Arteri Arsenal Bernama Arteta

Saya mulai menggandrungi sepakbola Eropa ketika para pemain seperti Filippo Inzaghi, Alessandro Nesta, Francesco Totti dan Zinedine Zidane sedang jaya-jayanya. Pada akhir 1990-an sampai pertengahan 2000-an, karier mereka merekah layaknya jejeran bunga mawar di taman.

Nama-nama di atas mengharumkan klub atau bahkan negaranya masing-masing dengan kontribusi gol-gol cantik, umpan kunci menawan sampai tekel-tekel brilian yang menghasilkan trofi.

Tak terasa, dua dekade telah berlalu. Meski rasanya baru kemarin saya melihat Inzaghi mencetak gol-gol nyeleneh. Pun begitu dengan tarian magis Zidane saat menguasai bola. Kini mereka sudah duduk di bangku cadangan tapi dengan status pelatih.

Ada yang beruntung dan memiliki karier kepelatihan cemerlang seperti ketika mereka bermain. Namun ada yang nasibnya tidak semujur ketika masih berpeluh keringat di atas lapangan hijau. Alhasil, banyak dari mereka yang harus menelan pil pahit pemecatan.

Di Liga Primer Inggris, beberapa klub elite juga ditangani mantan pemain mereka. Sebut saja Frank Lampard di Chelsea dan Ole Gunnar Solskjaer di Manchester United.

Langkah dua tim itu sendiri diekori Arsenal yang baru saja menunjuk bekas penggawanya, Mikel Arteta, sebagai pelatih anyar. Lelaki berdarah Spanyol itu resmi menggantikan posisi kompatriotnya, Unai Emery, yang dipecat bulan November lalu.

Ada benang merah di balik pengangkatan Arteta oleh The Gunners dengan Lampard bareng The Blues maupun Solskjaer bersama The Red Devils. Selain mengenal jeroan bekas klubnya masing-masing, ketiga sosok tersebut dinilai punya kemampuan untuk membawa timnya bangkit dari keterpurukan.

Kondisi Arsenal memang tengah gawat darurat dan Arteta digadang-gadang bisa menjadi dokter yang dapat menyembuhkan penyakit di tubuh klub asal London Utara tersebut.

Tatkala masih merumput, Arteta pernah jadi arteri di lini tengah The Gunners. Ia menjadi otak permainan Arsenal yang begitu diandalkan Arsene Wenger. Selain performa yang apik dan konsisten, bekas gelandang Real Sociedad ini juga pemimpin sejati yang amat disegani di atas lapangan. Tak heran bila ban kapten pernah melingkar di lengannya.

BACA JUGA:  Adakah Harapan Bagi Sepakbola Indonesia?

Di luar karakter itu, Arteta diyakini punya pengetahuan taktik mumpuni. Terlebih, dirinya sempat bekerja sebagai asisten pelatih dengan salah satu peramu strategi terbaik di dunia saat ini, Pep Guardiola, di Manchester City.

Pekerjaan yang mesti dibereskan Arteta tergolong banyak. Pertama, menentukan siapa kapten Arsenal di bawah rezimnya. Selama era Emery, ban kapten terus berpindah-pindah dari lengan Petr Cech, Laurent Koscielny, Mesut Özil, Aaron Ramsey sampai Granit Xhaka. Nahasnya, nama terakhir sempat menyiram bensin ke dalam api saat bersitegang dengan suporter Arsenal.

Memilih figur pemimpin yang tepat di ruang ganti adalah keharusan yang tak bisa ditawar. Setidaknya, keberadaan kapten berkarisma dan punya karakter pemimpin yang kuat bisa meringankan tugas Arteta sebagai pelatih.

Kedua, Arteta wajib membenahi aksi angin-anginan The Gunners yang menyebabkan mereka sekarang hanya nangkring di peringkat ke-11 klasemen sementara berbekal 23 poin dari 18 pertandingan.

Lini depan Arsenal sebetulnya cukup tajam via gelontoran 24 gol, tapi Arteta harus lebih mampu memaksimalkan kemampuan eksepsional Pierre-Emerick Aubameyang, Alexandre Lacazette, Gabriel Martinelli sampai Nicolas Pepe sebagai juru gedor sekaligus memperbesar peluang mengemas poin. Jangan sampai kelebihan dari keempat figur tersebut sia-sia.

Sementara lini pertahanan The Gunners merupakan salah satu yang paling bobrok karena telah kemasukan 27 gol sejauh ini. Arteta kudu sesegera mungkin menemukan ramuan terbaik guna membentengi Bernd Leno di bawah mistar.

Arteta mewarisi pertahanan lemah peninggalan Emery, di mana tim ini menderita 15 gol akibat kesalahan sendiri. Membenahi hal tersebut jadi kewajiban Arteta kalau ingin masa kerjanya tak berujung singkat di Stadion Emirates. Tak peduli bahwa mereka saat ini hanya memiliki David Luiz dan Sokratis Papastathopoulos sebagai bek tengah andalan. Sementara itu, Rob Holding belum pulih 100 persen dari cedera. Calum Chambers masih bimbang dengan posisi idealnya serta Shkodran Mustafi yang lebih cocok menjadi pelawak ketimbang pesepakbola.

BACA JUGA:  Arsenal vs Chelsea: Adu Sakti Dua Azimat

Tiga tahun menjadi tangan kanan Guardiola di staf kepelatihan City bisa dijadikan modal bagi Arteta untuk memperbaiki permainan Arsenal. Paling tidak, ilmu yang didapatkannya sebagai asisten dapat ia implementasikan demi mengatrol penampilan The Gunners saat bertanding.

Periode suram di bawah rezim Emery akhirnya selesai. Fans Arsenal kini berharap supaya Arteta bisa membangkitkan kesebelasan perengkuh 13 gelar Piala FA tersebut sekaligus memulihkan nama besarnya.

Uniknya, sebelum debut Arteta dimulai, ada begitu banyak tanda pagar #ArtetaOut yang menjadi trending topic di jagad Twitter. Hal ini dianggap sebagai satire karena pendukung setia The Gunners makin terbiasa dengan ketidakpuasan akan kinerja dari pelatih tim kesayangan mereka. Siapa yang bisa lupa dengan tanda pagar #WengerOut dan #EmeryOut nan legendaris itu?

Kedatangan Arteta menghadirkan harapan baru di benak suporter Arsenal. Melihat tim kesayangan mereka tampil baik dan menang secara konsisten jelas memompa semangat untuk terus berjuang.

Fans Arsenal sangat berharap #ArtetaOut tidak menjadi kenyataan sebab mereka sudah lelah menjadi sasaran hinaan. Sudah waktunya The Gunners bangkit dari keterpurukan dan jadi kesebelasan tangguh layaknya dahulu. Menjadi arteri klub, walau dalam versi berbeda, adalah keharusan bagi pria berusia 37 tahun tersebut kalau ingin perjalanan kariernya semakin mulus.

 

Komentar
Penggemar berat Chelsea dan pernah mencintai sepenuh hati AC Milan, serta bisa disapa di akun Twitter @blues_honeyfah.