Apalagi Italia datang dengan luka calciopolli di Serie A. Sekalipun punya tren positif di Piala Dunia 1982 atas kasus yang hampir sama, namun rasanya terlalu kebetulan jika hanya karena kasus itu kemudian Italia bisa tiba-tiba diharapkan jadi juara dunia.

Dan sial! Keajaiban yang tidak pernah saya harapkan itu, malah benar-benar datang ke Berlin, di malam final itu.

Kemenangan yang bisa mengalahkanmu

“That which does not kill us makes us stronger,” kata Friedrich Nietzsche. Apa pun yang tidak membunuh kita, membuat kita akan lebih kuat. Dan itu dialog yang sedikitnya pernah dilontarkan juga dari Bane kepada Batman di Film The Dark Knight Rises.

Tentu dengan intonasi dan logika yang similiar, tapi dengan kausalitas yang di balik; “Kedamaian telah merenggut kekuatanmu! Kemenangan telah mengalahkanmu!” Dan kalau kamu menyaksikan film karya Christoper Nolan itu, Batman benar-benar dihabisi. Bukan oleh Bane musuhnya, tapi oleh kemenangannya sendiri. Kemenangannya di masa lalu—artinya di filmnya yang terdahulu.

Dan itulah yang tergambar dari hasil final Piala Eropa 2012. Final antara Spanyol melawan Italia. Ini bukan pertemuan pertama keduanya di turnamen ini. Sebelum sampai laga puncak, di babak grup, nama besar tiki-taka Spanyol berhasil diredam oleh pengalaman para pemain gaek Italia.

Skor 1-1 di pertandingan pertama babak grup tidaklah menggambarkan betapa dahsyat pertandingan ini. Bahkan pemain semacam Mario Balotelli sekalipun tidak punya tempat di pertandingan ini dan harus digantikan Antonio Di Natale—yang siapa sangka malah mencetak gol, sebelum akhirnya disamakan Cecs Fabregas dalam formasi 4-6-0 yang fenomenal itu.

Di laga puncak, wajah-wajah tegang tak tampak dari wajah Andrea Pirlo dan kawan-kawan. Mereka rileks dan begitu percaya diri. Wajar saja, Italia baru saja menggilas tim paling diunggulkan saat itu; Jerman. Dengan skor 2-1 di semifinal.

BACA JUGA:  Bagaimana Hidupmu Nanti di Liverpool, Jurgen?

Selain itu, Mario Balotelli yang selama turnamen tidak begitu memberi dampak signifikan, akhirnya berhasil menunjukkan tajinya sebagai pemain kulit hitam pertama Italia yang berpotensi mendapatkan gelar juara Internasional dengan dua golnya ke gawang Manuel Neuer.

Ini jelas kontras dengan David Silva, Cesc Fabregas, dan anak-anak Spanyol yang begitu tegang karena baru memastikan lolos ke final setelah menang adu penalti melawan timnas Cristiano Ronaldo di semifinal. Ini pemandangan yang begitu berbeda dengan pertandingan di babak grup.

Saat itu, Italia begitu tegang karena Spanyol adalah juara bertahan yang semakin kuat dari tahun ke tahun, sedang saat final, justru Spanyol yang begitu tegang karena menyadari; Italia pasti punya sesuatu yang membahayakan bagi skuat Vicente Del Bosque.

Dan sepertinya prediksi itu terbukti tepat. Italia memang punya sesuatu yang membahayakan. Bukan untuk Spanyol, tapi untuk diri mereka sendiri. Skor akhir 4-0 menggambarkan betapa minimnya persiapan Italia menghadapi sang juara bertahan.

Giorgio Chillieni cedera, Thiago Motta cedera setelah hanya berada di lapangan selama empat menit karena bermain sebagai pengganti, dan Italia harus bermain dengan 10 pemain bukan karena kartu merah, tapi jatah pergantian pemain yang habis.

Pertandingan praktis sudah berakhir ketika Motta digotong oleh tim medis. Tapi Vicente tidak mau lengah, ia tidak ingin jadi Carlo Ancelotti di Istanbul. Piala belum didapatkan sebelum wasit meniupkan tanda pertandingan berakhir.

Maka bisa dipahami ketika ia kemudian memutuskan memasukkan Fernando Torres dan Juan Matta—yang keduanya menambah dua gol di babak kedua. Ini semakin memastikan kuburan bagi Italia semakin dalam agar semakin sulit untuk mereka bangkit lagi dan membalikkan keadaan.

Kepastian inilah yang juga ingin diciptakan oleh “duo Spanyol” (kalau tidak mau mengatakan “trio”) di balapan pamungkas Moto GP pekan lalu (8/11). Jorge Lorenzo, Marc Marquez, dan Dani Pedrosa benar-benar mengubur segala potensi keajaiban yang bakal muncul dari Italia (baca: Rossi) di Valencia.

Sekalipun di atas kertas Lorenzo memegang kendali balapan, namun hal-hal terburuk bisa saja terjadi dan Rossi bisa saja membuatnya merasa jadi pecundang seumur hidup yang takluk di detik-detik akhir.

Maka sebelum itu terlihat mungkin terjadi, Lorenzo perlu memastikan “membunuh” Rossi dengan segala potensi keajaiban-keajaiban yang muncul. Kekuatan Rossi memang luar biasa, ia bisa menyodok dari posisi buncit ke posisi empat kurang dari 16 lap.

Ketika kemudian balapan terlihat akan semakin seru, tensi tiba-tiba meredup karena keajaiban yang diyakini akan datang, ternyata benar-benar tidak kunjung datang. Marquez sukses megantarkan rekan senegaranya ke podium juara dunia.

Lilin harapan yang dipanjatkan pun meredup pelan-pelan. Dan pada akhirnya, permintaan maaf dari malaikat pemberi mukjizat bagi Gerrard dkk di Istanbul pun membisik, “Maaf Valentino, kali ini tidak ada lagi keajaiban Istanbul di Valencia. Sebab lawanmu telah mengantisipasi kedatanganku.”

 

Komentar
Lahir di Jogja tapi besar dan belajar cinta sepak bola dari Pelita Solo dan Persijatim Solo FC. Tukang modifikasi dan renovasi kalimat di Indie Book Corner (IBC). Masih bermimpi jadi atlet kayang pertama yang berlaga di UFC World Champion. Biasa nggambleh di @dafidab